Konten dari Pengguna

Hedonisme Kemerdekaan: dari Nilai Luhur ke Sekadar Hiburan

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
18 Agustus 2025 20:31 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hedonisme Kemerdekaan: dari Nilai Luhur ke Sekadar Hiburan
Mengisi HUT RI tidak saja dengan lomba yang membangun kecakapan lahirian, namun kecakapan batiniah pun perlu dibangun. Aspek lahirian hanya menempati 1%, 99% batiniah mesti digarap dan dibangun.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
tribunnews.com
zoom-in-whitePerbesar
tribunnews.com
Satu hari yang lalu, bangsa Indonesia dan masyarakat Indonesia telah merayakan HUT RI yang ke-80. Di dalam perayaan tersebut, bangsa Indonesia dan masyarakatnya berhasil mengingat perjuangan para pahlawan dalam upaya meraih kemerdekaan.
Upacara HUT RI digelar di berbagai tempat. Mulai dari upacara di tingkat kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, pemerintah provinsi sampai pemerintah pusat. Semua larut dalam gegap gempita kemerdekaan.
Belum lagi upacara yang dilaksanakan di berbagai tingkat instansi, mulai dari instansi sekolah, instansi pendidikan tinggi, berbagai dinas di lingkungan pemerintah dan mungkin juga di berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan.
Di Istana negara sendiri upacara di laksanakan dengan cukup meriah, meski oleh Presiden sendiri dibilang sederhana. Di Istana negara langsung dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dengan penuh khidmat.
Detik-detik sebelum upacara di HUT RI, kirab kemerdekaan pun digelar. Dengan segenap pasukan kuda dan pasukan pengawal bendera, masyarakat menyambutnya dengan gembira dan haru. Dentuman meriam dan pembacaan teks proklamasi pun menggeliat di atas langit biru dan gemuruh riuh.
Setelah itu dilanjutkan dengan pesta rakyat berupa menyaksikan deretan gerobak makanan yang ditata dengan rapi di belakang istana.
Sementara di Monas lomba-lomba yang tersebar di seluruh sisi Monas antara lain lomba tarik tambang, lomba makan kerupuk, lomba berhias (make up), lomba tiup gelas, lomba enggrang, lomba balap karung, lomba panjat pinang dan lain sebagainya.
Di kalangan masyarakat perayaan HUT RI yang ditandai dengan tumpeng, lomba anak-anak dan dewasa, termasuk menghadirkan organ tunggal untuk menghibur masyarakat. Secara otomatis organ tunggal lengkap dengan respon masyarakat dengan sumbang lagu diiringi joget ria.
Malam puncak dilaksanakan dengan mengundang warga masyarakat, lengkap dengan meja registrasi. Di situ masyarakat disuguhi makanan rinagan sambil menyaksikan pembagian hadiah, yang detail acaranya sudah diatur rapih oleh panitia acara.
Sikap dan perilaku masyarakat dalam merayakan HUT RI sejatinya merasakan aura kemerdekaan yang diisi oleh berbagai acara. Dari sekian acara yang digelar oleh masyarakat, jika disimpulkan hanya merayakan kemerdekaan yang bersifat lahiriah.
Sementara perayaan yang bersifat batiniah hampir jarang digelar. Perayaan yang bersifat lahiriah nuansa hedonisme lebih menonjol. Menurut Sarlito Wirawan Hedonisme adalah konsep diri, di mana gaya hidup seseorang dijalani sesuai dengan gambaran yang ada di pikirannya.
Sebagai contoh pengertian hedonisme adalah seorang olahragawan, biasanya gaya hidup sehat merupakan prinsip hidup dan menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka.
Tidak ada yang salah memang merayakan HUT RI dengan menyanyi bersama sambil berjoget. Hanya masalahnya, esensi HUT RI jangan hanya berhenti pada perayaan dan lomba asal anak dan dewasa senang.
