Konten dari Pengguna
Hujan Sebagai Pendidik Universal (1)
2 Desember 2025 9:32 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Hujan Sebagai Pendidik Universal (1)
Hujan tidak hanya menurunkan air saja, namun menurunkan berbagai pendidikan yang universal, di antaranya memberikan pelajaran bahwa Allah satu-satunya tempat bergantung.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut BMKG, musim hujan di Indonesia diprediksi akan terjadi sekitar September dan November 2025. Sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan telah memasuki musim hujan sebelum September 2025. Selanjutnya, musim hujan akan meluas secara bertahap ke wilayah selatan dan timur, dengan sebagian besar daerah diprediksi mulai mengalami musim hujan pada September, Oktober, dan November 2025.
Indonesia bagian Barat puncak musim diprediksi terjadi bulan November hingga Desember 2025. Sementara di Indonesia bagian Selatan dan Timur akan terjadi Januari hingga Februari 2026.
Hujan memberi kehidupan baru. Di dalamnya ada rahmat Allah yang turun. Dan di dalamnya juga banyak pelajaran penting yang perlu direnungkan. Hujan mengajarkan ketergantungan manusia kepada Allah.
Sudah lama tidak turun hujan, manusia gelisah dan bermasalah. Di saat itulah manusia lari kepada-Nya melalui salat meminta hujan. Tidak Bergantung kepada-Nya, melelahkan. Sedangkan bergantung kepada-Nya memberi ketenangan.
Banyak manusia yang menggantungkan kehidupannya kepada atasan. Perlu disadari menggantungkan kepada atasan tidak selamanya menjadi atasan, ada saatnya melepaskan jabatan. Bumi ini berputar, tidak diam. Ia aktif bergerak dan terus bergerak, meski kiamat esok hari akan tiba, Bumi teruslah bergerak
Pergerakan itu adalah sunnatullah. Tidak hanya manusia, alam, makhluk dan benda-benda lain pun bergerak dan bergantung kepada-Nya. Pergerakan itu pula yang mempergilirkan siang dan malam, termasuk mempergilirkan status sosial. Tahun ini memegang jabatan, tahun depan tidak lagi.
Maka, manusia yang menggantungkan kehidupannya pada atasan, besok-besok ketika atasannya sudah tidak menjabat lagi, kehidupannya akan rapuh. Jiwanya akan terbelah dan harapannya kosong tanpa arah.
Namun, ketika menjadikan Allah sebagai satu-satu tempat bergantung, ke mana pun pergi dan perubahan alam ini deras mengalir, Dia tidak akan pernah berubah dan lemah. Dialah yang memegang kendali atas seluruh alam ini, termasuk hujan di dalamnya.
Hujan tidak hanya turun dari langit ke Bumi, namun hujan turun memberi pelajaran bahwa Allahlah satu-satu tempat bergantung. Melalui hujan, Dia memberi kehidupan baru. Tanah yang tadinya gersang dan tandus, saat hujan turun memberi berkah subur.
Tanaman dan tumbuhan yang layu, ketika hujan tiba menggeliat dan penuh berkah. Para petani padi, sawahnya basah. Padi yang ditanam tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan padi menghidupkan berbagai pihak: mulai dari penjual pupuk, penjual obat hama, perawat padi, pencangkul sawah, tukang traktor, penjual bensin, penjual makanan pokok dan lain sebagainya memberikan keberkahan.
Tidak ada istilah hujan membawa petaka. Hujan turun sesuai dengan takarannya. Banjir dan longsor bukan karena air turun berlebihan, namun karena tempat menampung air sudah rusak dan pepohonan di gunung sudah banyak beralih fungsi.
Sehingga, saat turun hujan deras menyapa Bumi, wajar terjadi banjir dan longsor. Jangan salahkan hujannya terlalu deras, salahkanlah perilaku manusia yang serakah dan pembuat kerusakan.
Dalam konteks agama, manusia harus ikut andil merawat Bumi. Merawat Bumi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: tidak membuang sampah sembarangan. Membuang sampah ke saluran air, itu sifat tercela. Sama seperti memberi kotoran kepada manusia yang airnya banyak dipakai oleh masyarakat melalui air sumur.
Melalui hujan manusia diarahkan oleh Allah untuk bersyukur. Salah satu bentuk syukur tidak membuang sampah ke kali, ke got dan jalan-jalan yang banyak dilalui masyarakat umum. Sebaliknya: jika kali bersih, got tidak ada sampah dan jalan-jalan bersih, hikmahnya tidak akan ada penyakit yang diundang oleh air dan lingkungan kotor.
Air kotor banyak nyamuk, sarang tikus, kelabang dan lalat. Begitu juga lingkungan banyak sampah, mengundang lalat, tikus, bakteri dan kuman-kuman penyebab diare. Air dan lingkungan kotor memberi aura negatif kepada penghuninya. Maka, wajar jauh-jauh hari Rasulullah meminta sahabatnya untuk menyisir rambutnya.
Ini bukan tentang laki-laki pesolek, namun rambut yang tidak rapi memberi aura negatif kepada orang yang melihatnya, termasuk memberi penyakit pusing. Pusing melihat situasi yang semberawut dan acak-acakan. Pada akhirnya, kondisi demikian melahirkan penyakit migrain.
Tidak hanya itu, orang-orang di sekitar tidak mau mendekat. Ketika orang tidak mendekat, otomatis rezekinya tidak akan mendekat dan kelancaran perekonomian keluarga lambat laun akan mengalami hambatan. Semoga bermanfaat.*Bersambung.

