Konten dari Pengguna

Dari Air ke Etika: Makna Wudu bagi Relasi Sosial yang Harmonis (3)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
25 Agustus 2025 4:18 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu bagi Relasi Sosial yang Harmonis (3)
Arah kiblat adalah arah kebaikan jutaan manusia. Implikasinya, setiap kebaikan selalu diarahkan kepada-Nya, termasuk dalam berwudu.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
iainutuban.ac.id
zoom-in-whitePerbesar
iainutuban.ac.id
Pada tulisan yang kedua, penulis sudah menjelaskan tentang persentuhan air dengan kalimat basmallah. Maka, tulisan yang ketiga ini penulis insyaAllah akan menjelaskan menghadap kiblat saat mengambil air wudu’.
Di dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, karya Imam An-Nawawi, salah satunya sunnah berwudu adalah menghadap kiblat. Menghadap kiblat yang dimaksud dengan menghadapkan badan dan wajah kita ke arah Makkah al-Mukarromah.
Menghadapkan badan ke Makkah al-Mukarromah sebagai bukti bahwa ibadah kita hanya ditujukan kepada yang memiliki kota Makkah, yang setiap tahun jutaan orang menunaikan haji ke sana.
Menghadap Makkah tidak saja menghadap fisik kita ke arah kota suci Makkah, tapi segenap jiwa kita pun menghadap ke arah sana. Muncul persoalan dalam benak kita, kenapa salah satu sunnah berwudu menghadap arah kiblat?
Jika menganalisis, arah kiblat adalah arah yang ditujukan kepada kota suci Makkah al-Mukarromah. Di sana tempatnya jutaan orang mengikuti syariah Nabi Ibrahim AS. Pelaksanaan haji tahun kemarin, 2025, pemerintah Arab Saudi mencatat 1,67 juta jemaah haji dari 171 negara di dunia.
Jumlah yang sangat fantastis jika dalam satu momen berkumpul di tempat yang sama. Berkumpul dengan jumlah 1,67 juta itu bukan jumlah orang yang sedikit, tapi seperti lautan manusia.
Di sana pula tempat berdoa orang-orang beriman yang sedang menunaikan ibadah haji. Doanya orang beriman dalam jumlah jutaan orang itu, memberikan penguatan bahwa berdoa jika ingin segera terkabul harus dipanjatkan secara berjamaah.
Dan doa-doa wudu jika ingin terkabul sebaiknya diarahkan ke sana juga. Di sisi lain, segala gerak dan aktivitas manusia harus diarahkan hanya untuk meraih ridho-Nya, bukan atas ridha pimpinan sebuah perusahaan.
Dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk sosial, tidak bisa lepas dari berbagai aktivitas. Aktivitas itu harus selalu diarahkan hanya untuk Allah semata. Ini terbukti oleh hadis Nabi Muhammad bahwa segala aktivitas kita harus mengatasnamakan Allah.
Aktivitas yang selalu menghadap kiblat dalam artian menghadap Allah, maka aktivitas itu akan dijaga, dibimbing, diarahkan, diawasi dan diarahkan oleh yang punya arah kiblat. Pembimbingan Allah dalam kehidupan sehari-hari terkadang melawan arus keinginan manusia.
Manusia menduga aktivitas pekerjaan itu adalah baik. Namun, Allah tidak berkehendak. Maka aktivitas pekerjaan itu diarahkan kepada yang lebih bermanfaat. Siapa tahu jika aktivitas itu kita jalankan, akan memberikan dampak buruk terhadap diri dan keluarga kita.
Diri kita dan keluarga terjebak pada uring-uringan atas tidak terlaksananya aktivitas pekerjaan. Biarkanlah ia pergi, tidak perlu disesali. Biarkan diri kita menyesali dan menangis supaya di kemudian hari akan lebih baik dan lebih kuat lagi.
Namun, karena jiwa kita sudah dipasrahkan ke arah kiblat, apa pun yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kita hanya menginginkan bimbingan dan petunjuk-Nya, yang tentunya sesuai dengan kemampuan manusia.
Segala urusan dan berbagai kejadian di muka Bumi ini, tidak boleh lupa bahwa semua itu sudah ada dalam pengetahuan-Nya. Penyesalan dan kesedihan manusia boleh saja ditampakkan kepada lingkungan sekitar, minimal keluarga, tapi tidak boleh berlebihan.
Ini bukan cengeng, hanya sekadar untuk pelajaran agar lingkungan terdekat bisa mengambil hikmah atas kejadian itu. Ini juga untuk memberikan tes ombak kepada orang terdekat, apakah ada solidaritas sosial atau tidak?
Jika ada, alhamdulillah dan jika belum ada barang kali mata dan hatinya belum terbuka, karena tertutup awan gelap dalam kehidupan. Awan gelap itu bisa berupa kusutnya kehidupan keluarga dan ada goyangan ekonomi yang tidak stabil.
Dari kusutnya kehidupan dan ekonomi yang tidak stabil membuat mata batinnya tidak berfungsi untuk menangkap sinyal-sinyal lingkungan yang masuk ke alam bahwa sadar kita. semoga bermanfaat.
Trending Now