Konten dari Pengguna

Hikmah di Balik Kesibukan (5)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
15 September 2025 9:29 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan (5)
Kesibukan di pagi hari salah satunya membaca al-Qur'an. Ia seperti membaca sura dari kekasih tercinta, yang tidak pernah terlewatkan sedetik pun.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Parentquads.com
zoom-in-whitePerbesar
Parentquads.com
Selesai berdzikir, kaki melangkah keluar masjid sambil mengucapkan doa. Donya,”ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari sebagian keutaman-Mu.” Permintaan ini diucapkan dalam hati dengan kesungguhan. Setibanya di rumah dengan mengucapkan salam, tangan langsung meraih kitab suci al-Qur’an untuk dibaca.
Membaca kita suci al-Qur’an ibaratnya membaca surat dari kekasih yang paling kita cintai. Orang beriman yang merindukan perjumpaan dengan-Nya, pasti akan membaca surat dari kekasih-Nya.
Sesibuk apa pun, sebaiknya harus menyisakan waktu untuk membaca al-Qur’an. Tidak usah mengatakan tidak punya waktu, sisihkan waktunya untuk membaca al-Qur’an. Al-Qur’an yang kita baca adalah obat untuk umat manusia yang beriman.
Getaran al-Qur’an yang masuk ke dalam jiwa kita mampu menggetarkan sel-sel yang ada di seluruh tubuh. Sel dalam tubuh diberikan asupan nutrisi terbaik bagi jiwa. Makanya, membaca al-Qur’an tidak harus banyak alasan, namun harus dianggap kebutuhan pokok.
Kebutuhan pokok jasmani salah satunya makan. Anggap saja salah satu kebutuhan pokok rohani adalah membaca al-Qur’an. Al-Qur’an harus menjadi benda yang sering dipegang, seperti seringnya pegang HP.
Ia harus dijadikan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana membutuhkan makan untuk jasmani. Jika sudah menjadi kebutuhan pokok, jiwa kita akan menagih saat belum menyentuh al-Qur’an.
Maka, tidak salah di HP mesti ada aplikasi al-Qur’an, agar saat kita ada dalam perjalanan masih tetap bisa membacanya. Dialah salah satunya yang bisa memberikan penenang dalam mengisi setiap aktivitas manusia beriman.
Tidak ada artinya orang beriman, jika belum banyak menyentuh al-Qur’an. Membaca al-Qur’an, tidak boleh banyak-banyak langsung satu atau dua juz, namun untuk langkah awal bisa satu sampai dua halaman yang penting konsisten.
Membacanya dicari waktu yang nyaman, seperti setelah salat maghrib dan subuh. Setelah maghrib dua halaman dan setelah subuh dua halaman. Insya Allah dalam tempo waktu tiga sampai empat bulan bisa menamatkan bacaan al-Qur’an.
Membaca al-Qur’an sebaiknya jangan terburu-buru. Membacanya dinikmati dan diresapi. Anggap saja kita sedang membaca surat dari kekasih, saking asyiknya apa yang dibaca meresap ke dalam jiwa.
Jiwa yang menikmati bacaan al-Qur’an adalah jiwa yang siap menerima hikmah dari al-Qur’an. Bibirnya basah dengan bait-bait al-Qur’an. Salah satu hikmahnya, darah tinggi pun bisa berangsur-angsur normal.
Jiwa yang sering dibacakan al-Qur’an, jiwanya akan sehat. Bahkan jiwa itu merespon dengan membentuk kristal dalam darah. Menurut peneliti air asal Jepang, Masaru Emoto, air yang dibacakan kalimat baik, air itu akan membentuk kristal.
Tubuh kita sebagian besar isinya darah. Di dalam darah itu ada banyak kandungan air. Air setiap hari yang selalu dibacakan al-Qur’an, maka air itu akan membentuk kristal. Kristal ini bukan bendawi sifatnya, namun kesehatan jiwa terbangun.
Setelah membaca al-Qur’an, hendaknya berdoa kepada Allah. Setiap selesai melakukan amalan saleh hendaknya berdoa dan membaca al-Qur’an salah satu amalan saleh. Jadi, tidak ada salahnya setiap kali selesai membaca al-Qur’an, setiap itu pula berdoa dengan khusuk.
Berdoa sambil menghadap kiblat. Anggap saja kita sedang berhadapan langsung dengan sang pemilik al-Qur’an. Doanya penuh syahdu, dipanjatkan dengan penuh serius. Dalam hatinya bergumam, ini adalah proposal mujarab yang akan segera dikabul.
Selesai berdoa, tangan yang sudah diangkat diusapkan ke muka. Getaran-getaran energi doa dan hikmah bacaan al-Qur’an itu masih tersimpan dalam tubuh dan tangan kita. Tangan yang diangkat karena memohon kepada-Nya dengan penuh harap adalah tangan yang penuh energi hikmah.
Setelah selesai membaca al-Qur’an dan berdoa, kitab suci itu disimpan di tempat tertinggi. Tidak boleh ada benda lain yang disimpan di tempat tinggi kecuali al-Qur’an. Usahakan posisi al-Qur’an disimpan di tempat tinggi.
Menyimpan di tempat tinggi adalah salah satu bentuk penghormatan yang tinggi. Begitu pun, saat ada acara resmi, posisi membaca al-Qur’an yang dilantunkan oleh qori sebaiknya ditempatkan di awal.
Agar acara yang diawali dengan lantunan kitab suci al-Qur’an bisa mendapatkan keberkahan. Salah satu berkahnya adalah acara berjalan lancar. Ini yang sering diminta oleh seseorang ketika mengawal suatu acara.
Apalah artinya, acara mewah jika dalam pelaksanaannya berantakan tidak karuan. Lebih baik acara sederhana, tapi lancar dari pada acara mewah, namun berantakan tidak jelas. Ini yang harus menjadi komitmen seorang muslim saat mengawal acara.
Alasan lain bacaan al-Qur’an tidak bisa diawal, seharusnya malu, apalagi yang mengadakan acara itu panitianya dipandang orang-orang yang terdidik. Maka seharusnya tidak boleh ada alasan lain, kecuali alasannya untuk mengagungkan kalamullah. Semoga bermanfaat.
Trending Now