Konten dari Pengguna

Selamat Datang (Calon) Mahasiswa

Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) - Guru Besar Statistika FMIPA Institut Pertanian Bogor (IPB)
8 Desember 2022 9:40 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Selamat Datang (Calon) Mahasiswa
Selamat datang calon mahasiswa. erikhtiarlah dengan sabar dan benar. Jauhi praktek serba instan dan jalur-jalur yang tidak mencerminkan nilai-nilai akademik.
Asep Saefuddin
Tulisan dari Asep Saefuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
UAI Siapkan Mahasiswa Menjadi SDM Unggul Indonesia untuk Persaingan Global. Foto: Dok. UAI
zoom-in-whitePerbesar
UAI Siapkan Mahasiswa Menjadi SDM Unggul Indonesia untuk Persaingan Global. Foto: Dok. UAI
Bagi para pemburu kampus impiannya, termasuk mereka yang hari ini berada di kelas XII SMA/sederajat, waktu untuk mengikuti proses seleksi menjadi mahasiswa baru terasa sangat dekat. Ditambah lagi dengan hadirnya aturan yang baru. Dag dig dug.
Seperti kita ketahui bersama, sebagai ikhtiar untuk menyelaraskan proses pembelajaran antara pendidikan menengah dengan pendidikan tinggi, Mendikbudristek, Mas Nadiem, telah meluncurkan ‘Transformasi Masuk Perguruan Tinggi Negeri’ melalui Merdeka Belajar episode 22.
Sesuai dengan Permendikbudristek No. 48 tahun 2022, jalur penerimaan mahasiswa baru masih sama seperti sebelumnya, yakni berdasarkan tes, prestasi, dan ujian mandiri. Untuk pengelolaannya, juga masih sama. Jalur prestasi dan tes disiapkan oleh tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), sementara untuk jalur mandiri dikelola oleh masing-masing Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Hanya saja, secara 'teknisnya' terdapat beberapa perubahan yang dianggap fundamental yang diantaranya bertujuan untuk menguatkan lulusan agar memiliki kompetensi yang holistik. Namun, pengelolaan ujian mandiri masih perlu dikaji ulang kemanfaatannya.
Tantangan kehidupan ke depan memang semakin berbeda. Kompetensi hidup tidak terbatas pada kemapanan akademik, namun banyak faktor pendukung lain yang tidak saling lepas. Oleh karenanya, dunia pendidikan — termasuk pendidikan tinggi — harus terus berbenah agar tidak terpaku dengan capaian-capaian hard skill. Apalagi kompetensi yang diajarkan masih "jadul".
Namun sebelum jauh bertutur tentang kompetensi yang holistik atau penguatan lintas disiplin keilmuan, pondasi - pondasi dasar yang menjadi penuntun kehidupan juga jangan diabaikan. Kompleksitas permasalahan yang ada harus terus diuraikan untuk segera dituntaskan. Bukan sebaliknya, menambah semrawutnya permasalahan yang ada.
Mencari jalan keluar yang tuntas terkait hadirnya para pengangguran intelektual alias lulusan Perguruan Tinggi (PT) belum pernah mencapai titik terang. Tidak tanggung-tanggung, angkanya masih sekitar 14 persen dari jumlah total angka pengangguran. Alih-alih, di tengah semangat membangun generasi di era digital, kabar hadirnya gelombang PHK pada startup digital yang ternama justru mencuat.
Belum lagi ketika kita berdialektika pada konteks penguatan idealisme dan jiwa nasionalismenya para lulusan yang telah dan mulai berkiprah di berbagai sektor. Baik di zona pemerintahan maupun swasta. Kompetensi yang mampu mengedepankan hajat bangsa daripada kepentingan pribadi atau kelompok menjadi sangat krusial untuk dimatangkan.
Tidak hanya masih bermunculannya para koruptor yang didominasi oleh mereka yang memiliki gelar kesarjanaan. Transaksi haram juga disinyalir mulai bergentayangan di PT itu sendiri. Kasus OTT salah satu rektor PTN beberapa waktu lalu menjadi bukti betapa sulitnya kampus untuk (kembali) tegak berdiri sebagai benteng moral dalam berbangsa dan bernegara.
