Konten dari Pengguna

Topi Fez dan Modernisasi Kesultanan Utsmaniyah

Arya Alifa Mukti
B.A in International Relations of Sakarya University, Turkiye
30 Juli 2025 14:35 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Topi Fez dan Modernisasi Kesultanan Utsmaniyah
Topi fez diperkenalkan sebagai simbol modernisasi oleh Sultan Mahmud II, mencerminkan upaya Kesultanan Utsmaniyah menciptakan identitas nasional baru melalui reformasi dan visualisasi keseragaman.
Arya Alifa Mukti
Tulisan dari Arya Alifa Mukti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada awal abad ke-19, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) mulai menghadapi tekanan internal dan eksternal yang semakin besar, baik berupa kekalahan militer, keretakan administratif, maupun desakan Eropa terhadap perubahan struktural (Hanioğlu, 2008). Dalam konteks inilah, masa pemerintahan Sultan Abdülmecid I (1839–1861) menjadi titik penting lahirnya gerakan modernisasi yang dikenal dengan nama Tanzimat, atau "reorganisasi."
ProklamasiGülhane Hatt-ı Şerif (1839), yang menjadi fondasi Tanzimat, menandai dimulainya serangkaian reformasi administratif, hukum, ekonomi, hingga sosial yang berorientasi pada model negara-negara Eropa Barat.
Seorang pria menggunakan fez di abad 18, sumber : Kecerdasan Buatan
Tujuan utama dari Tanzimat adalah menyelamatkan kekaisaran dari kemunduran, dengan cara memperbarui struktur negara agar lebih efisien, rasional, dan terpusat. Salah satu aspek simbolik yang paling mencolok dari upaya modernisasi ini adalah reformasi dalam hal berpakaian, termasuk penggantian turban tradisional dengan topi Fez, yang telah diperkenalkan secara lebih sistematis sebelumnya oleh Sultan Mahmud II (ayah Abdülmecid I). Dalam konteks Tanzimat, Fez dijadikan simbol identitas sipil baru yang sekuler, seragam, dan mencerminkan kesetaraan di bawah hukum negara, bukan di bawah identitas agama atau etnis.
Kiri : Abdülmecid I, Kanan : Selim II, sumber : Internet

Berkenalan dengan Fez

Topi Fez di sebuah toko di Istanbul, sumber : koleksi pribadi
Topi Fez, atau dikenal juga dengan sebutan tarboosh, adalah penutup kepala berbentuk silinder pendek tanpa pinggiran, biasanya berwarna merah tua, terbuat dari kain wol yang dipadatkan (felt), dan sering kali dihiasi dengan umbai hitam (tassel) di bagian atasnya. Desainnya yang khas dan sederhana menjadikan Fez mudah dikenali dan sarat makna simbolik, baik dalam konteks budaya, sosial, maupun politik. Asal-usul Fez masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan dan budaya populer. Di wilayah Balkan, terutama Yunani, terdapat klaim bahwa Fez berasal dari tradisi lokal mereka.
Namun, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa Fez berasal dari Afrika Utara, khususnya Maroko. Mengutip Abu Musa Karimov dalam tulisannya berjudul “Moroccan Cultural Attire Explained – Tarboosh, The Fez Hat, Morocco’s Iconic Symbol”, nama “Fez” diambil dari kota Fès, yang dikenal sebagai pusat produksi zat pewarna alami berwarna merah tua yang berasal dari buah beri lokal.
Pewarna ini digunakan secara luas dalam pembuatan topi tersebut, menjadikan kota Fès identik dengan tarboosh itu sendiri. Karimov juga menelusuri bahwa penggunaan Fez secara historis mulai populer pada awal abad ke-19, ketika masyarakat Arab di Malta mulai mengenakannya.
Lebih jauh lagi, ia menyebut bahwa akar sejarah Fez bahkan bisa ditarik ke masa ketika bangsa Persia memperkenalkan bentuk awal penutup kepala ini kepada masyarakat Afrika Utara, sebelum berkembang menjadi simbol budaya dan identitas nasional di berbagai wilayah Islam.
Karimov menjelaskan bahwa di Maroko, Fez bukan sekadar penutup kepala biasa, melainkan memiliki makna simbolik yang mendalam sebagai bagian dari identitas nasional. Dalam lintasan sejarahnya, Fez dikenakan oleh para tokoh nasionalis Maroko dan menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan Prancis.
Keberadaannya tidak hanya menandai kedekatan dengan budaya lokal dan agama Islam, tetapi juga menunjukkan pernyataan politik atas kedaulatan dan martabat bangsa Maroko. Hingga kini, Fez masih digunakan secara luas oleh masyarakat umum dan tetap menjadi bagian penting dari busana resmi Kerajaan Maroko, khususnya dalam acara-acara kenegaraan.
Namun, Karimov juga mencatat bahwa popularitas Fez mengalami penurunan sejak tahun 1950-an, terutama karena beberapa negara Arab melarang penggunaannya sebagai bagian dari agenda sekularisasi atau modernisasi negara.
Di sisi lain, makna simbolik Fez mulai kehilangan relevansi di kalangan generasi muda, yang lebih memilih gaya busana yang dianggap lebih praktis dan global. Meski demikian, di beberapa negara seperti Maroko dan komunitas diaspora, Fez tetap bertahan sebagai warisan budaya yang sarat makna sejarah dan identitas.

