Konten dari Pengguna

Ancaman Investasi Masa Depan di Balik Angka

ARINAFRIL
Doktor Biogeografi Lulusan Universitaet des Saarlandes, Saarbruecken, Jerman / Dosen Proteksi Tanaman, Universitas Sriwijaya / Dosen Tamu Truong Dai hoc Nong Lam, Thai Nguyen, dan Peneliti Tamu Vietnam Academy of Science & Technology, Hanoi, Vietnam
16 Desember 2025 11:41 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ancaman Investasi Masa Depan di Balik Angka
Rendahnya literasi menghambat inovasi. Pelaku ekonomi bergantung pada pola konvensional, gagal manfaatkan teknologi. Ekosistem lemah: minim modal, mentor, jalur komersialโ€”ide brilian mandek.
ARINAFRIL
Tulisan dari ARINAFRIL tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengapa Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga dan bahkan dari negara-negara berkembang lainnya? Salah satu jawaban utama terletak pada rendahnya tingkat literasi dan kompetensi dasar masyarakat Indonesia.
Banyak data dan survei internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca, berhitung, dan berpikir kritis di Indonesia masih jauh di bawah standar yang diperlukan untuk bersaing di era global saat ini.
Ketika kita berbicara tentang literasi, sebenarnya bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan memahami informasi, menganalisisnya secara kritis, dan menggunakannya secara efektif dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan inovasi. Sayangnya, kondisi ini masih menjadi tantangan besar di tanah air.
Literasi dan Inovasi
Rendahnya tingkat literasi ini memiliki dampak yang sangat luas. Tanpa fondasi literasi yang kuat, masyarakat Indonesia kesulitan dalam mengembangkan kompetensi yang lebih tinggi, seperti kemampuan berpikir kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan teknologi yang pesat.
Anak-anak sejak usia dini harus sudah dilatih bersosialisasi untuk lebih mudah bergaul di dunia global. (Foto: Pribadi)
Banyak pelaku usaha, mahasiswa, dan tenaga kerja di Indonesia yang belum mampu menguasai keterampilan dasar digital, manajemen, maupun kewirausahaan. Mereka cenderung bergantung pada pola pikir konvensional yang tidak mampu memanfaatkan kemajuan teknologi maupun peluang pasar global. Akibatnya, inovasi nasional pun menjadi stagnan, dan bangsa ini semakin tertinggal dari negara-negara lain yang lebih dulu melakukan transformasi pendidikan dan ekonomi berbasis inovasi.
Selain itu, budaya inovasi di Indonesia masih belum berkembang secara masif. Banyak riset dan inovasi yang berhenti di tahap awal karena kurangnya ekosistem yang mendukung. Modal, infrastruktur, jaringan kolaborasi, serta akses pendanaan masih menjadi hambatan utama.
Banyak inovator muda dan mahasiswa memiliki ide brilian, tetapi mereka seringkali terhambat oleh minimnya dukungan, mentor, dan jalur yang jelas untuk mengembangkan dan memasarkan inovasi mereka. Fenomena ini menyebabkan inovasi mandek dan ketergantungan terhadap model ekonomi konvensional yang lambat beradaptasi dengan perubahan zaman.
Perubahan Paradigma
Salah satu faktor utama penyebab dari semua permasalahan ini adalah sistem pendidikan yang belum mampu mengubah paradigma dari sekadar penghafalan menjadi pembelajaran yang berbasis pada pengembangan kompetensi, kreativitas, dan problem solving.
Kurikulum yang terlalu berorientasi pada materi akademik dan ujian standar membuat siswa kurang terpapar pengalaman belajar yang menstimulasi inovasi dan kritisisme. Sekolah dan perguruan tinggi seringkali menjadi tempat yang memperkuat budaya menghafal dan mengikuti aturan, bukan tempat yang mendorong mahasiswa dan pelajar untuk berpikir terbuka, melakukan eksplorasi, dan menciptakan solusi inovatif terhadap masalah nyata yang mereka hadapi.
