Konten dari Pengguna

Dari Air ke Etika: Makna Wudu' bagi Relasi Sosial yang Harmonis (6)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
28 Agustus 2025 7:43 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu' bagi Relasi Sosial yang Harmonis (6)
Mengusap kepala secara fisik sampai megusap isi kepala secara batin. Mangusap isi kepala adalah mengusap isi kotoran kepala.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilmusunnah.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilmusunnah.com
Pada tulisan yang keempat, penulis sudah menjelaskan hikmah wudu ketika membasuh tangan. Maka, pada tulisan yang kelima ini penulis insya Allah akan menjelaskan hikmah wudu ketika mengusap kepala dalam kaitannya dengan kehidupan sosial.
Mengusap kepala ketika berwudu adalah salah satu rukun wudu yang wajib dijalani. Dalam kondisi apa pun, mengusap kepala tetap wajib, terkecuali ketika wudunya menggunakan tayamum.
Di lapangan banyak ditemukan bahwa yang diusap itu rambut. Mungkin karena di kepala ada rambut, seolah-olah yang diusap itu adalah rambut. Padahal yang diusap itu adalah kepala. Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 6.
Kenapa kepala yang diusap?, bukan rambut yang diusap. Karena setiap orang pasti mempunyai kepala, tapi tidak setiap orang mempunyai rambut. Di sinilah salah satu keadilan agama Islam. Coba yang wajib diusap itu rambut, bukan kepala.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana orang yang kepalanya botak? Rambutnya tidak bertumbuh. Jika rambut yang dipaksakan untuk diusap, nanti ada pihak yang tidak senang dengan agama Islam bahwa Islam itu tidak adil.
Misalnya, masa orang yang tidak mempunyai rambut harus dipaksa untuk diusap. Apa jadinya nanti, jika demikian? Inilah indahnya Islam. Keadilannya sangat presisi di semua pihak dan keadilannya sangat visioner. Memandang jauh ke depan dan melintasi jaman di semua kehidupan manusia.
Kenapa yang diusap kepala? Tidak rambut? Secara medis, di kelapa manusia itu banyak sekali sel syaraf. Jika mundur ke belakang, kenapa yang dibasuh itu muka. Karena di muka, tangan dan kepala, sel syaraf-syaraf yang berada di sana paling banyak. Begitu juga kedua telinga dan kaki, yang terakhir dibasuh.
Secara fiqh, bagian kepala yang diusap bisa bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan. Atau yang diusap itu yang penting bagian kepala. Mau mengusap depan, belakang, kepala samping kanan dan samping kiri dipersilahkan.
Hanya sunnahnya, mengusap kepala mulai dari depan ditarik ke belakang. Lalu, setelah itu dari belakang ditarik lagi ke depan. Secara fiqh demikian. Secara medis, kepala yang diusap oleh air ini akan memberikan kesegaran kepada sel-sel syaraf yang ada di otak.
Aliran darah akan mengalir dengan deras. Karena, saat tersentuh air sel syaraf akan mengalami pelebaran pembuluh darah. Jika pembuluh mengalami pelebaran, maka dengan sendirinya darah pun akan lancar mengalir ke bagian kepala.
Jika dalam pandangan fiqh mengusap kepala itu benar-benar kepala secara apa adanya kepala. Tapi, dalam pandangan ulama tasawuf dan tarekat bukan hanya sekadar mengusap kepala yang tampak terlihat, namun mengusap isi kepala.
Kepala tempat merencanakan berbagai agenda kehidupan manusia sesuai dengan profesinya masing-masing. Ada yang di teknik, kedokteran, pendidikan, pemerintahan, tata ruang perkotaan, dan berbagai profesi lainnya.
Semua aktivitas itu memerlukan perencanaan dan pemikiran. Ketika merencanakan agenda pekerjaan, pasti menggunakan pemikiran. Bagaimana caranya agar pekerjaan itu sukses dan lancar dalam menjalaninya.
Di sinilah, isi kepala yang bernama pikiran digunakan. Sebagai orang beriman, isi kepala digunakan untuk melakukan aktivitas kebaikan, baik itu pekerjaan atau hanya sekadar bengong di depan rumah memikirkan masa depan keluarga. Itu pun memerlukan pemikiran.
Terlepas berat dan ringan dalam memikirkan sesuatu, yang jelas memerlukan pemikiran yang matang dan pas sesuai dengan apa yang diinginkan. Agar otak kita pres dan fungsi otaknya bekerja dengan baik, maka sebaiknya dimulai dengan berwudu.
Berwudu membantu otak untuk tetap fokus dalam mengerjakan sesuatu. Di samping itu, tentu tempat, situasi, waktu dan mitra kerja yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan.
Mengusap isi kepala dalam pengertian lain adalah mengusap kotoran kepala. Jangan-jangan di kelapa kita ini banyak sampahnya. Sampah kepala itu berupa pikiran-pikiran jahat yang dapat merugikan manusia lainnya.
Penulis buku, misalnya, tidak boleh menulis yang mampu menggerakkan manusia untuk berbuat kejahatan. Dalam sekala kecil, menulis menulis di status WA pun harus benar-benar memerlukan pemikiran yang tidak santai.
Artinya, kata-kata yang diproduksi oleh otak itu tidak boleh menyinggung, bahkan membuat orang lain menjadi emosi. Yang membaca status WA pun, sebaiknya banyak menahan, tidak langsung bereaksi secara negatif.
Karena munculnya kata-kata itu sudah pasti ada latar belakangnya. Bijaknya, harus benar-benar memastikan, apakah kata-kata itu diperuntukkan untuk seseorang atau bukan? Atau diperuntukkan untuk kalangan masyarakat dunia maya secara luas?
Orang yang menulis status di WA pun harus lebih berhati-hati, tidak asal menulis status. Menulis status di WA dengan mengumbar masalah pribadi dengan orang lain, justru berisiko masalah itu menjadi panjang dan lebar.
Suasana pun semakin keruh. Jika sudah keruh, diri kita akan sibuk menangkis dan mengkofirmasi. Energi kita pun akan terbuang dengan sia-sia. Sebaiknya, hamparkan sajadah, mengadunya kepada-Nya. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.
Cara menjaga Allah salah satunya dengan melaksanakan shalat. Jadi jika ada masalah hidup, shalat lah. Minta kepada-nya. Semua apa yang ada di langit dan di Bumi serta segala isinya adalah milik Allah SWT. Mengadu kepada-Nya, lebih menenangkan. Mengadu kepada status WA, hidup ini akan semakin rumit
Maka di sinilah peran dan fungsi wudu untuk kehidupan sosial manusia. Isi kelapa diusap oleh air wudu, agar pikiran manusia kembali ke jalan yang benar sesuai dengan titah-Nya. Semoga bermanfaat.
Trending Now