Konten dari Pengguna

Dari Service Kendaraan Ke Service Rohani: Menjaga Kinerja dan Kesehatan (1)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
29 September 2025 11:12 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Service Kendaraan Ke Service Rohani: Menjaga Kinerja dan Kesehatan (1)
Sevice kendaraan sama dengan service rohani. Saat service kendaraan, ingat service rohani.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Carmudi.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Carmudi.co.id
Setiap hari kendaraan dipakai untuk berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, kondangan, mudik dan lain sebagainya. Belum lagi riwayat kendaraan yang sudah melintas ke berbagai situasi.
Umpamanya berkendara ke tempat terjal, penuh bebatuan, jarak tempuh yang cukup jauh sampai pernah bersenggolan dan bertabrakan dengan kendaraan lain. Itu semua, tentu mengganggu kinerja kendaraan saat melintas di jalan raya.
Maka, untuk mengembalikan ke performa kendaraan yang berkinerja baik, tidak ada lain kendaraan harus melakukan perawatan berkala. Dalam perawatan, semua bagian-bagian dicek. Pengecekannya dilakukan oleh bengkel yang sudah paham.
Pemilik bengkel, memilih dan merekrut calon SDM bengkel sesuai dengan kompetensinya. Imbasnya, harganya pun akan berbeda dengan bengkel yang hanya asal-asalan buka. Ada kualitas, ada harga. Ini wajar dan bisa dimengerti.
Setelah dicek dan semua bagian kendaraan diperbaiki, kendaraan kembali memiliki performa yang baik dan enak dipakai. Begitu juga, fisik dan jiwa manusia harus mendapatkan perhatian.
Service kendaraan, memberikan pelajaran bahwa jangan hanya kendaraan yang mendapat perhatian dari pemiliknya, fisik dan rohani pun harus diperhatikan.
Kendaraan dan rohani sama-sama penting untuk dijaga dan diperhatikan. Saat kendaraan sekian lama sudah dipakai, ujungnya akan rusak. Begitu juga rohani dan jiwa sekian lama dipakai dalam kehidupan sehari-hari, pada akhirnya bagian-bagian rohani akan ada yang terganggu.
Saat rohani dan jiwa terganggu, saat itu pula waktu yang tepat untuk melakukan perawatan. Perawatan, tidak hanya secara insidental saja, namun harus dilakukan secara rutin.
Dalam kehidupan beragama, perbaikan rohani sudah tersedia secara gratis. Tinggal membangun kemauan dan menyempatkan waktu dengan serius.
Perawatan rohani yang sudah disediakan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah sudah terjamin kualitasnya. Tinggal manusia, mau atau tidaknya mengikuti arahan dari panduan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Media perawatan dan perbaikan itu ada yang berupa: harian, mingguan, bulanan, insidental ada tahunan dan perawatan seumur hidup sekali jika mampu.
Perawatan harian itu berupa salat lima waktu dan salat sunnahnya. Perawatan mingguan itu berupa salat Jum’at dan puasa sunnah Senin dan Kamis atau puasa Nabi Daud AS.
Perawatan bulanan itu berupa puasa sunnah pertengahan bulan. Perawatan insidental itu, saat memiliki rezeki di hari atau bulan tertentu, lalu hartanya disedekahkan untuk yang berhak menerimanya.
Perawatan tahunan berupa: puasa bulan Ramadan dan zakat fitrah/zakat mal. Dan perawatan seumur hidup sekali itu berupa menunaikan haji bagi yang mampu.
Agama Islam sangat paham terhadap hamba-Nya. Saking pahamnya, perawatannya sangat lengkap, sebagaimana dijelaskan di atas. Salat wajib dan salat sunnah yang berupa perawatan harian itu, semua umat Islam mengerjakannya setiap hari.
Namun, kenapa yang tampak di lapangan, seolah-olah tidak ada perawatan dan perbaikan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, lima kali dalam sehari diberikan fasilitas perbaikan secara cuma-cuma.
