Konten dari Pengguna
Ketika Banjir Menjadi Guru: Belajar dari Banjir Sumut
27 November 2025 9:23 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Banjir Menjadi Guru: Belajar dari Banjir Sumut
Banjir dan longsor adalah guru kontekstual. Ia hadir untuk membawa manusia menjadi hidup dan menghidupkan jiwanya. Pikirannya berubah dan komunikasinya jalan seiring mencari solusi untuk dirinya.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiga hari yang lalu, 11 kabupaten dan kota di Sumatera Utara terkena banjir dan longsor. Banjir dan longsor itu telah merenggut jiwa sebanyak 25 orang (26/11/2025). Akses jalan menuju Tapanuli Tengah terputus. Sambungan koneksi internet terputus. Lebih dari 2.851 warga mengungsi.
Banjir dan longsor tidak mungkin datang secara tiba-tiba. Ia datang bukan tanpa undangan. Ia datang justru dengan undangan yang syah. Walhi menduga, banjir tersebut terjadi diakibatkan kerusakan hutan. Hutan rusak karena terdapat perusahaan pertambangan di sana. Sementara pihak BPNB mengatakan, banjir dipicu oleh adanya Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Sunda.
Apa pun faktor penyebabnya, yang jelas banjir dan longsor bukan datang tiba-tiba, namun karena ada undangan resmi dari faktor-faktor tertentu. Terlepas siapa dan mengapa terjadi? Tulisan ini bukan ingin menghakimi, namun ingin mengajak pembaca untuk merenung sambil mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Tidak ada seorang pun yang ingin terkena banjir dan longsor, kecuali pihak-pihak tertentu yang level keimanannya sudah mencapai tingkatan tertinggi. Pastinya ingin nyaman dan tidak ada sesuatu yang mengganjal dalam kehidupannya.
Banjir dan longsor memang datang mengetuk hati masyarakat yang menjadi korban. Ingatlah, banjir itu bukan semata-mata banjir. Namun, banjir itu membawa aura kehidupan baru. Dalam hidup, masalah itu harus selalu ada. Ketika masalah datang menggedor kesadaran manusia, di situlah kehidupan akan disetting dinamis.
Pikiran yang beku jarang dipakai berpikir, saat tiba masalah, pikiran akan aktif mengurai masalah mencari jalan keluar. Apa pun itu masalahnya, ia datang untuk memperbaharui keadaan tubuh dan jiwa manusia.
Bukan manusia namanya, jika dalam kehidupan sehari-hari akalnya jarang dipakai. Maka, banjir datang agar pikiran masyarakat menjadi maju. Yang tadinya tidak pernah bertanya kepada tetangganya, sekarang menjadi bertanya.
Komunikasi antar masyarakat menjadi lancar, dipaksa oleh kondisi banjir. Berbicara kepada sesama masyarakat, apa pun kebutuhannya adalah memberi energi baru untuk semangat hidup. Masalah yang datang dari rumah, kantor ataupun lainnya, akan cepat terurai jika komunikasi dan interaksi dengan masyarakat lain dibangun dengan humanis.
Manusia itu makhluk sosial, bukan makhluk individu yang mengurung diri di rumah. Kesendirian, meskipun di satu sisi menjadi penting untuk mengendalikan keadaan jiwa. Di sisi lain, perlu ikut hanyut dan menceburkan diri dengan berbagai aktivitas dunia sosial.
Masyarakat yang mengaktifkan komunikasinya adalah masyarakat yang rindu akan kedamaian jiwa, meski yang tidak komunikasi bukan berarti tidak rindu, ia hanya sedang bertahan untuk memberi jatah waktu kepada jiwanya.
Komunikasi memberi rasa bahagia, meskipun sedang dirundung masalah. Kadang masalah harus dipertahankan untuk memberi kesadaran pentingnya keadaan hidup yang bertransformasi. Ibaratnya, masalah adalah mitra kerja manusia untuk memberi percepatan transformasi.
Namun, jarang yang menyadari akan hal itu. Masalah dipandang sebagai musuh, bukan dipandang sebagai sahabat dan mitra hidup. Sejatinya, banjir dan longsor adalah guru kehidupan yang perlu dirayakan hari kelahirannya.
Boleh saja memberi perhatian kepada hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November, namun guru-guru dalam bentuk lain perlu juga diberi momentum hari Guru Kontekstual. Tapi, tidak lazim rasanya, karena belum terbiasa dan belum mendarah daging.
Pihak mana yang diberikan masalah, hidupnya tidak berubah. Semua masyarakat yang mendapat masalah hidupnya akan berubah. Tentu perubahan yang berdampak positif, bukan negatif. Meskipun pada kenyataannya perubahan ke arah negatif pun cukup banyak. Agar tidak demikian, perlu memberi edukasi kepada masyarakat yang terkena musibah. Entah itu menghadirkan trauma healing atau pun acara lain yang bisa membangkitkan semangat baru untuk menjalani kehidupan.

