Konten dari Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu' bagi Relasi Sosial yang Harmonis (7)
29 Agustus 2025 9:36 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Dari Air ke Etika: Makna Wudu' bagi Relasi Sosial yang Harmonis (7)
Membasuh kedua kaki dalam berwudu adalah kewajiban. Wajibnya membasuh kaki tidak semata-mata kewajiban, namun ada hikmah dan fungsinya dalam kehidupan sosial.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tulisan yang keenam, penulis sudah menjelaskan hikmah wudu ketika mengusap kepala. Pada tulisan yang ketujuh ini, insya Allah penulis akan menjelaskan hikmah membasuh kedua kaki dalam kaitannya harmoni dengan dunia sosial.
Membasuh kedua kaki, seperti mengusap kepala, membasuh tangan, dan muka adalah sama-sama kewajiban yang harus diperhatikan oleh insan beriman saat berwudu.
Di dalam kehidupan sehari-hari, saat penulis akan menyampaikan khutbah Jumβat di sekitar Tangerang Raya dan sekitarnya, masih banyak ditemukan kasus membasuh kaki dengan cara menendang-nendang air yang keluar dari keran.
Membasuh kaki dengan demikian tidak tepat, bahkan dikatakan cenderung salah. Membasuh anggota wudu, dalam hal ini adalah kaki harus dijalankan dengan penuh penghayatan. Membasuh kaki tidak asal membasuh, tapi ada tata cara yang perlu diperhatikan.
Cara membasuh kaki, basuh dulu kaki yang kanan sampai sempurna. Setelah itu, baru membasuh kaki yang kiri. Membasuhnya tidak usah terburu-buru, namun dibasuh dengan cara santai sambil dinikmati dan dihayati. Jari-jari kaki dan sela-selanya dibersihkan.
Khawatir di sela-sela kaki ada kotoran yang tidak tersentuh oleh air. Maka, perlu dibersihkan oleh kedua tangan. Jari tangan kita dimasukkan ke sela-sela jari kaki sambil digosok-gosok. Tidak lupa kuku yang ada di kaki dibersihkan sela-selanya.
Atau perhatikan kebersihan kuku kaki dan tangan, setiap satu minggu sekali dipotong untuk mencegah kotoran najis menempel di sela-sela kuku. Bagi kaum perempuan yang memakai hiasan di kuku, semacam kutek juga harus hati-hati. Jangan sampai hiasan kuku menghalangi air masuk ke kuku yang ada di kaki.
Jangan lupa jika kita wudu menggunakan keran, sebaiknya keran air tidak boleh dibuka secara pul. Buka saja seperlunya, atau setengah keran. Tidak boleh boros air ketika berwudu.
Dalam pandangan fiqh membasuh kaki benar-benar membasuh kaki secara fisik, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Membasuh kedua kaki dalam pandangan ulama ahli tasawuf dan tarekat, tidak hanya membasuh secara fisik, tapi lebih dari itu adalah membasuh perilaku kaki dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, kaki kita banyak digunakan untuk berbagai aktivitas. Baik itu untuk kerja, pergi ke masjid, silaturahmi, olahraga, dan aktivitas lainnya. Kaki yang dilangkahkan ke tempat-tempat positif, itu berarti kaki yang berkah.
Tapi kaki yang melangkah ke tempat yang berpotensi menimbulkan perbuatan yang dilarang, berarti kaki yang akan mendatangkan masalah dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Kaki yang melangkah ke tempat yang melanggar agama, maka kaki ini harus dibasuh saat wudu dengan penuh penghayatan. Saat membasuh kaki ketika wudu, bayangkan kaki kita banyak dipakai untuk hal-hal positif.
Dari situ kemudian kaki kita secara mental menjadi sehat. Mental sehat, hatinya pun bisa tenang dan damai. Sebaliknya, hati tidak tenang dan damai mental pun akan sakit. Apalah arti kehidupan jika hati penuh dengan gundah.
Makan tidak enak. Tidur pun tidak enak. Sosialisasi dengan masyarakat pun tidak bisa lepas, karena hatinya gundah dan dadanya sempit. Seolah-seolah ada beban berat yang menghimpit. Raut muka kusam dan tidak enak dipandang.
Akhirnya, orang-orang yang ada di sekeliling kita pun pergi dengan pelan-pelan. Dari sini pintu rezeki menjadi tertutup. Seketika jiwa itu semakin sakit dan sesak, karena orang yang kita akan sambangi menjauh dan pergi.
Di sinilah kita penting untuk mengevaluasi kaki ini. Tiba waktu malam, ingatan kita menerawang mulai pagi sampai larut malam. Ke mana saja kaki melangkah. Ke mana saja kaki kita dibawa.
Jika hasilnya lebih banyak dipakai untuk melangkah ke tempat positif, ucapkan alhamdulillah. Sebaliknya, jika kaki kita banyak dipakai melangkah ke tempat yang negatif, ucapkan astagfirullah.
Ucapan alhamdulillah saat kaki dipakai melangkah ke tempat positif adalah bentuk syukur lisan. Sedangkan ucapan astagfirullah yang keluar dari mulut kita saat kaki melangkah ke tempat negatif adalah bentuk tobat.
Tobat yang paripurna tidak mengulang kembali kesalahan yang kedua dan ke sekian kalinya sambil menyesali perbuatan itu, jiwa raga kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah dan kembali menjaga Allah dengan cara tidak sembarang kaki melangkah ke tempat negatif.
Kembali komunikasi kepada Allah melalui shalat. Sebelum salat kita berwudu. Berwudunya diresapi, dihayati, enjoy, dan penuh kesadaran. Saat membasuh kaki, bayangkan sedang menghilangkan jejak perilaku negatif kaki.
Saat berdoa setelah wudu, bayangkan itu adalah tobat kita yang terakhir untuk kembali kepada-Nya. Setalah itu kembali bergabung dengan kehidupan sosial, di sana ia menyapa temannya. Dan di sana ia menyapa segenap rekan-rekannya.
Menyapa dengan kaki bersih dan suci, yang tidak akan mengulang melangkah dengan mengumpat dan mencaci. Tapi melangkah dengan membawa kabar bahwa kesehatan mentalnya sudah sembuh, karena perilaku kakinya sudah kembali kepada Allah setelah dicuci bersih ketika berwudu. Semoga bermanfaat.

