Konten dari Pengguna

Hikmah di Balik Kesibukan: Berangkat Kerja (8)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
23 September 2025 9:16 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan: Berangkat Kerja (8)
Berangkat kerja dipersiapkan perlengkapannya. Mulai dari helm, sandal jepit, jas hujan, air minum sampai memetakan keadaan jalan. Jika macet dan ingin hemat memakai motor. Dan mobil saat diperlukan.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bincangsyariah.com
zoom-in-whitePerbesar
Bincangsyariah.com
Setelah mandi, sarapan dan pamit kepada anak dan istri tercinta lalu berangkat kerja. Sebelum berangkat kerja, segala kebutuhan baik saat di jalan ataupun saat di kantor dipersiapkan sebaik mungkin.
Jika kerja dengan membawa roda dua, persiapkan seperti jas hujan, sandal jepit, kantong kresek, air minum, SIM, STNK dan lain sebagainya. Jika membawa mobil siapkan uang receh, SIM, STNK, peralatan darurat mobil dan pastinya uang yang cukup.
Setelah dirasa siap lalu berangkat kerja dengan berdoa kepada Allah. Keluar rumah yang diiringi dengan doa, nilai kerjanya menjadi ibadah. Di jalan berkendara dengan penuh hati-hati, tertib lalu lintas dan menghormati sesama pengguna jalan.
Menghormati masyarakat tidak hanya di tetangga, ruang kelas, ruang pengajian, dan masjid, namun di jalan pun harus sama-sama menghormati pengguna jalan.
Tidak merasa mobilnya paling bagus, tidak merasa dirinya paling hebat apalagi minta diutamakan sebagai pengguna jalan, namun berjalan seperti orang-orang pada umumnya.
Berjiwa egaliter dan sopan di jalan itu penting, untuk menciptakan ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Orang beriman punya modal untuk tertib dan sopan dalam setiap keadaan, termasuk saat berkendara.
Kalau melihat ada kendaraan yang membutuhkan lebih dulu, tidak ada salahnya diberi. Jika ada pejalan kaki yang menyeberang jalan, berikan tanda dengan tangan atau lampu hazart sebagai tanda hati-hati kepada mobil yang ada di belakang.
Sebaliknya, jika kita sendiri yang dikasih jalan, berikan klakson atau lambaian tangan sebagai ucapan terima kasih. Dunia jalan raya akan indah, jika satu sama lain saling mengerti. Kapan harus mendahulukan orang lain dan kapan kita harus mengucapkan terima kasih.
Semuanya harus berjalan sesuai kondisi di jalan. Jalan sedang sibuk, bersabar harus ditingkatkan. Jalan sedang macet, bersabar tidak banyak menekan klakson. Puasa menekan klakson lebih penting dari pada lancar penuh risiko.
Hikmah wudunya dipakai, saat di rumah sudah mengambil air wudu. Fungsi wudu di jalan untuk menekan tingkat amarah. Orang yang berwudu, memberi dorongan kepada tubuh menjadi orang yang tenang dan damai.
Maka, kedamaian dan ketenangan ini dibawa ke jalan raya dengan tidak terburu-buru dan sabar melihat keadaan jalan. Keadaan jalan tidak selamanya lancar.
Kadang jalan raya macet, tersendat, banyak parkir sembarangan, jalan menyempit karena ada pasar, dan masyarakat banyak menyeberang jalan.
Kondisi di atas harus dipahami dan dimaklumi bahwa itu di luar kemampuan dirinya. Keadaan di atas harus diterima dengan lapang dada, meski sedang dikejar-kejar waktu untuk sampai lebih cepat.
Tidak ada salahnya, sebelum berangkat kerja memetakan terlebih dahulu kondisi jalan raya. Ukur kebutuhan waktunya. Jika macet berat, sebaiknya bawa kendaraan roda dua agar lebih mudah. Jika hujan deras, boleh membawa roda empat agar tubuh terlindung dari dinginnya hujan.
Jika ingin hemat, tidak boros bawa kendaraan roda dua. Roda dua lebih cepat mobilitasnya, cepat sampai tujuan, namun risiko di jalan cukup besar. Memang, roda dua dan roda empat masing-masing membawa risiko. Jika tidak ingin menanggung risiko, tidak usah bawa roda dua dan roda empat. Naik angkot atau naik grab saja lebih praktis.
Saat sampai tempat parkir, pilih tempat parkir yang nyaman untuk kendaraan. Perlakukan kendaraan itu seperti orang. Tidak di tempat terlalu panas, cari tempat teduh agar tidak cepat rusak kendaraan.
Tiba di kantor, jangan lupa sapa orang yang di kantor. Peran di kantor memang berbeda-beda, namun hakikatnya mereka juga sama-sama manusia, yang wajib dihormati keberadaannya. Menjadi atasan, tidak pongah dan angkuh, apalagi tidak humanis.
Menjadi kepala bagian, perhatian atas tanggung jawabnya yang ada di bawah. Menjadi staf, mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Begitu pun menjadi OB, mengerjakan tugas dengan semaksimal mungkin. Itu semua hanya peran yang berbeda, namun sesungguhnya sama-sama sedang mencari karunia Allah.
Sampai ruang kerja, lepas sepatu dan simpan tas. Sing-singkan lengan baju, ambil air wudu. Salatlah dua-empat rakaat sebelum mulai kerja. Mohonkan kepada-Nya, semoga pekerjaan hari ini diberikan petunjuk, arahan, dan kemudahan.
Nikmati proses wudunya. Nikmati proses salatnya. Tidak usah terburu-buru wudunya, nikmati basuhan demi basuhan. Nikmati pergerakan salat demi pergerakan. Di dalam proses wudu, bayangkan saat membasuh muka kita sedang membersihkan dosa yang dilakukan oleh mulut, mata dan hidung.
ketika salat, nikmati ayunan tangan saat takbir. Resapi kalimat takbir itu dengan cara memasukan kalimat takbir ke dalam hati yang paling dalam. Selesai salat, berdoalah kepada-Nya agar hari itu diberikan kelancaran dan keberkahan.
Yakinlah, saat keluar rumah rezeki sudah Allah siapkan dengan pasti. Jika tidak dapat hari ini, mungkin besok pagi. Jika tidak dapat besok pagi, mungkin minggu depan. Jika tidak dapat minggu ini, mungkin bulan depan.
Jika tidak dapat bulan ini, mungkin bulan depannya lagi atau semester awal. Rezeki waktunya datang, ia tidak akan mampir ke mana pun.
Rezeki nomplok itu adalah rezeki yang sudah diusahakan saat beberapa bulan ke belakang. Keluar di waktu yang tepat dan kebutuhan yang tepat.
Teruslah berusaha dan berusaha, tenaga dan pikiran yang sudah digunakan untuk kerja, tidak ada yang sia-sia. Ia akan diberikan saat momen dan waktu yang tepat. Semoga bermanfaat.
Trending Now