Fez dan Utsmani: Simbolisasi sebuah Modernitas

Dalam makalahnya “The Invention of Tradition as Public Image in the Late Ottoman Empire, 1808 to 1908” (1993), Dr. Selim Deringil menyoroti bagaimana fez, topi asal Maroko, dijadikan alat politik dan budaya oleh Kekaisaran Ottoman untuk mengonstruksi citra modernitas yang diinginkan negara.
Menurut Deringil, fez bukanlah warisan asli masyarakat Ottoman, melainkan simbol yang sengaja diciptakan oleh negara, sebuah bentuk invention of tradition—konsep yang juga berlaku pada kilt di Skotlandia (Hobsbawm, 1983). Keduanya adalah simbol yang awalnya asing, namun kemudian diadopsi, dipopulerkan, dan dimaknai ulang hingga menyatu dalam identitas nasional masing-masing.
Pengenalan fez oleh Sultan Mahmud II merupakan bagian integral dari proyek modernisasi Kekaisaran Ottoman yang dikenal sebagai Tanzimat (1839–1876), yang tidak hanya menyasar bidang administrasi dan hukum, tetapi juga aspek visual dan simbolik dari kekuasaan.
Deringil menjelaskan bahwa fez digunakan sebagai instrumen negara untuk menciptakan tampilan publik yang tertib, rasional, dan setara—karena fez menggantikan serban yang sebelumnya menandai perbedaan status sosial, agama, dan kelas dalam masyarakat.
Fez berfungsi sebagai simbol kesetaraan dalam visi Ottomanisme, yakni gagasan identitas supranasional yang melampaui batas-batas etnis dan agama. Dengan menghilangkan penanda sosial yang sebelumnya melekat pada kepala warga—seperti bentuk sorban tertentu untuk ulama, pejabat, atau kelompok etnis—fez menghadirkan sebuah penampilan yang seragam dan netral.
Dalam konteks ini, fez menjadi semacam “seragam ideologis” yang merepresentasikan kesatuan dalam keberagaman. Deringil menekankan bahwa pilihan terhadap fez tidak didasarkan pada unsur religius, etnik, ataupun afiliasi politik tertentu. Sebaliknya, fez dipilih karena sifatnya yang universal, tidak memihak, dan dapat mewakili seluruh rakyat Kekaisaran.
Lebih jauh lagi, Deringil memandang fez sebagai bagian dari bahasa visual Kesultanan yang sengaja dirancang untuk menandingi simbol-simbol modernitas Barat yang semakin mendominasi dunia abad ke-19. Di tengah tekanan kolonialisme dan orientalisme Eropa, penggunaan fez merupakan bentuk artikulasi visual dari modernitas versi Ottoman—yang berusaha tampil sebagai negara Muslim yang beradab, kuat, dan setara di panggung internasional.
Fez, dengan demikian, bukan hanya benda fashion, melainkan medium semiotik dalam pertarungan wacana antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas. Namun perlu diingat juga bahwa di waktu yang bersamaan dengan dimulainya penggunaan fez sebagai topi resmi, Kesultanan Utsmani juga mulai menggunakan pakaian setelan barat sebagai salah satu bentuk modernisasi di masa Tanzimat tersebut.
Akhirnya, menurut Dr. Selim Deringil, fez mencerminkan rekayasa simbolik yang dilakukan oleh negara untuk membentuk citra kolektif dan melegitimasi kekuasaan melalui visualisasi identitas modern. Ia adalah bukti bagaimana sebuah rezim dapat menciptakan narasi visual baru yang tampaknya alami, namun sebenarnya hasil konstruksi historis dan politis yang cermat.
Fez menjadi perwujudan modernitas Kesultanan Utsmani yang dirancang, bukan warisan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui fez, Kesultanan Utsmani menampilkan wajah yang baru: modern, sekuler, tertib, dan setara—meskipun semua itu dikonstruksi dari atas melalui kebijakan simbolik yang sangat terencana.
Trending Now