Konten dari Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu bagi Relasi Sosial yang Harmonis (4)
26 Agustus 2025 9:47 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu bagi Relasi Sosial yang Harmonis (4)
Membasuh muka tidak sekedar membasuk fisik muka, namun dalam pandangan ulama tasawuf dan tarekat adalah membasuh perilaku dosa yang ada di muka.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tulisan yang ketiga, penulis sudah menjelaskan hikmah menghadap kiblat pada saat mengambil air wudu. Pada tulisan yang keempat ini, penulis insyaAllah akan menjelaskan hikmah membasuh muka dalam kaitannya dengan kehidupan sosial.
Membasuh muka dalam berwudu termasuk rukun wudu yang wajib dibasuh. Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 6. Di ayat tersebut, Allah mewajibkan kepada umat Islam saat akan melaksanakan salat untuk membasuh muka.
Dalam pandangan ulama Fiqh membasuh muka adalah betul-betul membasuh fisik muka, bukan membasuh muka secara batin. Namun, pandangan tasawuf dan tarekat membasuh muka tidak sekadar membasuh fisik muka, tapi lebih dari itu.
Membasuh muka dalam pandangan ulama tasawuf dan tarekat adalah membasuh perilaku yang ditunjukkan oleh anggota tubuh yang ada di muka. Di muka ada mata, hidung dan mulut. Saking penting membasuh muka, sampai kemudian Allah sendiri yang mewajibkan membasuh muka.
Pertanyaannya kenapa Allah mewajibkan membasuh anggota wudu yang pertama adalah membasuh muka lebih dulu. Kenapa tidak tangan, kepala atau kaki dulu yang dibasuh. Dalam pandangan ulama tasawuf, karena di bagian itulah anggota tubuh yang paling banyak berbuat dosa.
Senada dengan ulama Tasawuf, dalam pandangan ahli Sosiologi-Antropologi juga hampir sama. Secara Sosiologis-Antropologis anggota wudu yang pertama dibasuh itu adalah anggota yang paling banyak bersentuhan dengan dunia sosial.
Di muka ada mata, hidung dan mulut. Ketiga itu yang paling banyak berbuat dosa dan paling banyak bersentuhan dengan sosial. Mata dipakai untuk apa. Hidung dikapai untuk membau apa? Dan mulut dipakai untuk berbicara apa?
Dalam kehidupan sosial, mata memegang peran yang signifikan. Apa jadinya manusia yang punya mata, matanya tidak berfungsi dengan baik. Alhamdulillah, kita dikasih mata yang normal. Mata itu kita pakai untuk melakukan aktivitas yang baik.
Jika mata itu dipakai untuk hal-hal yang tidak baik, di dalam wudu dibasuh tiga kali, agar fungsi mata itu dikembalikan ke jalan yang disukai oleh agama. Dosa-dosa mata dibasuh dan dicuci oleh wudu agar mata itu kembali ke fitrahnya.
Firah mata melihat yang indah-indah. Fitrah mata membaca ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Jika mata melihat yang negatif, maka cepat palingkan. Mata orang beriman adalah mata yang tidak sekedar melihat. Melihatnya orang beriman, tidak sembarangan melihat.
Tapi dibalik melihat itu, ada nilai dan ada pahala yang bisa diraih ketika nanti di akherat. Begitu juga dengan hidung dan mulut. Hidung dipakai untuk mencium bau harum masakan, ketajaman penciuman itu dipakai untuk mencium dan menikmati lezatnya masakan. Sehingga, orang lain bisa merasakan nikmatnya masakan yang sudah diuji oleh hidung dan lidah.
Mulut dipakai untuk apa? Apakah dipakai untuk membicarakan orang lain atau dipakai untuk membaca ayat-ayat Allah? ketika mulut dipakai untuk mengumpat, mencibir, mengadu domba, memfitnah dan lain sebagainya, maka wudu sebagai pengendalinya.
Saat membasuh mulut dengan berkumur-kumur, pada dasarnya bukan hanya memasukan air ke mulut, kemudian di kumur-kumur, lalu dikeluarkan lagi airnya. Jauh dari itu, berkumur-kumur adalah mengeluarkan kotoran yang berupa dosa.
Kotoran mulut berupa dosa itu dibuang ke selokan, tidak usah ditengok lagi. Lalu, mulut itu dikembalikan lagi ke jalan yang benar. Terus menerus fungsi anggota wudu yang di muka itu dibasuh dalam sehari-semalam lima kali.
Ini maksudnya agar manusia beriman itu tidak banyak menyimpan dosa dalam hatinya. Semakin sering berbuat dosa, hatinya akan bertambah hitam legam. Hitam legam hati manusia, semakin hari akan menimbulkan reaksi psikologis.
Reaksi psikologis ini bisa berupa; hatinya merasa kosong, gelisah, tidak damai, dan peluang kebaikan tertutup. Hatinya tidak mampu menjadi radar untuk merespon situasi kehidupan sosial yang dinamis.
Maka tidak salah sehari-semalam dibasuh lima kali mukanya, agar dari muka bisa menurunkan kesucian ke dalam hatinya untuk penggerak dan pengarah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, muka termasuk di dalamnya mata, hidung dan mulut sangatlah vital. Ia menjadi garda terdepan dalam berkomunikasi dengan sesama manusia. Dalam berkomunikasi, mulut harus ditempatkan sesuai dengan kondisi.
Tidak boleh bicara ke pihak yang satu begini, tapi ke pihak lain berbeda. Ini bisa berpotensi mengadu domba dan bisa membuat antara pihak yang satu dengan pihak yang lain dapat menimbulkan konflik.
Dengan membasuh mulut saat wudu, kasih sayang Allah kembali datang untuk dikembalikan ke posisi fitrahnya. Manusia fitrah, yaitu manusia yang menempatkan dirinya kepada kebaikan, tidak secara terus menerus berada dalam kubangan kesalahan. Semoga bermanfaat.