Yang tampak di lapangan itu, demo besar tidak terkendali, bahkan merusak. Korupsi semakin meraja lela. Parkir sembarangan, sampai mengganggu ketertiban umum. Pencurian data hampir sudah biasa. Pembohongan publik hampir menjadi makanan sehari-hari.
Perilaku keadilan di ranah publik menjadi barang mahal. Orang besar terkadang bertindak sewenang-wenang. Pembunuhan dan pencurian banyak menjadi hiasan berita online dan lain sebagainya.
Apa yang salah dengan tuntutan agama yang berupa perawatan harian itu? Tentu tuntunannya tidak ada yang salah. Yang salah, orang yang salat lima waktu dalam sehari semalam tidak menjadikan nilai salat masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai salat hanya berhenti pada waktu salat saja. Setelah itu, perilakunya kembali seperti biasa. Salatnya hanya formalitas. Tidak diresapi. Tidak dinikmati prosesnya. Tidak dihayati dengan segenap jiwa rohani.
Tidak disambut dengan suka cita panggilan adzan-Nya. Panggilan adzan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga sebelah kiri. Sejatinya, mulai dari wudu sampai salat dinikmati dan dihayati. Sehingga, nilai salat itu menjadi perilaku yang mencerahkan antar sesama.
Salat yang baik itu, wudunya harus baik. Wudu yang baik adalah wudu yang benar-benar diresapi dan dihayati dalam setiap basuhan. Basuhan demi basuhan diturunkan menjadi nilai perilaku sosial yang memperbaiki keadaan.
Pertanyaannya bagaimana wudu yang baik itu? Wudu yang baik adalah wudu yang mengikuti petunjuk agama. Saat mengambil air wudu, dianjurkan menghadap kiblat. Menghadap kiblat, tidak semata-mata menghadapkan fisik, namun menghadapkan segenap jiwa raga.
Jiwa raga dihadapkan pada kiblat. Menghadap kiblat, seolah-olah menghadap pembuat makkah. Pembuat Makkah adalah Allah SWT lewat tangan hamba-Nya yang saleh. Wudu dengan menghadap kiblat dan diresapi menghadapnya adalah gambaran sedang disaksikan oleh Allah.
Ibaratnya, jika kerja disaksikan langsung oleh pimpinan perusahaan, maka kerjanya akan semangat dan benar-benar kerja. Kerjanya tidak akan asal-asalan, tapi kerja dengan sesungguhnya kerja.
Begitu juga wudu yang digambarkan langsung disaksikan oleh Allah, sudah pasti wudunya akan dilakukan dengan benar dan penuh penghayatan. Bayangkan, saat membasuh kedua telapak tangan, seperti sedang mencuci dosa-dosa yang diperbuat oleh tangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tangan tidak akan sembarangan membuat status. Tangan tidak akan menanda tangani proposal fiktif. Dan tangan tidak dipakai untuk memukul atau melukai orang lain. Karena, tangan itu sudah dicuci bersih sikapnya oleh basuhan air wudu.
Membasuh muka, bukan hanya sekadar membasuh fisik, namun perilaku yang ditunjukkan oleh muka. Mata tidak melotot untuk melemahkan sesama. Mata tidak dipakai untuk melihat yang tidak baik. Mulut, tidak asal sembarangan bicara. Dan hidung tidak asal membau.
Persis muka, dibasuh dengan mengeluarkan kotoran rohani berupa dosa. Setelah dibasuh, perilaku mukanya kembali menjadi terang. Tindak tanduknya kembali ke jalan agama yang lurus.
Begitu juga saat membasuh tangan, kepala dan kaki semua dihayati dan dimaknai sebagai basuhan yang akan mengembalikan hamba beriman kepada perilaku yang sesuai fitrah manusia.
Fitrah manusia selalu berada di jalan-Nya. Meski kadang berbelok, namun cepat kembali kepada jalan yang lurus melalu tobat yang sempurna. Semoga bermanfaat.
Trending Now