Konten dari Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan: Ketika Sedang Kerja (10)
30 September 2025 13:22 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan: Ketika Sedang Kerja (10)
Ketika sedang kerja harus memperhatikan sisi humis dan egaliter agar selamat.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah membaca Basmallah untuk mengawali kerja, lalu bekerja dengan sebaik-baiknya. Kerja yang baik, kerja yang memperhatikan keselamatan kerja. Jika kerja kantoran yang banyak berhubungan dengan orang per orang, maka proses berhubungan dengan orang itu harus memperhatikan sisi humanis dan egaliter agar selamat.
Hubungan kerja yang dibangun berdasarkan rasa humanis adalah kerja yang memperhatikan rasa kemanusian dan sekaligus memposisikan pada pada fitrahnya. Kerja berbasis rasa kemanusiaan sama dengan kerja dengan mengedepankan rasa cinta kepada sesama.
Kerja yang fokusnya kepada sesama manusia, tentu jangan disamakan dengan kerja yang fokusnya administrasi. Sentuhannya lebih banyak kepada administrasi, bukan orang per orang. Kerja yang fokus kepada sesama, kerjanya tidak boleh sesuka hati menurut selera bos.
Apalagi kerja asal bapak senang, rawan terjadi bentrokan pendapat antar bagian satu dengan bagian lainya. Kerja yang didasari asal bapak senang, lambat atau cepat akan runtuh. Berbeda dengan kerja yang lebih mengedepankan aspek humanistas, pada posisi itu akan menimbulkan suasana kerja yang kondusif.
Suasana kerja kondusif, pada gilirannya akan mampu memberikan motivasi kerja dan mental kerja. Motivasi dan mental kerja terbangun, inovasi kerja akan muncul. Inovasi kerja itu mampu bekerja dengan cara berbeda pada umumnya.
Kerja berbasis inovasi akan banyak ide-ide kreatif. Tempat kerja pun bisa di mana dan kapan saja. Soal seragam keja tidak usah diatur, yang penting nyaman dikenakan, namun ada sopan santun yang dikedepankan.
Tidak birokratis dan perosedural, tapi menggunting antrian panjang sesuai kebutuhan yang meminta cepat untuk dikerjakan. Antar bagian saling mendukung di satu sisi. Di sisi lain, antar bagian saling memberikan masukan dilihat dari luar bagiannya.
Diskusi saat kerja perlu dibuka ruang. Sarana kantor ditata serapih dan semanusiawi mungkin, agar kerja berbasis diskusi itu bisa melahirkan ide-ide baru. Semua posisi dalam suatu bagian, perlu mengembangkan suasana pergaulan yang egaliter.
Suasana atasan dan bawahan, tidak akan memberikan mental kera yang baik. Yang ada hanya menimbulkan kelas-kelas. Kelas borjuis dan kelas proletar bisa tercipta. Apalagi, bos yang selalu ingin dilayani, bukan melayani.
Susana demikian tidak lebih penjajahan baru. Lihat gaya kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi, pemimpin Jawa Barat yang belakangan lebih fenomenal di seantero bumi Indonesia, bahkan dunia.
Dalam satu video yang beredar di media sosial yang bersumber dari channel yuotubenya, ia mengatakan bahwa pemimpin tidak usah dilayani makannya. Ambil sendiri nasinya. Ambil sendiri lauk pauknya.
Katanya lagi, nanti kalau sudah tua terkena stroke malah akan latihan, bagaimana tangan mengambil sesuatu. Tangan ini harus dilatih. Makanya, dari sekarang pergunakan tangannya untuk bergerak mengambil makanan, jangan diambilkan. Tidak boleh manja.
Dari perkataan KDM tersebut, memang ada benarnya. Jabatan ada batas dan waktunya. Saat purna dari jabatan, perilaku pemimpin yang selalu dilayani bisa menimbulkan Sindrom Post-Power.
Sindrom Post-Power adalah kondisi kejiwaan yang muncul setelah seseorang kehilangan kekuasaan atau jabatan, menyebabkan perasaan rendah diri dan kehilangan identitas, yang terjadi karena tidak bisa menerima perubahan setelah masa kejayaan.
Itulah yang dikhawatirkan setelah purna jabatan. Lebih baik aktif sekarang dari pada nanti terjadi seperti di atas. Namun, tampaknya kursi empuk kekuasaan menina bobokan yang duduknya.
Lihat panutan kita, Nabi Muhammd SAW, diakhir hayatnya yang disebut-sebut itu adalah umatnya, bukan istri-istrinya. Beliau begitu egaliter dan bersahaja. Apabila beliau duduk bersama sahabatnya, beliau bisa duduk di mana saja tanpa terjebak oleh kedudukan sebagai Nabi dan Rasul.
Beliau kaya raya, namun kekayaannya banyak dipergunakan untuk sosial keagamaan. Bukti beliau kaya, saat menikah dengan Sayyidah Khadijah, maskawinnya 20 ekor unta dan 12 ons emas. Namun, beliau tetap egaliter dan humanis tidak mentang-mentang kaya.
Jabatan bukan segalanya, namun jabatan segalanya untuk berbuat kebaikan lebih banyak. Jabatan tidak menjadi aji mumpung, tapi jabatan menjadi media renungan untuk hidup bersama Allah yang Maha Agung. Semoga bermanfaat.

