Konten dari Pengguna

Makna Kekalahan Garuda Muda

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
30 Juli 2025 10:18 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Makna Kekalahan Garuda Muda
Semua kejadian dalam kehidupan ini ada maknanya. Kejadian tidak semata-mata datang, tapi untuk memberi pelajaran.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
inilah.com
zoom-in-whitePerbesar
inilah.com
Semua peristiwa yang menghampiri manusia tidak hampa akan makna. Perang Iran VS Israel yang terjadi beberapa waktu lalu, punya ke dalaman makna untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Banjir belanda beberapa hari lalu yang menerjang banyak daerah di Indonesia juga tidak lepas dari makna.
Ujian skripsi, ujian tesis, dan ujian disertasi sudah pasti akan diuji dan menulis karya akademik yang bisa dipertanggung jawab kan itu pun mempunyai ke dalaman makna bagi penulisnya.
Belum lagi datang dan pergi yang pernah singgah dalam kehidupan setiap orang, tidak lepas dari makna, termasuk dalam ranah olahraga sepak bola.
Dalam ranah olahraga sepak bola, Selasa tanggal 29 Juli 2025 pukul 20.00 WIB tim Garuda Muda harus bertekuk lutut 1-0 di bawah tim muda asal negara Vietnam. Dalam konteks kehidupan ini, tidak lepas dari pasangan situasi tertentu.
Ada siang, ada malam. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada pertemuan, perpisahan, termasuk ada yang menang dan ada yang kalah dalam permainan. Permainan dalam kehidupan ini, tidak diciptakan untuk berada di tengah-tengah, antara kalah dan menang.
Tetapi, permainan dalam kehidupan ini diciptakan hanya ada dua pilihan; ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang tidak boleh sombong dan yang kalah tidak boleh berkecil hati. Yang menang ibaratnya titipan prestasi untuk disyukuri, bukan untuk disombongkan.
Menang bukan karena jasa pribadi, namun karena jasa kolektif. Apalagi sambil berkata “kalau bukan karena saya, kemenangan sepak bola ini tidak akan menang.”
Sepak bola syarat dengan kerja sama, kekompakan, tidak egois, disiplin, kerja keras, patuh sama pelatih dan sikap elegan lainnya yang mendukung kemenangan.
Kekalahan tidak boleh diratapi seperti ditinggal oleh orang tercinta, tetapi kekalahan sebagai bahan untuk pembelajaran dan evaluasi diri. Semua pemain, pelatih, dan pendukung lainnya harus bangkit dari rasa kalah yang menekan jiwa dan asa.
Rasa kalah tidak boleh berlama-lama bersemayam dalam dada. Rasa kalah ibaratnya hanya mampir sejenak, setelah itu berganti ke situasi lain. Situasi lain itu, untuk menyusun agenda yang lebih energik dan semangat.
Kalah dari lawan, bukan untuk disesali, tapi sebagai cambuk untuk cepat bangkit. Boleh menghela nafas panjang sebagai renungan, namun beberapa waktu kemudian mengalihkan energi positif untuk kehidupan yang lebih bermakna.
Menang dalam permainan sepak bola bisa mendorong manusia untuk larut dalam gegap gempita. Euforia dan selebrasi Tim sudah pasti tidak dapat dihindarkan.
Bukan tidak boleh, namun jangan berhenti di situ, agenda kehidupan harus terus berjalan. Setelah satu urusan selesai, langsung membuka urusan lainnya yang sedang menanti.
Begitu juga kalah, tidak boleh rendah diri, tapi harus rendah hati. Rendah diri dan tidak tepuk jidat dalam kekalahan adalah sebagai sikap yang tidak patut dikedepankan, terlebih dalam kehidupan sosial.
Dalam kehidupan sosial tidak perlu membuka topeng sendiri, tapi biarkan topeng diri ini dibuka oleh orang lain sebagai bentuk kerendahan hati.
Topeng diri tidak boleh diikat oleh keakuan yang mendera, tapi topeng diri harus dibalut oleh sikap dan rasa tidak ada apa-apanya sebagai bentuk jawaban dari sikap rendah hati.
Suasana kekalahan dalam catatan permainan jangan hanya menyiksa kenapa kalah? Tapi pentingnya melihat apa yang sudah dimaksimalkan agar tidak kalah? Apakah kerja sama antar bagian dalam satu Tim masih jauh dari yang diharapkan atau bagaimana?
Semua itu perlu mendapat perhatian. Tidak mungkin ada kalah, jika tidak ada apa-apanya dalam suatu Tim. Ada apa-apanya itu dipandang penting sebagai bentuk muhasabah diri agar dikemudian hari jika ada event kerja sama antar bagian dalam suatu bagian menjadi solid.
Kalah tidak boleh loyo mentalnya, tapi kalah sebenarnya menguji karakter dan mental baja. Biarkan kalah itu untuk masuk ke dalam jiwa terdalam, namun jangan berlama-lama menetap dalam jiwanya.
Cari suasana lain sebagai penawar mental yang loyo itu. Lihatlah tempat ibadah, di sana masih sepi dari orang yang mengadu kepada Tuhannya. Tengoklah lemari, di sana ada al-Qur’an sebagai obat jiwa yang sedang lara.
Buka al-Qur’an itu, dan tanya ia, niscaya ia akan menjawab bahwa “dunia itu hanya permainan dan senda gurau saja.” Setelah itu ingat pihak yang menang, bahwa ia patut dihargai jangan dibenci karena kita kalah.
Mengharga lawan kuat itu perlu, tapi mencaci dan menganggap lawan dengan hati kerdil itu tidak perlu. Biarkan yang menang gembira dengan prestasinya.
Sementara yang kalah sibuk berbenah diri untuk menyongsong agenda berikutnya. Agenda berikutnya ini dipersiapkan dengan matang dan saling sinergi antar satu bagian dengan bagian lain. semoga bermanfaat. Aamiin.
Trending Now