Mengatasi tantangan besar ini tidak cukup hanya dengan reformasi parsial. Diperlukan sebuah perubahan sistemik yang menyeluruh dan berkelanjutan. Pemerintah harus memperkuat program literasi sejak usia dini melalui kurikulum yang inovatif dan menarik, memanfaatkan teknologi digital, media interaktif, dan kegiatan membaca aktif yang menyenangkan.
Guru dan tenaga pendidik perlu dipersiapkan dan didukung secara berkelanjutan agar mampu mengajarkan literasi secara efektif dan menyenangkan, sehingga anak-anak tidak lagi merasa terbebani dan justru tertarik untuk belajar.
Gerakan Literasi Sekolah (Sumber: Disdikpora Buleleng)
Kompetensi dan Kurikulum
Di saat yang sama, pengembangan kompetensi dasar dan soft skills harus menjadi fokus utama dalam proses pendidikan. Pendidikan harus diarahkan agar mampu meningkatkan kecakapan praktis, seperti berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan kewirausahaan. Program inkubasi, pelatihan berbasis kompetensi, serta pengalaman langsung melalui magang dan proyek nyata harus diintegrasikan dalam kurikulum.
Sekolah dan universitas tidak lagi sekadar tempat menyalurkan ilmu pengetahuan akademik, tetapi harus menjadi tempat yang mendorong eksplorasi ide dan penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Transformasi kurikulum menjadi lebih berbasis kompetensi dan pengalaman belajar kontekstual sangat penting agar generasi muda mampu memecahkan masalah nyata dan menciptakan solusi inovatif. Model pembelajaran berbasis proyek, problem-based learning, dan kolaborasi lintas disiplin harus menjadi standar.
Perguruan tinggi harus didorong untuk membangun pusat inovasi dan riset yang mampu mentransfer ilmu pengetahuan ke dalam produk, jasa, atau solusi nyata yang dapat dikomersialkan. Ekosistem riset dan inovasi ini harus didukung oleh pemerintah melalui dana riset yang besar, insentif fiskal, serta kemudahan proses perlindungan kekayaan intelektual.
Kolaborasi dengan Dunia Industri untuk Meningkatkan Ekosistem Inovasi
Selain itu, kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi dan dunia industri harus diperkuat, sehingga lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan ilmunya secara praktis. Melalui program magang, mentorship, dan pelatihan langsung, mahasiswa akan lebih memahami kebutuhan pasar dan mampu berkontribusi dalam pengembangan inovasi berbasis teknologi dan solusi nyata.
Pemerintah harus berperan aktif sebagai katalisator dengan mempercepat reformasi kebijakan, memperbesar dana riset, serta memudahkan akses pendanaan dan perlindungan hak kekayaan intelektual.
Sektor swasta juga harus terlibat secara aktif dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Mereka perlu memberikan pendampingan, dana, serta jaringan pengembangan usaha dan inovasi. Program inkubasi dan akselerasi startup harus didorong secara agresif agar inovasi dari mahasiswa dan pelaku usaha muda mampu berkembang dan bersaing secara global.
Melalui kolaborasi yang sinergis antara pemerintah, swasta, dan institusi pendidikan, Indonesia dapat membangun ekosistem inovasi yang kokoh dan berkelanjutan.
Penutup
Pada akhirnya, langkah besar ini harus diiringi oleh tekad dan kesadaran kolektif bahwa masa depan bangsa ini sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mampu berinovasi dan berkompetisi. Bangsa ini tidak bisa lagi bergantung pada sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Indonesia harus mampu bertransformasi menjadi bangsa yang inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Jika generasi muda diberdayakan dengan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi, maka bangsa ini memiliki peluang besar untuk keluar dari keterbelakangan dan meraih masa depan yang lebih cerah. Saatnya bertransformasi, berinovasi, dan bangkit bersama demi masa depan bangsa yang lebih gemilang.
Trending Now