Konten dari Pengguna
Mencuci Pakaian dalam Ingatan Pendidikan (2)
4 November 2025 9:02 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mencuci Pakaian dalam Ingatan Pendidikan (2)
Mencuci baju ketika menggiling adalah tanda di mana pekerjaan membersihkan yang kotor dimulai. Hasilnya, bersih baju terpancar dan kotonya hilang dibawa air cucian.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tulisan pertama penulis sudah menjelaskan hikmah mencuci pakaian dengan sub bahasan hikmah memilah-milah baju dan skala prioritas baju mana saja yang perlu dibersihkan terlebih dahulu secara manual, sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci. Maka, pada tulisan yang kedua ini insya Allah akan menjelaskan proses mencuci saat baju yang sudah dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Setelah memilah-milah baju dan baju mana saja yang perlu dibersihkan secara manual, lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci. Baju yang sudah siap itu, dimasukkan ke dalam mesin cuci untuk digiling. Penggilingan baju untuk melepaskan noda-noda yang ada dibaju, baik noda yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Noda yang terlihat, dibersihkan dan dikucek-kucek sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci. Sementara baju yang tidak terlihat ada noda, hanya kotor bau keringat, digiling oleh mesin cuci. Digiling bukan untuk merusak baju, namun untuk membuang kotorannya agar terlihat bersih.
Dalam konteks agama ada yang disebut dengan tazkiyatun nafs. Tazkiyatun nafs adalah konsep penyucian jiwa dalam Islam yang bertujuan membersihkan sifat-sifat buruk dan menumbuhkan sifat-sifat baik.
Melalui mencuci pakaian umat Islam diajarkan bahwa pentingnya menjaga kebersihan diri dari segala sifat buruk yang bisa merugikan sesama manusia. Dalam dunia kerja, misalnya, dalam satu divisi tidak boleh membebankan satu pekerjaan kepada satu orang.
Satu divisi itu pastinya ada banyak personel SDM. Sistem kerja yang baik adalah sistem kerja yang mengatur pekerjaan kepada orang yang betul-betul bertanggung jawab. sikap itu pastinya tidak baik, bahkan cenderung mengeksploitasi tenaga orang.
Itu karena itu dirinya merasa paling tinggi jabatannya atau merasa pekerjaan itu sudah tidak cocok lagi untuk ukuran dirinya, meski itu tugasnya. Sikap itu perlu dibersihkan dan digiling dengan mesin cuci rohani.
Mesin cuci rohani dalam Islam setiap hari selalu dijalani oleh umat Islam, salah satunya adalah salat. Sebelum salat ada syarat utama yang harus dijalankan oleh orang yang akan salat, yaitu berwudu. Wudu ini ibaratnya kata kunci berhasil atau tidaknya seseorang diterima salatnya, jika diawali dengan wudu yang baik.
Wudu yang baik sesuai hadis Nabi Muhammad SAW adalah wudu yang mampu mengeluarkan kotoran batin yang tidak terpuji. Bersamaan dengan berjatuhan air wudu ke tanah, pada saat yang sama berjatuhan juga dosa-dosa manusia.
Wudu dalam kegiatan mencuci pakaian punya tugas untuk menggiling sifat-sifat buruk. Setelah selesai berwudu, muncul karakter bersihnya. Bersih dalam konteks kerja, setiap SDM bertanggung jawab penuh terhadap semua pekerjaan.
Jiwa manusia bertegur sapa dengan akhlaknya. Akhlak orang yang sudah berwudu mampu menghadirkan kebeningan tekad moral kerja dalam jiwa, bukan melemparkan pekerjaan kepada orang lain. Melemparkan kerja kepada orang lain itu bentuk tidak tanggung jawab dan menganggap dirinya orang hebat, sehingga pekerjaan ini tidak relevan untuk dirinya.
Inilah sikap sombong dan angkuh. Padahal setelah selesai berwudu, setiap orang beriman mengumandangkan takbir. Takbir yang diucapkan oleh orang yang salat, tidak sembarang bertakbir. Di balik takbir itu, ada manfaat dan hikmah besar untuk orang yang salat.
Takbir yang dikumandangkan oleh orang yang betul-betul salat, mampu menghadirkan pelajaran berharga. Di antara hikmah takbir adalah hanya Allahlah yang maha besar, bukan Tuhan-Tuhan yang lain. Artinya, hanya Allah yang berhak ditinggikan, sementara manusia tidak berhak meninggikan diri.
Dalam dunia kerja, takbir yang benar mampu memberi pelajaran bahwa menganggap orang lain kecil, rendah, dan hina adalah bentuk perlawanan takbirnya yang hakiki. Bentuk perlawanan itu bisa digambarkan dengan menyerahkan urusan kerja yang seharusnya diselesaikan oleh kita, dipindahkan kepada orang lain.
Jika begitu, apalah arti takbir dalam salat itu. Sementara kontrol perilaku masih terus diumbar dan dikendalikan oleh sikap tidak pantas mengerjakan tugas ini dan itu. Sikap dan perilaku ini masih harus terus digiling dalam mesin cuci.
Atau jika perlu waktu penggilingan baju ditambah kembali agar baju kotor itu benar-benar kembali bersih. Jika sudah bersih, akan memancarkan keindahan dan kerapian kepada lingkungan. Cahaya indah dan rapi itu dalam konteks dunia kerja tidak ada lain memancarkan empati dan simpati kepada rekan kerja dalam satu divisi. Semoga bermanfaat.

