Konten dari Pengguna

Hikmah di Balik Kesibukan: Mulai Kerja dengan Basmallah (9)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
26 September 2025 10:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hikmah di Balik Kesibukan: Mulai Kerja dengan Basmallah (9)
Mulai kerja dengan Basmallah. itu artinya semua hasil pekerjaan disandarkan kepada Allah SWT.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
pinterest.com
zoom-in-whitePerbesar
pinterest.com
Setelah melaksanakan salat sunnah Duha, tibalah saatnya untuk mulai kerja dari jam yang ditentukan. Mulai kerja, mengawali dengan Basmallah. Kerja yang dimulai dengan Basmallah adalah kerja yang tidak sembarang kerja.
Kerja yang dimulai dengan Basmallah itu merupakan kerja dibawah pengawasan Allah. Konsekwensinya, kerja akan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada ceritanya kerja yang dimulai dengan Basmallah, kerjanya malas-masalan.
Kerja yang dibasahi dulu bibirnya dengan Basmallah, hasil kerjanya diserahkan kepada-Nya. Hasil tidak hasil, yang penting berproses. Soal hasil tidak dipermasalahkan, yang penting setiap hari berproses dengan cara keluar dengan niat bekerja.
Tentunya, sebelum keluar rumah sudah pamit sama keluarga dan berdoa sebelum melangkahkan kakinya ke tempat kerja. Dari sini saja bagi orang yang kerja karena-Nya, soal hasil kerja tidak dipermasalahkan.
Kerja yang dilandasi dengan Basmallah, kerjanya tidak akan berbuat curang. Kerjanya dipandu oleh Basmallah, yang mengharahkan kepada jalan yang benar. Saat menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan peribadi, ia ingat ini peribadi bukan kebutuhan kantor.
Saat melipat barang kantor, ia ingat ini mencuri tidak boleh dilakukan. Pulang kerja sebelum waktunya, ini pun dicela oleh agama yang kita kenal dengan korupsi waktu. Hikmah Basmallah melarang itu.
Maka, Basmallah itu salah satu maknanya adalah melekatkan diri pada Allah dalam setiap perkajaan. Pekerjaan apapun yang dilakukan, hakikatnya kembali bersandar kepada-Nya. Pekerjaan tidak membuahkan hasil, kembalikan saja pada-Nya.
Pekerjaan mengalami masalah cukup berat, ini hasil hikmah Basmallah. Tidak ada yang tahu persis sedetik pun soal nasib manusia ke depan. Yakinlah pada Allah bahwa masalah itu dititipkan kepada kita, karena hanya kita lah yang sanggup menanggung beban masalah itu.
Setelah berhasil melalui masalah besar itu, lalu Allah akan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kesanggupan kita. Terkadang kita memaksa ingin kerja di kantor itu dan ini, namun sebenarnya belum siap.
Sebelum kerja menetap seperti yang sekarang ini, barang kali kita masih ingat saat dulu pertama kali kerja. Pertama kali kerja, kita kerja serabutan alias tidak menentu. Kadang kerja kuli bangunan, jualan punya orang lain, kerja di tempat negatif dan kerja yang hanya seminggu sekali.
Kerja demikian seperti tidak ada gunanya, padahal kerja di atas itu banyak kegunaannya untuk pembentukan mental kerja. Mental kerja sangatlah penting. Biarkan kerja seminggu sekali, asalkan bisa menjadi modal untuk tahan banting di tempat kerja yang sudah tetap.
Kerja yang dipandang sebelah mata itu, pada umumnya tidak dilihat sebagai pendahuluan kerja. Ibaratnya dalam membuat karya tulis ilmiah, tidak ujug-ujug langsung menjelaskan bab dua, namun terlebih dahulu menjelaskan pendahuluannya.
Di dalam kerja pun demikian, kerja kasar dan serabutan anggap saja pelatihan kerja. Saat mental dan motivasi kerja sudah terbangun, di saat itulah pekerjaan akan diberikan secara bertahap.
Bisa jadi, kita kerja di tempat A dengan tantangan level 3. Setelah itu kerja di tempat B dengan tantangan level 4. Sekian waktu kerja di tempat B, di lain kesempatan berganti kerja di tempat C dengan tantangan level 5. Dan seterusnya.
Kerja model demikian sudah banyak dialami oleh hampir semua orang. Persoalannya, ada masa seseorang itu tidak sabar melalui proses itu. Bahkan, ada seeorang ingin langsung bergaji besar. Apalagi, sekarang ini banyak pengangguran Gen Z.
Gen Z saat wawancara kerja minta gaji langsung besar, sedangkan mental kerjanya belum teruji di lapangan. Inilah pentingnya memahami bahwa semua pekerjaan itu dilalui dengan penuh liku-liku.
Tidak ada ceritanya kerja itu langsung enak dan dapat gaji besar, kecuali mendapat warisan kedudukan dari orang tuanya yang meninggal. Hampir semua pekerjaan dilalui dengan jalan terjal, kadang licin, banyak belokan, tanjakan miring dan dipenuhi dengan bebatuan. Semoga bermanfaat.
Trending Now