Konten dari Pengguna

Hujan sebagai pendidik Universal (2)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
19 Desember 2025 9:59 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hujan sebagai pendidik Universal (2)
Hujan sebagai pendidik. Baik untuk diri, keluarga dan lingkungannya. Di dalamnya membasahi jiwa yang kering, menjadi jiwa yang basah. Basahnya jiwa adalah ketenangan yang muncul dari pergantian waktu.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sman2lahat.sch
zoom-in-whitePerbesar
sman2lahat.sch
Allah maha Rahman dan Rahim. Sifat kasih sayang Tuhan yang begitu dalam kepada hamba-Nya ditunjukkan dengan berbagai maca cara, salah satunya Allah memberi hujan. Hujan bukan saja memberi suasana basah, namun memberi tetesan kesejukan kepada fisik dan jiwa.
Fisik basah dengan heningnya. Fisik basah memberi kehidupan baru dalam hangatnya aliran darah di sekujur tubuh. Jiwa yang beku, saat turun hujan rahmat, aura damai segera mengurai pilunya jiwa. Ia tidak datang dengan tangan hampa, namun ia datang dengan terpaan sel kebagian untuk menjemput keringnya jiwa.
Hujan turun mendorong manusia menengadah tangan kepada-Nya. Dalam batinnya mengadu, hujan yang turun pasti penuh manfaat. Kebermanfaatannya untuk semesta alam. Tidak pandang bulu dan tidak pilih kasih. Hujan untuk semua manusia. Manusia beriman mendapat berkah. Begitu juga manusia yang belum beriman, mendapat manfaat.
Keberkahan hujan yang menyapa jiwa manusia, membasahi hatinya. Lisannya berucap, hatinya fokus menjerit dan membuka jari tangan untuk menerima segala berkah dari hujan. Hati bergerak dalam duha di waktu pagi beranjak siang. Hatinya semakin sibuk di siang hari, ketika manusia lain sibuk memberi asupan fisiknya.
Pergantian waktu demi pergantian waktu dipahami sebagai rahmat Tuhan. Dari subuh ke dzuhur. Dari dzuhur ke ashar. Dari ashar ke maghrib sampai subuh lagi, itu semua terminal jiwa untuk mengisi nutrisi terbaik.
Seperti halnya hujan, salat yang berjumlah lima waktu itu adalah agenda Tuhan untuk menghujani hambanya, baik yang sudah tunduk maupun yang akan tunduk. Di sela-sela hujan spiritual, hamba beriman menyaring hujan spiritual dengan fokus dan khusuk.
Suasana fokus dan khusuk dibutuhkan untuk membuang kotoran jiwa yang masuk bersamaan hujan spiritual. Pembukanya adalah air wudu. Air wudu sangat menentukan fokus dan tidaknya dalam menerima hujan spiritual.
Jika wudunya sempurna dan penuh khusuk, potensi hujan spiritual akan bisa diraih dengan jiwa yang khusuk dan ikhlas. Namun sebaliknya, jika wudunya bermasalah maka potensi meraih hujan spiritual bisa jauh dari harapan.
Pada kondisi inilah wudunya harus diperbaiki, bukan hanya sekadar wudu, namun wudunya betul-betul dijalani sesuai titah ilahi dan rasul-Nya. Maka, pemberi hujan ilmu yang berupa para ustaz yang sering mengisi pengajian, tidak boleh lupa untuk menggagendakan pembahasan tentang tata cara wudu.
Di lain kondisi, hujan menyuburkan tanah yang tandus. Tanah yang tandus itu adalah fisik dan jiwa yang gersang. Ketika hujan turun, fisik basah dan jiwa pun basah dengan ketenangan. Jiwa yang basah tumbuh menjadi peribadi yang memberi aura kesejukan kepada lingkungannya.
Ibaratnya, pohon kering sudah lama tidak disiram. Ketika sudah disiram, pelan namun pasti, pohon menggeliat mengeluarkan daun yang hijau. Pada gilirannya, daun yang hijau itu memberi oksigen kepada lingkungan di mana ia berada.
Setelah memberi oksigen kepada lingkunganya, jiwa yang sejuk terus mengayuh oksigen ke tempat yang masih gersang. Dari sini ia berganti tempat dan suasana lingkungan. Mulai dari desa hingga kota, oksigen spiritual terus dipompa hingga dirinya menemui batas hidupnya.
Dalam konteks hujan air, air yang turun dari langit akan terus mencari tempat di mana ia bisa berkarya dan menghidupi manusia. Air hujan turun di tanah lapang, maka air akan tinggal di tanah itu meresap ke bawah.
Jika air turun di area pegunungan dan hutan, maka air itu akan tinggal di gunung dan di hutan. Jika air hujan turun mengisi air danau dan laut, maka di sanalah ia diam sementara, lalu hidup untuk memberi aliran kehidupan kepada manusia di sekitarnya.
Masalahnya: hujan yang mengguyur gunung dan hutan, airnya tidak mau menetap dalam tanah dan pohon, karena rumah air sudah beralih fungsi menjadi lahan tambang dan sawit. Air yang seharusnya berdiam diri pada daun, akar pohon, dan gunung, ini mengalir mencari tempat terendah untuk berdiam diri di tempat nyaman.
Tapi sayang, tempat yang nyaman itu bukan tempatnya, melainkan tempat manusia mengadu kepada Tuhannya dan sesama anggota keluarga yang menghuni rumah tercintanya. Jika air hujan sudah sampai kepada pemukiman, di sinilah hujan yang sejatinya berkah, berubah menjadi musibah karena ulah tangan manusia.*Bersambung.
Trending Now