Konten dari Pengguna

Dari Air ke Etika: Makna Wudu bagi Relasi Sosial yang Harmonis (2)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
24 Agustus 2025 17:42 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu bagi Relasi Sosial yang Harmonis (2)
Lafal basmallah bagi umat Islam harus selalu mengiringi dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia. Karena itu memberikan hikmah berupa keberkahan dalam hidup.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
fiqihmuslim.com
zoom-in-whitePerbesar
fiqihmuslim.com
Pada tulisan yang pertama, penulis sudah menjelaskan persahabatan umat beragama Islam dengan air. Sedangkan pada tulisan kedua ini, penulis insyaAllah akan menganalisis persentuhan air dan basmallah saat memulai wudu sambil mengarah kiblat.
Persentuhan air dengan basamallah adalah persentuhan air dengan Al-Qurโ€™an. Karena Basmallah bagian dari Al-Qurโ€™an dan semua surat dalam Al-Qurโ€™an dimulai dengan Basmallah, kecuali dalam surat At-taubah.
Persentuhan air dengan basmallah merupakan bagian penting dalam proses kebermaknaan dalam kehidupan umat beragama. Sejatinya, dalam setiap aktivitas kehidupan sehari-hari harus disertakan atas nama Allah, bukan atas nama kepentingan lain.
Setiap aktivitas yang selalu menyandarkan diri atas nama Allah, maka diharapkan aktivitas mendapatkan perlindungan dan petunjuk dari Allah. Jika Al-Qurโ€™an diperas, bentukannya adalah surat al-Fatihah.
Lalu jika surat al-Fatihah diperas lagi, maka bentuk perasannya adalah kalimat Basmallah. Jika Basmallah diperas lagi, maka bentuk perasannya adalah huruf Ba. Dan terakhir, jika huruf Ba diperas lagi, maka bentuk perasannya adalah titik di bawah Ba.
Saking pentingnya akitivitas diiringi dengan Basmallah sampai kemudian Nabi Muhammad SAW mengatakan โ€œsetiap perkara yang tidak dimulai dengan kalimat basmallah, maka ia akan terputus.โ€
Lalu, ulama ahli bahasa yang hidup abad ke-14, Ibnu Hisyam Al-Anshari, dalam karyanya Mughni Labib An Kutubul โ€˜Arib menjelaskan bahwa makna Ba dalam basmallah terdapat 14 makna. Di antanya makna yang paling penting adalah al-Ilshaq dan mushohabah.
Al-Ilshaq artinya nempel dan lengket. Sedangkan mushahabah artinya merasa diawasi. Dari sini kita bisa menjelaskan bahwa setiap urusan dan aktivitas yang dimulai dengan kalimat basmallah, urusannya akan selalu dibimbing, diberikan petunjuk dan diawasi oleh Allah.
Dalam konteks kehidupan keluarga, ada ayah, ibu dan anak. Sang ayah yang mencintai anaknya, berapa pun umurnya anak itu. Mau masih anak-anak atau sudah dewasa, sang ayah akan selalu membimbing dan mengawasi sang anak.
Kenapa? Karena sang ayah selalu mencintai anaknya. Meskipun, di luar sana ada ayah yang tega menghabisi anaknya, karena lain suatu hal. Namun, pada intinya sang ayah adalah pembimbing, pengawas dan petunjuk untuk anaknya.
Di minta dan tidak diminta pengawasan, pengarahan dan bimbingan akan selalu mengalir kepada anaknya. Dengan analogi di atas, ini bukan berarti Allah mempunyai anak, namun lebih ke contoh yang tidak bisa dipersamakan. Karena Allah tidak bisa disamakan dengan makhluknya.
Allah pencipta dan manusia yang diciptakan. Jadinya, pasti berbeda antara pencipta dan yang diciptakan. Jadi, aktivitas yang selalu diawali dengan basmallah, termasuk saat mengambil air wudu adalah bentuk penyertaan hamba beriman yang menyertakan aktivitas dirinya dengan Tuhannya.
Di dalamnya akan diberikan petunjuk, pengawasan dan bimbingan dalam melaksanakan segala aktivitas. Dalam aktivitas wudu, kita menyebut namanya, bukan menyebut kepentingan lain.
Menyebut namanya berharap mendapat bimbingan, petunjuk dan pengawasan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari interaksi dengan sesamanya.
Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, tidak selamanya selaras. Terkadang ada riak-riak yang membuat jalinan persahabatan mudah retak. Dalam teori motivasi, manusia bergerak itu ada kepentingannya. Manusia menghampiri antar sesama itu ada maksud terdalamnya.
Motif itu bisa positif dan bisa negatif. Motif positif bisa bernilai di sisi Allah dan motif negatif mendapat dosa dan siksa dalam pandangan agama. Namanya juga manusia sebagai makhluk sosial, terkadang ada pro dan kontra dalam menjalani aktivitas kehidupan.
Pro dan kontra itu adalah wajar. Setiap manusia mempunyai caranya masing-masing dalam menyelesaikan pekerjaannya. Prinsip pekerjaan dilakukan dengan sadar, tidak dengan kondisi emosi.
Pekerjaan yang ditumpangi oleh emosi, hasilnya tidak akan baik. bahkan, bisa berantakan. Jika itu yang terjadi relasi hubungan manusia dalam mengerjakan suatu pekerjaan, maka bisa saja akan bubar.
Jika ada mitra kerja meninggikan emosinya saat proses menuntaskan pekerjaan, baiknya mitra kerja yang lain berusaha untuk meneduhkannya. Meneduhkan dengan lembut, tanpa menghakimi. Memberi bimbingan dan arahan dengan nuansa kejiwaan yang sesuai dengannya.
Jika perlu diajak berdiskusi dari hati ke hati. Tidak semua pekerjaan itu bisa dilalui dengan mulus. Ada saatnya pekerjaan itu berantakan, agar kita lebih mengetahui bahwa pentingnya pekerjaan yang mulus.
Kerja dengan emosi hampir selalu berakhir dengan tragedi. Tragedi putusnya persahabatan, putusnya rezeki dan putusnya berbagai peluang kebaikan yang lain. Maka, pekerjaan yang memulai dengan basmallah adalah pekerjaan yang siap menghampiri kebaikan.
Baik kebaikan yang dihampiri oleh keberhasilan atau kebaikan yang dihampiri oleh kegagalan. Kegagalan dalam pandangan Allah adalah kesuksesan yang tertunda, agar dalam proses pekerjaan itu kita bisa belajar kembali tentang pentingnya mengambil pelajaran dibalik kegagalan. Semoga bermanfaat.
Trending Now