Konten dari Pengguna

Isra Mikraj Sebagai Guru Besarnya IPTEK (2)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
10 Januari 2026 11:40 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Isra Mikraj Sebagai Guru Besarnya IPTEK (2)
Nabi Muhammad menjadi imam untuk para Nabi dan Rasul yang sudah lama wafat. Lalu, ketika naik ke atas langit Nabi SAW bertemu dengan para Nabi. Kondisi itu adalah titik sentral, Guru Besar.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Islami.co
zoom-in-whitePerbesar
Islami.co
Ketika sampai masji al-Aqsa, Nabi Muhammad SAW menjadi imam salat, makmum para Nabi dan para Rasul. Secara kasat mata menjelaskan bahwa itu mustahil terjadi , menjadi imam salat, namun jamaahnya justru orang-orang yang sudah lama wafat.
Keadaan ini memberi pelajaran bahwa kejadian itu mengulang waktu yang sudah lama terjadi. Dalam kasus ini, ruang dan waktu tidak perlu lagi berbicara dengan diri Nabi Muhammad SAW. Karena ini adalah titah pengatur alam yang berwujud mukjizat.
Dalam gambaran kehidupan sehari-hari, umat Islam perlu mengambil ibrah sebagai titik pusat pengembangan keilmuan yang berbasis profetik. Pusat keilmuan ini ibaratnya dalam tradisi akademik disebut Guru Besar.
Dari Guru Besar ini memberi daya dorong untuk melejitkan bibit unggul anatomi keilmuan. Siapa yang mampu mengurai waktu yang sudah lalu ditarik ke masa kini. Sedangkan manusia hanya punya waktu; dulu, sekarang dan akan datang. Dulu, masa lalu yang tidak mungkin terulang lagi. Meskipun baru melewati satu menit ke belakang, tetap ia adalah masa lalu
Sekarang, waktu yang sedang dijalani oleh manusia. Kehidupan sekarang yang dikelola dengan manajemen waktu yang baik, sangat menentukan masa depan. Berlelah-lelah sekarang akan meraup kesenangan di masa akan datang. Sementara waktu masa akan datang adalah masih misteri bagi hampir semua orang.
Prinsipnya hari ini harus lebih baik dari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari sekarang. Guna mengelola waktu, secara tersirat sudah diatur oleh kehendak Tuhan dalam al-Qurโ€™an. Wujudnya, jumlah bulan ada 12 bulan. Dari 12 bulan itu, ada empat bulan yang menjadi fokus kehidupan manusia; Zulqoโ€™dah, Zulhijjah, al-Muharram dan Rajab.
Setelah bulan ditetapkan sejumlah 12, lalu jumlah pekan dalam satu bulan berapa? Pekan sudah ditemukan jumlahnya, muncul pertanyaan berapa hari dalam satu pekan. Satu pekan sudah diikat dengan jumlah tujuh hari, tibalah dalam satu hari berapa jam? dan dalam satu jam berapa menit? Sampai dalam satu menit berapa detik?
Fakta yang sudah ditetap itu, memberi pesan penting kepada manusia bahwa hidup itu harus teratur seperti waktu yang sudah ditetapkan oleh pembuat waktu, Allah SWT. Oleh karena itu, manusia harus memanfaatkan waktu.
Turunan waktu dalam alam lembaga pendidikan bisa dibuktikan dengan ada penetapan mencari ilmu oleh pemerintah. Mulai dari sekolah dasar, enam tahun. Sekolah menengah pertama, tiga tahun. Sekolah menengah atas, tiga tahun. Strata 1, empat tahun. Strata 2, minimal dua tahun. Dan strata 3, minimal tiga tahun.
Hitungan masa mencari ilmu dalam tangan pemerintah memang demikian adanya, namun dalam kaidah agama terbantah habis. Agama mengajarkan bahwa mencari ilmu itu, mulai dari lahir sampai liang lahad. Hadist Nabi itu relevan dengan karakter ilmu; dimanis, tesis, anti tesis dan sintesis.
Dengan karakter ilmu itulah bisa menganalisis kejadian dalam literatur agama seperti yang sedang kita jelaskan sekarang, Isra Mikraj. Singkat cerita, selesai Nabi Muhammad SAW mengimami salat, malaikat JIbril yang mendampingi perjalanan Nabi, memintanya naik ke langit pertama.
Di langit pertama Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam AS. Langit kedua bertemu dengan Nabi Isya. Di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf. Di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim.
Pertemuan dengan para Nabi yang sudah lama wafat itu, memberi isyarat akan adanya orang-orang tertentu yang bisa seperti di atas. Dalam beberapa kasus dan banyak kasus, ada orang-orang yang selalu jiwa raganya terpaut dengan Allah, ia bisa meminjam pendengaran dan penglihatan Allah.
Kekasih yang paling dicintai oleh orang itu adalah hanya Allah. Sehingga, apapun yang diminta oleh kekasihnya, Allah akan memberi dengan penuh cinta. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang pegawai misalnya, jika sudah kenal dekat dengan bos. Apalagi sering diundang makan bersama dengan bos, maka permintaan apapun akan dipenuhi.
Kekasih Allah itu, dalam istilah lain seperti punya jalan pintas untuk masuk ke dalam istana. Orang lain, bersusah payah. Kekasih Allah ini malah bisa masuk istana sesuka hatinya. Namun, untuk bisa seperti itu butuh perjuangan ekstra. Dan butuh waktu panjang untuk menempuh itu. Bersambung*
Trending Now