Konten dari Pengguna

Dari Service Kendaraan Ke Service Rohani: Menjaga Kinerja dan Kesehatan (4-End)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
2 Oktober 2025 9:36 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Service Kendaraan Ke Service Rohani: Menjaga Kinerja dan Kesehatan (4-End)
Peraawatan rohani dalam satu semester dan tahunan dengan cara puasa ramadan dan zakat.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bincang Syariah. com
zoom-in-whitePerbesar
Bincang Syariah. com
Pada tulisan yang ketiga, penulis sudah menjelaskan perawatan kendaraan dan rohani secara bulanan. Pada tulisan yang ke-4 ini, penulis insya Allah akan menjelaskan perawatan kendaraan dan rohani dalam satu semester dan tahunan.
Perawatan kendaraan dalam satu semester dan tahunan dengan cara melakukan service secara berkala sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pihak bengkel. Kendaraan yang sudah dipakai hilir mudik ke sana-kemari, tiba satu semester dan satu tahun dipakai harus segera diservice.
Bagian-bagian kendaraan yang vital, semua dicek kondisinya. Yang masih bisa diperbaiki, tinggal diservice. Sedangkan bagian tertentu yang harus diganti, maka harus diganti. Pergantian tertentu dari kendaraan semata-mata untuk kenyamanan dan keselamatan pengendara.
Begitu pun perawatan rohani, dalam satu semester dan tahunan harus diperhatikan. Dalam satu semester rohani kita jika tidak diberikan nutrisi, rohani bisa saja berontak dalam bentuk mental yang sakit.
Perawatan rohani, jangankan satu semester, tiga hari saja tidak menemukan makanan bergizi untuk rohani kesehatannya sudah mulai terganggu. Jiwanya sudah terasa risau dan gelisah. Apalagi satu semester dan tahunan, ini bisa lebih parah lagi.
Perawatan rohani dalam satu semester dan tahunan selain akumulasi puasa ayyamul bidh, ada puasa Ramadan dan zakat. Puasa Ramadan, merawat tubuh agar lebih sehat dan merawat rohani agar lebih bisa menjaga kedekatan kepada Tuhan.
Menjaga kedekatan dengan Tuhan dilalui oleh yang namanya takwa. Sebagaimana puasa untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Di dalam puasa Ramadan, jiwa didik dengan beragam pendidikan.
Mulai dari pendidikan Ilmu Astronomi, Ilmu Gizi, Ilmu Masak, Ilmu Fiqih Puasa, Fiqih Zakat, Ilmu Kesehatan, Ilmu Sosiologi-Antropologi, Ilmu Al-Qurโ€™an, Ilmu Tasawuf, Ilmu Ekonomi, Ilmu Politik, Ilmu Budaya dan berbagai ilmu lainnya.
Ramadan, ibaratnya sebuah universitas berkelas dunia. Di dalamnya banyak mengajarkan berbagai program studi. Lulusan Ramadan, dijamin menjadi manusia unggul (Takwa). Karakter unggul ini akan dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari dan sebelas bulan ke depan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia unggul kerjanya akan lebih produktif. Karakter kerjanya punya sikap disiplin yang tinggi. Waktu dan materi yang terbatas akan dipergunakan sebaik mungkin.
Manusia unggul sudah tahu bahwa waktu dan materi adalah titipan. Keduanya harus dipakai untuk hal-hal yang produktif. Manusia unggul jika berkendara di jalan raya, tidak akan ugal-ugalan, karena sudah tahu risikonya.
Ugal-ugalan menyebabkan terancamnya jiwa, seperti tabrakan. Sedangkan agama memerintahkan untuk menjaga jiwa, maka risiko ugal-ugalan di jalan raya sama saja tidak amanah menjaga jiwa.
Saat masuk ke dunia kerja, manusia unggul tidak akan membiarkan suasana kantornya sepi sunyi tanpa ada jeritan batin melalui salat dan perbuatan baik lainnya. Di kantor rohani tertata dan sikapnya diatur.
Rohaninya selalu diasah melalui salat duha dan salat wajib berjamaโ€™ah. Di dalam duha dan salat wajibnya, ia berdoa dan mengadu kepada Tuhannya agar kehidupan sementara ini diberikan keberkahan dan keselamatan. Baik selamat di dunia maupun di akherat.
Doanya, tidak hanya untuk pribadi dan keluarganya, namun untuk rekan kerja dan lebih jauh lagi untuk bangsa dan negaranya tercinta. Selesai menghadap dan mengadu kepada-Nya, lalu dilanjutkan dengan kerja.
Mulai kerja bibirnya basah dengan doa, paling tidak dengan kalimat Basmallah. Kalimat suci itu adalah pemantik untuk lebih produktif. Dengan Basmallah, kerjanya seolah-olah diawasi oleh Tuhannya.
Kerjanya tidak berbuat curang. Tidak menggunting dalam lipatan rekan kerja. Kerja tidak asal bapak senang. Kerja tidak korupsi. Kerja tidak cari muka. Sama rekan kerja mampu kerja sama dan saling membantu jika ada rekannya yang membutuhkan bantuan.
Baik diminta atau pun tidak diminta. Sikap empatinya tinggi dan di dalam membantu tidak selalu berorientasi kepada materi. Semua dikerjakan sesuai kemampuannya dalam upaya mewujudkan kemaslahan.
Baik untuk dirinya, keluarga maupun agama dan bangsanya sebagai bentuk dari pengamalan zakat dalam arti yang lebih luas dan universal. Semoga bermanfaat.
Trending Now