Konten dari Pengguna
Bukan Sekedar Angka, Tapi Pendewasaan
4 Agustus 2025 12:04 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Bukan Sekedar Angka, Tapi Pendewasaan
Ulang tahun bukan sekedar melewati usia, namun bertumbuhnya kesadaran dan pendewasaan.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap manusia ada usia titik nolnya. Setiap benda ada awal keberadaannya. Dan setiap lembaga ada sejarah keberadaannya. Lembaga yang tumbuh besar selalu diawali dengan sistem kerja sama yang kompleks.
Sistem yang kompleks tersebut, tidak hanya berupa sumber daya manusia, namun banyak ragamnya. Di dalam lembaga terdapat mesin penggerak lembaga, yaitu semua SDM yang terdapat di dalam suatu lembaga.
Lembaga yang baik adalah lembaga yang memanusiakan semua SDM nya. Memanusiakan bukan sekedar menghormati kemanusiaannya, tapi mengatur dan mengurus apa yang ada di dalamnya jiwa manusia itu.
Manusia yang terdapat di dalam suatu lembaga perlu untuk diperhatikan dan diurus dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. SDM yang diurus dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab, sejatinya akan mengalami perkembangan yang berarti.
Perkembangan yang berarti itu, tidak dapat dilihat dari semangat kerja, namun dari kolega yang menemani kerja dapat kerja sama dengan baik. Dengan pihak keluarga tetap ceria, meski masalah kerja datang silih berganti memenuhi jiwa SDM.
Ketika suatu lembaga mengingat sejarahnya dalam bentuk ulang tahun yang ke sekian, maka bukan sembarang mengingat, tapi sebagai ajang untuk merenungkan tentang arti keberadaannya.
Apakah keberadaannya membuat warga lembaga itu senang atau justru membuat warganya menangis dengan sejadi-jadinya. Atau bahkan menyumpahi keberadaannya lantaran banyak mengambil porsi tidak adil memperlakukan SDM nya.
Hari jadi atau ulang sejarah, memang tidak ada yang melarang. Hukumnya bisa mubah, sunah, makruh, wajib, dan haram. Ulang tahun tidak boleh didahulukan jika kewajiban belum selesai ditunaikan.
Ulang tahun yang ditunaikan sebelum kewajiban ditunaikan itu adalah cacat moral dan cacat empati. Apalagi dalam ulang tahun tersebut memperlihatkan kemewahan. Sementara di sisi lain ada kewajiban yang belum ditunaikan.
Jika demikian perilakunya, di mana letak empati yang katanya selalu menyinari semesta ini. Lisan tidak sekedar berkata unggul, tapi perilaku pun harus unggul, termasuk unggul dengan perhatian kewajibannya ke dalam. Jangan terbalik, ke luar manis tapi ke dalam pahit. Ini tidak adil dan lari kenyataan yang sebenarnya.
Coba bayangkan dan renungkan bahwa suatu lembaga tidak mungkin bisa berjalan ke depan tanpa adanya SDM terdepan yang kerja. Kerjanya SDM, karena ia memenuhi kewajiban sebagai orang yang bertanggung jawab mencari kehidupan untuk keluarganya.
Jika pemenuhan pokoknya tidak terpenuhi, jangan berharap akan loyal kepada lembaganya. Adalah yang wajar jika tiba mengenang sejarah berdirinya, SDM terdepan tidak peduli, bahkan masa bodoh dengan apa yang sedang terjadi.
Jangankan SDM yang terdepan, SDM yang hampir lengket saja tidak karuan sikapnya. Sebagian ikut, namun dalam hatinya terjebak oleh keadaan yang hampir tidak berujung. Obatnya sudah didapat, namun banyak bagian penting SDM yang tidak mau meminumnya.
Obat tersebut lantaran susah ditelan dan sebagian SDM penting ada yang membuangnya. Jadi, bagaimana mau sembuh disuruh berobat sudah, tapi obatnya bukan obat yang paten. Obatnya bukan diambil dari yang paten, tapi obat yang kualitasnya rendah.
Wajar saja sering kembali kumat penyakitnya. Penyakit itu adalah hutang lagi dan hutang lagi. Di negeri sana, yang berhutang itu merasa bersalah. Tapi di negeri sebelahnya yang berhutang itu tidak seperti yang punya hutang.
Malah nominal yang ada dipakai untuk menaikkan derajat lembaga yang sedang mengidap penyakit. Seharusnya dicari dulu penyakit yang mendasarnya, baru kemudian penyakit lain bisa diobati secara menurut gejala yang muncul.
Makanya, usia lembaga semakin bertambah seharusnya semakin bertambah juga kedewasaan dalam meraba kemanusiaan dan nasib orang lain.
Bukan berbangga diri sambil menepuk dada bahwa kualitas ini sudah top karena ada pihak yang mengawal, namun kualitas dan pelayanan kepada orang dalam semakin hari semakin tidak menunjukkan iβtikad baik.
Untuk mengurai masalah tersebut, diperlukan SDM yang betul-betul punya integritas baik untuk kesembuhan semua pihak, baik pihak sebagai pucuk ujung tombak kebaikan maupun sebagai ujung tombak transfer pengetahuan yang sehari-hari bernafas dengan keringat keringnya. Semoga bermanfaat.

