Konten dari Pengguna
Mencuci Pakaian dalam Ingatan Pendidikan (3)
5 November 2025 9:59 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mencuci Pakaian dalam Ingatan Pendidikan (3)
Memeras baju basah setelah digiling oleh mesin cuci memberi isyarat bahwa membersihkan itu perlu tahapan, tidak langsung dikeringkan.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tulisan yang kedua, penulis sudah menjelaskan menggiling baju pada mesin cuci dalam kacamata pendidikan. Sedangkan pada tulisan yang ketiga ini, insya Allah penulis akan menjelaskan setelah baju digiling, diangkat dan dibilas dengan air bersih untuk dikeringkan dengan mesin cuci.
Setelah digiling, lalu diangkat dan diperas air gilingannya agar tidak terlalu kotor ketika dibilas memakai air bersih. Baju yang baru diangkat setelah digiling adalah baju yang baru saja dibuang kotorannya membutuhkan sentuhan dan perlakuan khusus. Kotoran baju mengendap dalam air gilingan. Bajunya diangkat, diperas dan bilas memakai air bersih.
Setiap baju yang diperas setelah dibilas, beban kotorannya hilang dan mengendap dalam bak bilasan. Proses mengangkat baju dari mesin cuci, lalu dipindahkan ke bak pembilasan memberikan pelajaran penting untuk kehidupan manusia.
Manusia terkadang abai terhadap setiap momen yang dihadirkan oleh Sang Pencipta, termasuk momen ketika mengangkat baju yang sudah digiling, kemudian diangkat untuk dibilas memakai air bersih.
Beban kotoran yang menempel di baju setelah digiling, menunjukkan bahwa pelajaran ini bukan sekadar hadir hanya untuk momen mencuci saja, namun sejatinya adalah pendidikan untuk manusia.
Melalui baju yang diperas setelah digiling, memberikan pelajaran bahwa manusia itu punya tahapan tersendiri untuk melepaskan perilaku kotor. Perilaku kotor yang dikerjakan oleh setiap manusia, membutuhkan proses penyadaran yang membutuhkan waktu.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi baru saja lepas dari jerat lubang hitam. Maka, untuk mengeluarkan dari jerat dan noda hitam seseorang itu membutuhkan langkah-langkah yang memanusiakan manusia, seperti tahapan pengharaman khamer.
Mulai dari pengakuan adanya minuman yang memabukkan, peringatan khamer bahwa minum khamer itu dosa besar, larangan dalam kondisi tertentu, dan larangan mutlak. Pelajaran ini bisa ditarik ke dalam kasus seseorang yang sudah sadar dari jerat lembah hitam, namun memerlukan perhatian khusus dan penanganannya dilakukan dengan penuh nalar kemanusian.
Untuk keluar dari jerat hitam, perlu melakukan rekayasa lingkungan. Mulai dari mengurangi nongkrong dengan sesamanya, memunculkan lingkungan baik seperti pengajian, sampai kemudian membawa ke pihak yang punya kemampuan untuk mendidiknya.
Misalnya, kasus pencandu narkoba dan lain sebagainya bisa dibawa ke Suryalaya, Tasikmalaya, sebuah pesantren terkenal di bawah asuhan Abah Anom. Di sana terdapat program Inabah yang digagas oleh Abah Anom. Program Inabah tersebut adalah program rehabilitasi pecandu narkoba, kenakalan anak remaja, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.
Orang yang baru saja berada dalam kubangan lumpur dosa, tidak boleh diolok-olok dan dijauhi, justru harus dirangkul dan didekati dengan pendekatan hikmah. Tidak boleh langsung mencabut dari jerat-jerat hitam, namun mencabutnya secara perlahan seperti kasus pengharaman khamer di atas.
Ini yang dikemudian oleh agama dihadirkan berbagai macam peristiwa dan momen, termasuk momen mencuci pakaian sebagai media pembelajaran bagi orang-orang yang berakal. Agar akalnya peka terhadap berbagai kejadian dan momen yang memberikan pendidikan, maka akal perlu mendapatkan asupan nutrisi berupa pelajaran filsafat dan ilmu tentang pendalaman makna.
Seiring pendalaman makna dalam berbagai peristiwa dan momen, termasuk mengangkat baju yang sudah digiling lalu diperas sebelum dimasukkan ke dalam bak berisi air bersih. Bak berisi air bersih ini ibaratnya tempat pendidikan rohani yang berusaha untuk menyucikan perilaku manusia, seperti metode Inabah yang digagas oleh Abah Anom.
Setelah dibilas memakai air bersih di bak, lalu baju tersebut diperas kembali agar tidak terlalu berisiko saat dikeringkan di mesin cuci. Risiko terlalu banyak air saat dikeringkan, salah satunya baju cepat rusak dan kain menjadi kasar.
Begitu juga manusia yang baru saja dibersihkan perilakunya, jangan terlalu diperas untuk terus mengikuti kemauan orang yang mengobatinya. Biarkan dulu menghirup aura kebebasan, namun dari jauh memperhatikan dan merawat dengan lingkungan yang sudah direkayasa.
Mesin cuci pun, dalam hal ini adalah orang yang mengobatinya tidak akan terlalu bekerja ekstra untuk mengeringkan dosa yang basah itu, tapi bekerjanya ringan dan secara perlahan namun pasti akan kering setelah melewati waktu yang sudah ditentukan. Semoga bermanfaat

