Konten dari Pengguna

Jiwa Muda, Pikiran Dewasa

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
28 Oktober 2025 13:13 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jiwa Muda, Pikiran Dewasa
Jiwa muda dengan belajar adalah jalan menuju tua sebagai insan pembelajar. Belajar tidak hanya melalui sekolah dan PT, namun dari berbagai peristiwa, momen, fakta dan fenomena adalah sekolah kehidupan
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Serayunews.com
zoom-in-whitePerbesar
Serayunews.com
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia mendapatkan bekal berharga untuk belajar. Tanggal tersebut adalah momen kehadiran spirit untuk merdeka secara utuh melalui semangat juang para pemuda.
Menurut Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009 menjelaskan bahwa pemuda itu usianya mulai dari 16 sampai dengan 30 tahun. Data BPS tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia sedang kebanjiran para pemuda.
Golong usia 15-19 sebesar 22.000.000, golongan usia 20-24 sebesar 22.000.000, golongan 25-29 sebesar 22.000.000, golongan 30-34 sebesar 22.000.000, golongan 35-39 sebesar 21.000.000, 40-44 sebesar 20.000.000, 45-49 sebesar 19.000.000, golongan usia 50-54 sebesar 17.000.000, golongan 55-59 sebesar 15.000.000 dan golongan 60 ke atas sebesar 33.000.000.
Berdasarkan data di atas, Indonesia memiliki usia produktif melimpah. Jika ditarik usia sedang giat-giat bekerja usia 50 tahun ke bawah, maka Indonesia kurang lebih memiliki 148 juta orang yang berjiwa muda.
Dari 148 juta itu berapa ratus ribu atau juta pemuda sebagai pembelajar? Jika merujuk pada data yang beredar, tingkat SMA ada bersekolah sekitar 5,4 juta. Usia kuliah S1, merujuk pada lulusan setiap tahun ada sekitar 1,3 juta yang lulus S1.
Jika dijumlah antara SMA dan S1 jumlahnya 6,7 juta sebagai pembelajar. Meskipun demikian adanya, belajar bukanlah semata-mata usia sekolah dan usia kuliah, namun belajar masuk ke segala usia. Agama hadir menjadi penengah dan pencerah bahwa belajar itu tidak mengenal waktu. Selama usia kehidupan masih ada, selama itu pula belajar menjadi wajib.
Belajar tidak hanya di sekolah, perguruan tinggi, majelis taklim, padepokan, tempat bimbel, dan lain sebagainya, namun belajar bisa di mana pun dan kapan pun. Apalagi, jaman sekarang sudah banyak media untuk menjadi pembelajar.
Jika dulu, orang membeli buku atau kitab harus ke toko-toko, sekarang tinggal maunya saja. Apa saja ada, tinggal pilih. Jadilah pembelajar sejati, seperti Buya Hamka. Meski ia hanya sampai kelas 2, namun gemuruh semangat belajar tetap menyala.
Meski sekolah sudah tamat dan kuliah sudah lulus, belajar tetaplah belajar. Belajar bisa melalui berbagai kejadian, peristiwa, momen dan fakta sosial yang terjadi di lapangan. Pemuda bisa belajar dari kasus robohnya pondok pesantren Al-Khoziny. Pemuda bisa belajar juga dari kasus Trans 7 mengenai pemberitaan pondok pesantren Lirboyo.
Pemuda, tidak hanya melihat usia, namun mengepakkan kemauan muda secara fisik menjadi dewasa secara mental dan spiritual. Muda dan tua dalam timbangan usia, memang hanya sekadar hitungan angka, namun sampai sejauh mana muda dan tua membelajarkan diri.
Yang muda idealnya lebih produktif dan gesit menghadapi perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Kepesatan TI harus diimbangi oleh sikap pembelajar. Anak muda boleh menjadi tua, tapi tuanya dalam bentuk menyiapkan masa depan yang cerah.
Agar masa depan cerah, anak muda tidak boleh lengah terhadap segala kejadian yang ada di hadapan mata. Kejadian di depan mata, seperti kasus Trans 7, memberi pelajaran bahwa menjelaskan keberadaan lembaga harus betul-betul menguasai informasi. Jangan karena sentimen atau apa pun, lalu membuat pernyataan yang menodai pesantren pada umumnya.
Apalagi pesantren tempat pendidikan anak-anak bangsa yang sudah berhasil melahirkan tokoh-tokoh besar. Kasus pesantren, anak muda bisa belajar bahwa menjadi orang yang menguasai informasi itu menjadi penting agar tidak salah menilai.
Pada poin ini, menilai memerlukan alat untuk memvalidasi informasi. Alat validasi itu adalah ilmu menggali data dari sebuah informasi yang masih tertutup ego. Katakan saja, ilmu untuk menggali data itu adalah metode penelitian.
Di ilmu itulah sebuah data akan digali oleh seseorang. Artinya, anak muda yang terbilang usia masih puluhan, namun menjadi tua karena melihat masalah kehidupan dengan keilmuan yang sudah dipelajari. Masalah itu dijadikan media untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat. Jadilah, anak muda bisa akrab dengan masalah kehidupan yang datang silih berganti.
Trending Now