Lebih menyedihkan lagi, kasus OTT tersebut berkaitan dengan adanya suap pada penerimaan mahasiswa baru. Sangat tepat jika kemudian beberapa prinsip yang digaungkan pada SNPMB saat ini diantaranya terkait dengan transparansi dan larangan konflik kepentingan agar bisa menghindari praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
Andai kita semua (mau) jujur. Praktik curang pada seleksi mahasiswa baru tidak hadir dadakan. Banyak waktu yang telah dilewatinya. Banyak juga pihak yang terlibat.
Ada akar masalah yang belum tuntas. Namun dengan dalih untuk pemenuhan agenda-agenda besar ‘pembangunan negara’, berpuluh tahun kampus tidak bisa berlepas diri dari berbagai kompetisi yang hanya berdasarkan standar kuantitas semata.
Kinerja-kinerja kampus dengan para dosennya lebih banyak terlihat hanya untuk mengamankan jenjang tangga kepangkatannya. Tidak heran, budaya kritis kampus sebagai mitra pemerintah mulai tenggelam dengan siklus pemenuhan angka kredit. Pun, pemenuhan-pemenuhan itu kadang tidak sepenuhnya berjalan dengan konsep yang ideal. Para dosen cenderung sibuk dengan BKD (Beban Kerja Dosen) dan SISTER semata.
Hadirnya praktik plagiat karya tulis atau jual beli karya tulis yang juga simultan dengan menjamurnya jasa-jasa publikasi yang berakhir dengan jurnal predator dan alamat palsu. Hal ini menjadi bukti nyata tembok-tembok idealisme PT itu mulai retak. Bisa jadi praktik-praktik ini sebagai akibat sistem penilaian kenaikan jenjang jabatan akademik yang penuh sesak dengan administrasi output, bukan outcome. Kalaupun ada outcome, masih di sekitar sitasi bukan dampak terhadap masyarakat.
Perlahan tapi menghancurkan, jika tidak ditangani dengan gerak cepat maka kampus tidak akan lagi dipandang sebagai wadah untuk mengasah ketajaman intelektualitas dan sensitivitas sosial. Kampus benar-benar hanya akan dipandang sebagai batu loncatan untuk meraih nilai sekaligus lembaran sertifikat yang bernama transkrip nilai dan ijazah.
Tidak usah heran akhirnya para orang tua mahasiswa mulai mencari jalan pintas agar anaknya diterima di kampus tujuan. Entah itu dengan menjual nama keluarga atau kerabat yang kebetulan lagi berkuasa atau dengan iming-iming ‘terimakasih.’
Dengan kondisi yang demikian, marwah kampus benar-benar sudah terkubur meskipun bangunannya terus dibangun menjulang.
Sekarang, melalui momentum dimulainya seleksi penerimaan mahasiswa baru. Masih ada harapan. Paling tidak melalui mereka yang akan menapak jalan untuk mencapai impiannya untuk duduk di perguruan tinggi (negeri). Para calon mahasiswa baru. Sebenarnya bisa saja PTN meningkatkan jumlah mahasiswanya, tetapi akan lebih elok bila mencari mahasiswa asing supaya minimum 20%.
Semoga gelaran seleksi calon mahasiswa baru tidak hanya dihiasi dengan gegap gempita tingginya angka partisipasi, rumitnya proses seleksi, atau ketatnya daya saing.
Ikhtiar untuk mengawal mereka agar berkompetisi dengan menghindari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme adalah lebih utama. Membiasakan calon mahasiswa diterima lewat jalur "amplop" sama saja dengan mempercepat keruntuhan akademik.
Selamat datang (calon) mahasiswa. Berikhtiarlah dengan sabar dan benar. Jauhi praktek serba instan dan jalur-jalur yang tidak mencerminkan nilai-nilai akademik.
Trending Now