Tetapi lebih dari itu perayaan dan lomba harus menghadirkan sajian yang bisa mendorong dan menggugah masyarakat untuk berbenah diri dan meningkatkan kualitas pribadi. Artinya, lomba dan kegiatan merayakan HUT RI mesti ada orientasi perayaan yang berkemajuan.
Tidak asal merayakan, namun dibalik acara perayaan apakah akan dapat memberikan sumbangsih untuk memperbaiki masyarakat atau justru akan merusak mental masyarakat. Sejatinya, umat beragama tidak asal merayakan dengan segenap aktivitas perayaan.
Namun, ada pertimbangan matang dibalik agenda perayaan. Jika agenda perayaan itu hanya akan melahirkan pribadi konsumtif dan berorientasi kesenangan sesaat sebaiknya dihindari. Upaya lomba untuk memberikan sajian kebebasan memang iya.
Hanya, lomba itu apakah akan mendorong untuk memperbaiki pribadi masyarakat atau tidak? Ini perlu pertimbangan matang. Makanya dalam membuat acara perayaan perlu keterlibatan orang-orang yang punya jiwa semangat membangun mental masyarakat yang membebaskan.
Perayaan yang digelar terkesan lebih banyak mengejar aspek kesenangan semata. Memang, agama itu mengarahkan kepada hambanya agar menjadi orang bahagia dalam artian senang. Tetapi kebahagiaan dan kesuksesan itu diarahkan untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Maka, tidak tanggung-tanggung umat Islam diseru oleh agama lima kali dalam sehari semalam agar mencapai bahagia dan sukses. Bahagia dan sukses ini disematkan ke dalam kehidupan manusia agar di dunia selamat dan di akhirat pun selamat.
Sementara merayakan dengan cara-cara yang merusak mental masyarakat, seperti bernyanyi dan berjoget, apakah hal itu akan menyelamatkan manusia? Tentu ini perlu kehati-hatian dari pihak panitia acara.
Acara memang disajikan untuk kesenangan masyarakat, tapi tidak hanya berhenti pada kesenangan sesaat. Kesenangannya kalau bisa diraih dengan visi masa depan. Tidak hanya masa depan di dunia, tapi di akhirat kelak.
Sekilas bernyanyi dan berjoget dalam merayakan HUT RI tidak ada yang salah, namun apakah kita berpikir bahwa masyarakat di bagian belahan sana ada yang belum bisa mendapatkan pendidikan dengan baik.
Kemiskinan masih tinggi. Angka belum bisa membaca al-Qur’an masih menjadi PR besar. Presentasinya tidak tanggung-tanggung, 65% masyarakat Indonesia belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik.
Apalah arti merayakan HUT RI dengan cara lomba dan kegiatan lainnya jika masyarakatnya sendiri masih banyak yang belum mengenyam pendidikan. Baik pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi.
Tidak heran agama menurunkan wahyu pertama QS. Al-‘Alaq ayat 1-5. QS. Al-‘Alaq ayat 1-5 ini untuk memerdekakan umatnya dari kegelapan dan nir peradaban.
Lalu, apakah dengan lomba kemerdekaan itu akan merdeka dari buta huruf? Sungguh, ini tidak mudah untuk dijawab.
Di sinilah penting untuk direnungkan bahwa merayakan kemerdekaan Indonesia tidak semata-mata diisi dengan lomba, namun bisa diisi dengan aktivitas yang bisa memerdekakan masyarakat Indonesia dari jurang kebodohan dan membuka keran kemajuan untuk diri sendiri, masyarakat dan lebih jauh untuk Indonesia.
Kita yakin bahwa Indonesia ke depan akan lebih baik lagi dalam mengisi kemerdekaan dengan cara tidak menonjolkan aspek hedonisme dalam mengisi kemerdekaan. Tetapi juga menggarap aspek rohaniah yang menjadi isi dari kehidupan manusia. Semoga bermanfaat.
Trending Now