Konten dari Pengguna

Ayah di Gerbang Sekolah

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
17 Juli 2025 9:16 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ayah di Gerbang Sekolah
Peran ayah yang dulu dimasyarakatkan oleh para Nabi, di jaman sekarang harus dibangkitkan kembali kesadarannya agar masa depan anak terbuka dengan penuh seyuman.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
rri.co.id
zoom-in-whitePerbesar
rri.co.id
Di masa lalu, tugas utama seorang ayah adalah sebagai pencari nafkah. Sosok pencari nafkah waktunya banyak dihabiskan di luar rumah. Saat pergi kerja sudah pagi-pagi buta berangkat, tiba di rumah saat matahari sudah hampir tenggelam.
Dalam beberapa kasus ada juga sosok ayah yang pergi pagi-pagi pulangnya larut malam. Saat tiba di rumah, tubuhnya sudah lelah. Pikirannya sudah pusing. Dan pembicaraannya sudah tidak lincah lagi saat di tempat kerjaan.
Secara otomatis komunikasi dengan keluarga pun tidak seperti di pagi dan siang hari yang memiliki banyak energy. Meski keadaan fisik dan psikologi sudah hampir lima watt, tetapi sang ayah di jaman sekarang dituntut berbagi peran dengan sang istri.
Tugas Sang Ayah yang dulunya hanya berfokus pada mencari nafkah, kini perkembangan jaman sudah banyak berubah, termasuk perubahan pengasuhan. Sang ayah diminta oleh situasi untuk ulur tangan kepada istri agar menyisihkan waktunya untuk pengasuhan anak.
Pengasuhan anak yang paling kentara masa sekarang adanya Surat Edaran Kemendukbangga/BKKBN Nomor 7 Tahun 2025 Tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, kegiatan ini dimulai pada 14 Juli sesuai jadwal masuk sekolah masing-masing.
Dalam SE yang sama dijelaskan, gerakan ini diharapkan memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini. Gerakan ini juga bertujuan menumbuhkan kedekatan emosional yang berpengaruh positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam menjalani proses belajar.
Proses belajar memerlukan dukungan semua pihak di keluarga. Tidak hanya ayah dan ibu, tetapi keluarga terdekat yang banyak bersentuhan dengan anak sejatinya memberikan peran pendidikan dan pengasuhan.
Di dalam kisah kisah yang tercantum di dalam al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad SAW banyak menjelaskan peran ayah terhadap anak.
Misalnya, kisah Nabi Ibrahim AS dengan anaknya bernama Nabi Ismail AS dan Nabi Ishaq AS yang terkenal dengan pendidikan kasih sayang dan ketaannyak kepada Allah.
Kisah Nabi Ya'qub dikenal karena hubungannya dengan Nabi Yusuf, di mana ia memberikan bimbingan dan nasihat yang bijaksana. Nabi Muhammad SAW juga dikenal dekat dengan putri-putrinya, terutama Fatimah Az-Zahra, yang sering mendampinginya.
Belum lagi kisah Lukman terhadap anaknya yang terkenal dengan pendidikan tauhidnya dan kisah-kisah lain yang relevan dengan pengasuhan ayah kepada anaknya.
Munculnya arahan dan dorongan dari pihak pemerintah tentang ayah mengantar anak sekolah, seakan-akan menggugat kemapanan budaya yang mengakar kuat pada masyarakat bahwa sang Ayah harus kembali berperan dalam pengasuah anak.
Ini menandakan bahwa peran ayah di masa sekarang perlu disegarkan kembali ke fitrahnya, sebagai mana dijelaskan dalam kisah para nabi di atas.
Berdasarkan hasil penelitian Data UNICEF (2021), I-NAMHS (2022), BPS (2021), dan KPAI (2017) menunjukkan sebanyak 20,9 persen anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah karena perceraian, kematian, atau pekerjaan ayah yang jauh dari keluarga.
Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat 33 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, tetapi hanya 4,3 persen orang tua yang mampu mendeteksi bahwa anak mereka memerlukan bantuan.
Data di atas hanya sekedar temuan yang dikalkulasi dengan angka, namun bisa jadi angka-angka itu bisa jauh melewati angka di atas. Untuk mengoptimalkan peran ayah mengantar sekolah, memang pada prakteknya tidak mudah, memerlukan kesadaran penuh dan dukungan moril dari keluarga dan lingkungan masyarakat.
Keluarga agar tetap mengingatkan kepada ayah bahwa mengantar anak ke sekolah adalah penting untuk mendukung masa depan anak. hampir tidak masa depan anak yang cerah tanpa kehadiran sang ayah di gerbang sekolah.
Begitu pun lingkungan masyarakat dan segenap tokoh yang ada di dalamnya perlu memasyarakatkan sang ayah mengantar anak ke sekolah untuk membuka tradisi lama yang dianggap baru. Semoga bermanfaat.
Trending Now