Konten dari Pengguna
Makna Yudisium dalam Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2)
12 September 2025 9:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Makna Yudisium dalam Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2)
Transkrip nilai mahasiswa sama dengan transkrip nilai anak di keluarga. Transkrip nilai diri anak adalah kelengkapan berbagai nilai anak ketika bersosialisasi.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah mahasiswa memiliki kelengkapan nilai semua mata kuliah, pihak fakultas membuat transkrip dan menetapkan predikat. Dalam menetapkan transkrip nilai, pihak fakultas harus menyesuaikan dengan jumlah SKS dan mata kuliah yang harus ditempuah oleh mahasiswa.
Jika sudah menyingkronkan dan dipandang selesai permasalahan mata kuliahnya, yang tidak boleh terlewat adalah nilainya itu sendiri. Adakah nilai mata kuliah yang belum keluar dari dosen? Atau nilainya masih di bawah standar.
Jika ditemukan salah satu nilai mata kuliah yang belum lengkap,pihak fakultas segera menghubungi mahasiswa agar menelusuri nilainya itu. Kenapa nilai mata kuliah tersebut tidak muncul? Apakah ada kendala dengan dosen, sehingga tidak keluar nilainya?
Pihak fakultas dan Prodi tidak boleh segan untuk mengulurkan tangannya, agar mahasiswa bisa ikut yudisium. Sebaliknya, mahasiswa juga harus pro aktif mencari informasi dan evaluasi diri.
Kenapa salah satu nilai tersebut tidak keluar? Mahasiswa harus bertanya langsung kepada dosen yang mengampu mata kuliah tersebut.
Masalah nilai, bisa diselesaikan dengan tradisi akademik yang baik. Tidak perlu saling ngotot-ngototan, duduk saja berdua dan dimediasi oleh fakultas.
Jika sudah selesai masalah nilainya, dosen memberi nilai dengan menggunakan form nilai yang terlambat keluar. Lalu, nilai itu diberikan oleh mahasiswa kepada akademik untuk diinput. Singkat cerita, transkrip nilai mahasiswa sudah jadi.
Gambaran persoalan di atas, memberikan pelajaran kepada keluarga, bahwa anak yang belum lengkap dengan seperangkat nilai diri yang baik, tidak boleh dibuatkan rekomendasi oleh orang tuanya untuk dilepas ke dalam pergaulan masyarakat.
Nilai diri yang berupa berbagai sikap baik ketika bergaul dengan masyarakat itu, harus betul-betul dipahamkan dulu kepada anak. Orang tua dan sekolah bisa kerja sama. Orang tua bisa melakukan orientasi dan simulasi kepada anak.
Keluarga tempat simulasi tentang nilai diri. Upamanya: bagaiman cara memberikan pisau yang baik, cara memberikan pulpen yang baik kepada gurunya, cara makan bersama dengan keluarga, cara mengambil makanan saat makan bersama, posisi kaki ketika belajar harus bagaimana? Dan lain sebagainya.
Berbagai cara tersebut, guna mematenkan nilai diri anak harus benar-benar dikawal. Setelah dibekali oleh orang tua dan guru, untuk uji coba bisa dilakukan dengan penuh hati-hati. Tempat uji cobanya bisa dilakukan di sekitar anak-anak yang ada di rumah. Tidak boleh jauh-juah dulu sosialiasinya.
Ini untuk mempermudah kroscek nilai diri anak kepada orang-orang yang ada di dekat rumah. Orang tua bisa ikut mengawasi. Sementara guru di sekolah punya catatan pergaulan anak. Orang tua dan guru harus berjalan searah jarum jam, tidak boleh berlawanan arah.
Orang tua bisa ikut mengevaluasi langsung dengan cara bertanya kepada anak-anak dan pihak-pihak yang terlibat di lingkungan tersebut. Setelah orang tua punya data sahih, lalu orang tua bisa memperbaiki nilai diri anak itu dengan cara yang bijak.
Lagi-lagi keluarga tempat perbaikan nilai diri anak. Keluarga harus menjadi tempat ternyaman untuk memupuk dan mengembangkan nilai diri anak. Ini artinya, orang tua harus paham betul tentang pola asuh anak.
Nilai diri yang kurang dari anak itu, di tengah keluarga kembali diperbaiki sambil santai sesuai tradisi keluarganya masing-masing. Setelah diperbaiki, bisa diuji coba ulang kepada anak. Anak bersosialisasi kembali dengan teman dan masyarakat sekitar.
Bersosialiasinya diarahkan oleh orang tua kepada anak-anak yang tidak cenderung mencemari nilai diri anak. Dipilihkan oleh orang tua atau diberikan pengertian bahwa sosialiasi itu sebaiknya dengan anak-anak yang bisa mengembangkan kemampuan diri.
Jangan bergaul dengan anak-anak yang bisa menodai jiwa belajarnya, kecuali jika sudah dewasa anak boleh bergaul dengan siapa saja selama ada manfaat. Bergaul dan bersosialiasi dengan anak-anak yang sama-sama sekolah di jenjang yang sama, jika memungkinkan.
Namun, jika lingkungan ternyata terbalik banyak remajanya, pihak pemangku lingkungan berupa RT dan RW harus ikut andil soal pendidikan anak di lingkungan masyarakat. RT dan RW bisa mengembangkan pos ronda dan kantor RW sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan nilai diri.
Di pos RT dan kantor RW dilengkapi juga dengan fasilitas pendidikan. Tidak lupa juga menyediakan tenaga SDM-nya yang diambil dari masyarakat yang mumpuni masalah pendidikan anak.
Jadinya, antara orang tua dan pemangku lingkungan harus saling kolaborasi untuk sama-sama menjaga keutuhan anak. Jika perlu, RT dan RW punya data base anak-anak yang ada di lingkungannya.
Anak-anak di lingkungannya sekolah di mana saja? Orang tuanya kerja di mana? Pulang kerjanya jam berapa? Pemerintah Kabupaten/Kota pun harus memperhatikan daerahnya.
Hal ini untuk memudahkan penanganan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan oleh orang tua dan pemangku lingkungan. Kembali kepada orang tua anak. Jika nilai diri anak sudah dipandang lengkap, orang tua jangan ragu untuk membelajarkan anak di lingkungannya.
Anak didorong untuk belajar bersosialisasi dengan tidak melarang bermain HP saat anak meningingkannya. Bermain HP, silahkan, namun dibatasi penggunaannya. Yang jelas anak harus ada waktu untuk bersosialiasi dengan masyarakat nyata.
Inilah salah satu makna yudisium ketika orang tua menyiapkan seperangkat nilai diri pada anak, yang sudah memiliki kecakapan saat bersosialisasi.
Jika nilai diri pada anak sudah lengkap, paling tidak sudah diberikan pelajaran, maka orang tua tidak boleh ragu mempersilahkan anaknya untuk bergaul mengarungi kedalaman makna bersosialisasi di tengah masyarakat. Semoga bermanfaat.

