Konten dari Pengguna

Banjir, Lorong Sunyi Menuju Tuhan

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
7 Januari 2026 9:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Banjir, Lorong Sunyi Menuju Tuhan
Musibah, yang berupa banjir adalah jalan sunyi menuju kedekatan dengan Tuhannya. Tidak sedikit hamba terkena musibah, salatnya khusuk dan tengah malam bangun untuk mendekat kepada-Nya.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banjir, Lorong Sunyi Menuju Tuhan
zoom-in-whitePerbesar
Banjir yang melanda Sumatra dan Aceh satu bulan kemarin (Desember 2025) dalam kacamata agama bukanlah semata-mata banjir yang hampa makna. Di sanalah terdapat kehidupan baru bagi orang-orang yang sadar akan kasih sayang Allah.
Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) korban Aceh dan Sumatera (6/1/2026) sudah mencapai 1178 orang. Insya Allah al-Marhum dan al-Marhumah mendapat nilai syahid di sisi Allah. Aamiin.
Bagi orang yang terkena dampak banjir, memberi pelajaran penting bahwa kehidupan itu terkadang menyusuri jalan tanjakan dan terkadang menyusuri jalan berkelok dan licin serta penuh bebatuan. Begitu juga, hidup itu ada masa bahagia dan ada masa sulitnya. Keduanya hampir selalu bergantian.
Sedihlah jika seseorang merasakan diri bahagia, karena di lain waktu akan menemukan jalan kesulitan dan kepedihan. Dua situasi itu hadir sebagai media kawah candra dimuka, suatu tempat dalam istilah pewayangan untuk penggemblengan agar manusia itu menjadi kuat dan tidak cengeng.
Pada situasi lain musibah banjir menghilangkan harta benda, orang-orang tercinta dan menghilangkan rasa nyaman dan kedamaian dalam hidup. Namun, pada kondisi tertentu musibah memberi energi baru untuk bangkit dari keterpurukan.
Bangkit dari keterpurukan dalam konteks agama adalah mendorong seseorang untuk lebih dekat dengan Tuhan. Umumnya, pada kondisi bahagia kebanyakan orang cenderung lupa bahkan terdapat jarak dengan Tuhannya. Tapi, ketika musibah dan kesulitan menghampiri diri, tidak sedikit manusia banyak mendekat kepada Tuhannya, meski di lain pihak banyak juga manusia yang lepas kendali dari musibah yang menderanya.
Dalam kondisi sulit, jiwa seseorang menjerit dan mengadu kepada Tuhannya. Musibah datang berupa banjir kayu dan lumpur, membuat mulut orang beriman mengeluarkan kata-kata thayyibah. Misalnya saja mengucapkan “ya Allah”, “, Allah Akbar”, atau “innalillahi wa innailaihi rojiun.”
Tidak hanya berhenti di situ saja, setiap salat berdoa dengan khusuk, bahkan diiringi dengan isak tangis dengan menyebut nama Tuhannya. Belum lagi bangun tengah malam, di waktu orang yang mengalami musibah bisa mengadu dan curhat kepada Tuhan.
Di waktu yang mustajab itu, semua orang yang sedang terkena musibah menengadah dan meminta agar semua musibah yang datang kepadanya diberi kekuatan dan hikmah besar serta keluarga korban yang meninggal diberikan nilai syahid di sisi-Nya.
Proposal doa itu terus menerus diucapkan oleh sang hamba yang terkena musibah. Datang waktu salat dan malam tiba, sajadah menjadi kumel dan lusuh. Pertanda seringnya bolak-balik menggunakan sajadah. Sajadah itu pun menjadi saksi sekaligus sebagai sahabat terbaik untuk membantu rasa damai ketika mengadu kepada-Nya.
Meskipun kumel dan lusuh, sajadah itu sebenarnya penuh dengan cahaya. Karpet, dinding dan semua benda-benda yang ada di kamar merespon dan menyimpan energi dengan baik. Semesta alam ikut memberi dukungan dengan semilir angin kedamaian yang menyibak suasana keheningan di tengah malam.
Suara jangkrik, kodok dan hewan lain ikut menjadi saksi dan ikut memberi support atas proposal pengaduan doa kepada Tuhan. Derai air mata dan tangan tidak henti-hentinya menengadah. Salat tahajud menjadi khusuk dan durasinya menjadi lama.
Sebelum salat tahajud, menunaikan salat taubat dua rakaat. Selesainya langsung istigfar, meminta ampun kepada Allah atas kesalahan tata kelola hutan dan kota. Lagi-lagi tangan terus menerus menengadah dan tidak bosan-bosannya meminta kepada-Nya.
Keesokan harinya, saat bangun tengah malam, hamba beriman yang terkena musibah kembali bersimpuh. Sebelum bersimpuh, berwudu dengan sebaik-baiknya wudu. Wudunya menghadap kiblat. Basuhan demi basuhan dihayati. Barang kali mulut, mata dan hidung ketika di luar wudu, pernah membuat orang lain susah karena ulah sikapnya.
Membasuh tangan diresapi, barang kali ada nasib orang yang menjadi korban karena kekuatan tanda tangannya. Semua anggota wudu ketika dibasuh disesali dan dibayangkan barang kali ada sikap dan perilaku yang mendatangkan murka Allah.
Selesai berwudu, tidak lupa menghadap kiblat sambil menengadah ke langit dan mengangkat tangan dengan mengucapkan doa setelah wudu. Doa setelah wudunya diresapi maknanya. Di situ ada syahadat sebagai bentuk peneguhan dan penguatan akan tauhid sang hamba. Di situ juga ada doa agar hamba menjadi orang yang suka bertobat dan membersihkan diri.
Setelah itu beranjak ke kamar kecil khusus untuk berkholwat dengan Tuhannya. Sajadah dihamparkan. Lampu dimatikan, takbir dimulai dan suara sayup bercampur sedih bergemuruh seiring ucapan takbir yang menggetarkan jiwa.
Suaranya terkadang serak dan parau. Bacaan demi bacaan serasa disaksikan olah Allah. Ketika membaca surat al-Fatihah, seolah-olah sedang berdialog dengan Allah. Jiwanya menjadi luluh dan penuh harap.
Rukunya lama dan sujudnya juga lama. Saat sujud, air mata berlinang dan membasahi kavling kecil berupa sajadah. Bacaan tasyahud akhir serasa sedang mengucapkan janji dan doa penuh khusuk sampai tidak terasa subuh segera tiba menyapa dan mengarahkan agar segera siap-siap pergi ke masjid. Semoga bermanfaat.
Trending Now