Konten dari Pengguna

Guru Tanpa Kelas dan Papan Tulis

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
25 November 2025 9:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Guru Tanpa Kelas dan Papan Tulis
Guru sejatinya tersekat kelas , namun ada guru kontekstual yang tidak tersekat kelas. Mereka adalah orang-orang yang mampu memberi keteladanan nyata, di tengah lingkungan fana.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Detik.com
zoom-in-whitePerbesar
Detik.com
Setiap tanggal 25 November, para pendidik di Indonesia memperingati hari guru. Hari itu, hari yang spesial bagi guru. Mereka sudah sekian tahun, bahkan puluhan tahun mengabdi jadi guru. Saat tiba hari guru, lepas haru yang bergemuruh di dada keluar melalui linangan air mata.
Rasa haru dan bahagia berselimut harapan, hari guru menjadi tonggak rancangan masa depan anak didik. Anak didik, pada sebagian sekolah, rela libur melepas gurunya untuk merayakan momentum hari guru. Guru masuk, murid libur tidak masalah. Batin guru untuk berkorban demi masa depan anak didik yang gemerlapan.
Guru mengajar dan mendidik tersekat dalam ruang-ruang kelas. Namun, ada guru yang mengajar tanpa kelas dan tanpa papan tulis. Guru berada di sekolah, namun guru kontekstual adalah mereka yang berada di mana-mana.
Memang betul, sejatinya guru itu berseragam. Datang pagi, pulang sore hari. Sabtu dan Minggu libur. Punya persyaratan akademik, berijazah S1. Setelah itu berkembang menjadi empat kompetensi yang harus dipenuhi. Mulai dari pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Itulah guru formal, yang tersekat ruang dan lingkungan sekolah.
Di lain pihak, ada guru yang selalu mengajar dalam setiap detak nafas kehidupan. Mereka mengajarkan berbagai mata pelajaran yang tidak terpaku dalam silabus dan kurikulum. Setiap hari terus bergerak memberi teladan kepada masyarakat.
Kelasnya terbuka dalam kehidupan masyarakat. Ada sopir yang tidak mau dibayar saat penumpangnya anak-anak sekolah dasar. Ia merelakan tidak mendapat imbalan jasa, ketika penumpangnya anak-anak sekolah.
Dalam batinnya menjerit, barang kali, inikah ruang kelasku berupa angkot sempit. Tintanya semangat memberi. Papan tulisnya medan juang yang tidak terbatas. Melompat kepada ojol. Setiap hari mencari penumpang, saat waktu menjawab sirna terlihat motor yang mogok.
Terlihat ojol itu menawarkan kebaikan untuk mendorong motor yang mogok. Kakinya yang mendorong motor, dibarengi dengan sapa dan tanya. Di belakang ada orang banyak, melihat indahnya memberi bantuan nyata. Puluhan mata menyaksikan, ojol itu sudah berubah menjadi guru.
Hari itu puluhan siswa kehidupan menyaksikan indahnya belajar melalui guru kehidupan ojol. Selang hari berganti dan pekan berlalu ke belakang. Dalam ingatan fakta sosial, di tengah malam saat hujan lebat, sebuah motor mati mendadak. Selang berapa waktu, datang tukang ojol, memberi tawaran untuk membantu.
Kakinya mendorong, tiba di rumah pihak yang motornya mati, ojol tidak mau dibayar. Di sana ojol sudah berubah guru. Guru yang memberi bantuan tanpa kenal dengan anak didiknya. Dalam batin yang ditolong itu, dadanya bergemuruh rasa syukur seraya mendoakan tukang ojol agar sehat dan berkah.
Waktu berlalu, jalan pendidikan karakter menemukan di ruang kerja para pejabat. Pejabat itu, setiap hari berkantor di berbagai tempat. Kadang berkantor di jalan kumuh, kadang di rumah yang kena banjir, kadang di bantaran kali yang banyak sampah, kadang berkantor di hamparan pasar amburadul dan berbagai kantor terbuka lainnya.
Setiap kali berkantor di ruang terbuka tanpa papan tulis, pejabat itu menulis dengan memecahkan masalah masyarakat. Sebelum menulis dengan memberi solusi, pejabat itu membuka keran pikir masyarakat yang beku, lalu disemprot melalui pemikirannya yang mencerahkan.
Langkahnya bukan dari kantor guru ke ruang kelas, namun langkahnya dari ruang sempit ke ruang terbuka lebar, berupa problem masyarakat yang luas. Di sana menaburkan tinta. Tinta itu berupa bantuan kepada orang-orang yang lemah. Jika pikir masyarakat lemah, dibantu dengan buah pikir pejabat yang kuat merekah.
Saling sapa berganti profesi guru kontekstual, pada kesempatan lain menghampiri tukang sapu jalanan. Tukang sapu mengayuh spidolnya berupa sapu lidi. Kelasnya, ada di setiap pinggiran jalan raya. Di sanalah tukang sapu itu mengajarkan kepada dirinya dan orang lain untuk rajin, tekun dan sabar.
Ratusan, bahkan ribuan mata mendapat pelajaran pentingnya rajin, tekun dan sabar. Sekilas tidak berharga profesi itu, namun ia telah mengambil alih guru untuk mendidik karakter. Apalah arti profesi yang berkelas, jika tidak mampu memberi pelajaran terbaik bagi ratusan anak didik tanpa kelas itu.
Waktu pun terus berputar, tibalah profesi guru tanpa kelas hadir dalam setiap orang. Apa pun profesinya, setiap orang bisa menjadi guru kontekstual. Guru untuk dirinya, keluarga dan lingkungannya.
Dirinya menjadi guru untuk pribadinya. Dirinya menata ulang setiap kata, sikap dan tindakan agar keteladanan tercipta untuk puluhan mata dan telinga. Keluarganya mendapat asupan pendidikan karakter dengan sikap: gigih, tekun, tanggung jawab dan rela berkorban.
Biar pun panas teriknya menyengat dan dingin hujan menusuk daging kehidupan, dirinya berdiri untuk keteladanan di tengah keluarga. Berganti dari keluarga ke masyarakat, setiap orang rela dinilai baik dan buruk oleh masyarakatnya.
Yang buruk, bisa disimpan di dalam bak sampah yang tertutup. Sementara diri yang menampilkan teladan yang baik dilihat dan dibuka untuk pelajaran tanpa kelas. Pelajaran itu bisa berupa tegur sapa, berbagi, peduli, menjenguk tetangga yang sakit, tidak menyetel radio kencang-kencang dan menghormati tetangga yang berbeda dengan keyakinannya.
Selamat Hari Guru. Jasamu sungguh memberi warna pekat kepada masa depan anak didik. Semoga bermanfaat.
Trending Now