Konten dari Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan (4)
11 September 2025 14:31 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan (4)
Kesibukan yang berupa dzikir adalah kesibukan yang memberik kekuatan pada jiwa. Jiwa akan memancarkan aura kebaikan kepada lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selesai melaksanakan salat subuh, tidak lupa berdzikir. Paling tidak berdzikir dengan mengucapkan subhannallah 33x, ahamdulillah 33x, Allah akbar 33x dan kalimat tahlil 33x. Berdzikir dengan kalimat tersebut, tidak asal-asalan tapi dihayati dan dijiwai ketika mengucapkannya.
Saat mengucapkan kalimat subhanallah, bayangkan kita sedang menyucikan Allah dengan lisan. Perbuatannya dengan salat dan berbagai aktivitas amal saleh lainnya. Perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari setidaknya bertumpu pada kalimat tasbih itu.
Luka-liku aktivitas seharusnya dijiwai oleh kalimat tasbih. Jika kalimat tasbih itu selalu dibawa ke mana pun pergi, damailah semesta ini. Semua aktivitas akan diselimuti oleh aura tasbih itu. Ketika bergumul dengan dunia sosial, masyarakat akan terberi sinar. Sinar itu berupa kalimat yang keluar dari lisan dan sikapnya yang akan memberi arti kehidupan.
Bilangan tasbih 33x, hanya patokan minimal. Bukan tidak boleh lebih, silakan dilebihkan. Anggap saja 33 x itu bentuk latihan awal, jika sudah terbiasa tinggal dilanjutkan di luar salat. Tasbih di luar salat tidak berupa kalimat lagi, tapi berupa perilaku yang menyucikan Allah.
Menyucikan Allah; tidak berbuat maksiat, melawan hukum Allah, menantang takdir Allah, menyamakan perbuatan Allah dengan perbuatan manusia, dan lain sebagainya. Lalu dilanjut dengan ucapan alhamdulillah sebanyak 33x.
Ucapan alhamdulillah sebanyak 33x ini bukan melafalkan dengan lisan tanpa menghadirkan harapan kosong, namun diucapkan dengan harapan penuh. Saat kalimat alhamdulillah diucapkan, bayangkan fisik kita sehat. Anak dan istri sehat. Orang tua dan mertua sehat. Dan tetangga kita sehat semua.
Makan enak, meski hanya dengan telur dadar. Tidur nyenyak, meski hanya beralaskan tikar lusuh. Mata terpejam, meski banyak bayangan keinginan. Bangun tidur subuh, meski tidur aga larut malam. Semua dibayangkan bahwa itu hadir bersama kita.
Saat dibawa kerja, ucapan alhamdulillah itu terus berlanjut dalam bentuk sikap yang bersyukur. Tiba di kantor, alhamdulillah sampai dengan selamat, tidak ada gangguan dan kemacetan yang membuat jiwa cepat lelah.
Saat gajian tiba, alhamdulillah rezeki sudah keluar, meski kurang tidak biasanya. Saat menemukan gaji terlambat, alhamdulillah, yang penting masih ada tabungan. Semua kejadian selalu memuji kepada-Nya.
Dialah yang menghendaki ini semua. Ini semua untuk pelatihan dan penggemblengan agar jiwa ini semakin kuat menghadapi kenyataan hidup. Hidup, tidak harus selalu berjalan mulus. Terkadang harus menemukan hidup yang tidak biasanya.
Hal itu tidak lain dan tidak bukan untuk membuat manusia semakin kuat mental dan nyali menghadapi hidup. Di saat itulah, sikap kita perlu mengedepan rasa syukur. Itu artinya, Allah percaya sama kita bahwa bukan orang lain yang tertimpa musibah ini, tapi kita sendiri.
Jika ujian dan musibah ini menimpa selain kita, tidak tahu akan sekuat kita atau tidak. Yang jelas, saat ditimpa perlakuan hidup yang tidak mengenakkan itu, jiwa kita sudah benar-benar lapang menghadapinya. Bukan pasrah, tapi lapangnya penerimaan diri ini.
Ucapan alhamdulillah selesai, segera menyambut bacaan berikutnya berupa Allah akbar 33x. Ucapan takbir ini, diucapkan dengan segala perilaku dan ucapan yang mengagungkan nama Allah. Mengagungkan nama Allah, setelah keluar dari masjid merembes menjadi sikap yang tidak ingin dibesar-besarkan oleh orang lain.
Biarkan jasanya tidak dibesarkan oleh orang lain, asalkan nilainya dibesarkan oleh yang Maha Besar. Biarkan tingkah laku kita dikecilkan dan dianggap remah di mata orang lain, asalkan di mata Allah itu semua bernilai . Jika sudah demikian, hati ini tidak menganggap lebih hebat dan lebih besar, tapi yang hebat dan besar hanyalah Sang Dia.
Bergaul dengan semua manusia di kantor tidak terjebak pada tampilan jabatan, namun masuk ke semua lapisan. Bagi dirinya, mau office boy, staf, Kabag, Kadiv, kaprodi-sekprodi, wadek 1, wadek 2, dekan dan rektor, semua sama-sama manusia yang perlu dimanusiakan harkat dan martabatnya.
Jiwanya egaliter dan bisa bergaul dengan semua lapisan. Peran atasan dan bawahan, hanya sementara saja. Di luar kantor, semua sama. Jika menjadi atasan, saat di luar kantor tidak punya hak untuk instruksi ini itu.
Saat di laur kantor tidak ada atasan dan bawahan, semua sama-sama manusia yang punya hak untuk dihormati dan hargai. Urusan kantor berlaku hanya di jam kantor. Di luar kantor kembali kepadanya masyarakat, tidak terjebak pada atasan dan bawahan.
Kembali ke keluarga, di keluarga tidak ada atasan dan bawahan. Semua anggota keluarga berhak mendapat perhatian. Istri berhak atas suaminya dan suami pun berhak atas istrinya. Istri dan suami sama-sama punya hak dan kewajiban satu sama lain. Tinggal diatur saja ritmenya hak dan kewajiban itu.
Anak juga berhak mendapatkan perhatian dan panggilan kewajiban dari kedua orang tuanya. Di rumah, semua jabatan dilepas. Semua menyatu di dalam keluarga. Saling tegur sapa antara ayah, istri dan anak. Kadang bercanda, kadang serius.
Sesekali suami mengimami salat di rumah bersama istri dan anaknya. Setelah itu, salaman dan saling bercerita satu sama lain. Jika ayah cerita, istri dan anak mendengarkan dan sesekali menimpali. Jika istri cerita, ayah dan anak menyimak dengan khusuk, sambil sesekali melempar senyum dan pertanyaan.
Jika anak bercerita, ayah dan istri menyimak sambil mengusap dan menyentuh dengan hangat cintanya orang tua. Semua berjalan dalam balutan saling menghargai dan mencintai, yang diilhami oleh balutan kalimat takbir. Semoga bermanfaat.

