Konten dari Pengguna

Mengisi Bensin, Mengisi Kesadaran Rohani

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
25 September 2025 9:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengisi Bensin, Mengisi Kesadaran Rohani
Mengisi bensi, mengingatkan kita kepada mengisi bensi rohani.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Repbulika.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Repbulika.co.id
Masyarakat yang memiliki kendaraan sudah hampir pasti sering mengisi bensin. Baik kendaraan roda dua ataupun roda empat, sama-sama membutuhkan bahan bakar.
Bahan bakar habis di kendaraan dengan cepat mengisi bensin. Rela ikut antri panjang demi mengisi bahan bakar. Pagi-pagi sebelum sampai kantor, di SPBU ditemukan banyak antrian roda dua dan empat untuk isi bahan bakar.
Setiap kali habis bahan bakar, sudah pasti akan mencari SPBU. Mengisi bahan bakar, mengingatkan tubuh kita. Begitu perut terasa lapar, kaki cepat beranjak mencari warung nasi.
Jam-jam makan, baik makan siang atau malam banyak kita temukan masyarakat yang mengisi perut. Saat mengisi perut sebagian kita ingat, bahwa jiwa manusia itu bukan hanya tubuh yang terlihat. Tubuh yang tidak terlihat, berupa rohani perlu diberikan makan.
Jika kendaraan kehabisan bensin, lekas dengan cepat menghampiri SPBU. Jika perut terasa lapar, dengan cepat pergi ke warung nasi. Namun, jika rohani kita terasa lapar ke manakah kaki ini beranjak?
Disebut manusia, paling tidak ada tiga unsur: fisik, rohani dan akal. Ketiganya membutuhkan asupan nutri terbaik agar sehat. Tidak sedikit di antara kita menyiapkan menu makan terbaik, untuk kesehatan tubuh.
Namun, tidak banyak di antara kita menyiapkan makanan terbaik untuk akal dan rohani. Restoran enak dan mahal di pusat-pusat kota ramai dikunjungi pencari makan.
Dalam kehidupan sehari-hari, pusat-pusat SPBU penuh gizi untuk akal dan rohani kadang sepi pengunjung. Yang datang bisa dihitung jari. Paling itu-itu saja yang datang, kecuali ada tokoh besar yang datang.
Pusat SPBU bergizi itu berupa masjid, majelis taklim, halaqah dzikir, mengkaji al-Qur’an, puasa wajib atau sunnah, zakat, haji, sedekah dan lain sebagainya. SPBU akal dan rohani itu sepi pengunjung.
Di lain pihak, SPBU yang bersifat sementara penuh sesak, apalagi momen liburan. Entah itu liburan Idul Fitri, Idul Adha, cuti bersama dan long week end, pasti berjejal penuh sesak. Bahkan, ada yang rela menginap di jalan raya saat pergi berlibur.
Itu semua demi mencari SPBU untuk mengisi bahan bakar yang sifatnya sementara. SPBU sementara itu berupa tempat-tempat liburan, seperti; mall, glamping, wisata pegunungan, arus liar, arung jeram dan lain-lain.
Namun SPBU untuk pengisian bahan bakar rohani terlihat sepi lenggang. Tidak banyak yang peduli soal itu. Padahal dari situlah kehidupan sebenarnya dimulai. Kekayaan dan jabatan hanya sementara, hal itu tidak mampu menjadi bahan bakar kedamaian yang abadi.
Banyak yang memiliki harta, namun gizi rohaninya meronta-ronta. Tatapannya kosong, hatinya gelisah, hidupnya tidak merasa puas, kedamaiannya menjauh, pikiran banyak gangguan, dan harta yang dikejar tidak mampu berdamai dengan hatinya.
Itu semua pertanda harus segera pergi ke SPBU yang menyediakan bahan bakar rohani. Di SPBU rohani itu diajarkan membaca al-Qur’an dengan khusuk, diajarkan dzikir, diberikan nasehat yang menenteramkan, dan berikan berbagai menu sehat rohani lainnya.
Saat membaca al-Qur’an bayangkan kita sedang berdialog dengan Sang Maha Kuasa. Membacanya dinikmati dan diresapi. Membacanya dengan hati, bukan dengan pikiran.
Dzikirnya diikuti dengan kepasrahan yang tinggi kepada-Nya. Lapadz dzikir digigit dengan hati. Menggigitnya di waktu setelah selesai salat. Di lima waktu itu, kita sediakan waktu untuk mengisi ulang bahan bakar rohani.
Tidak cepat beranjak dari sajadah. Ia hanya cepat membasahi bibirnya dengan kalimat thayyibah. Setiap selesai salat lima waktu, terus diisi rohaninya dengan kalimat thayyibah itu. Dari lima waktu itu kemudian menyebar ke seantero pekerjaan.
Saat magrib tiba, selesai salat, tidak lupa setelah dzikir membuka kitab suci al-Qur’an. Al-Qur’an yang dibaca itu adalah gizi gratis, tidak perlu bayar. Setiap hari ia selalu siap untuk mengisi rohani kita.
Huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat terus ditelusuri oleh rohaninya. Tidak terasa halaman demi halaman terlewati. Rohaninya kembali bergeliat. Bahkan sering haus.
Rasa haus rohani segera mengikuti berbagai acara-acara keagamaan yang menenteramkan. Saat kajian keagamaan tiba, ucapan yang keluar dari lisan Sang Ustadz ditangkap dengan hati.
Di dalam hati diolah menjadi energi kehidupan untuk kesadaran rohani. Energi kehidupan rohani itu berupa: rasa puas dalam hidup, hidup penuh semangat, jiwanya tenang, pikirannya penuh dengan inovasi, dan selalu menemukan kepuasan batin.
Saat keadaan rohani demikian, maka sering-seringlah menengok sajadah. Sajadah itu adalah hamparan kehidupan yang luas. Sajadah itu adalah semua pekerjaan yang diniatkan untuk-Nya. Dan sajadah itu semua niat suci yang hanya tertuju kepada-Nya.
Pada akhirnya, sajadah itu bisa menjadi bekal baik di dunia maupun di akhirat kelak. Karena sajadah itu sudah tunduk kepada-Nya agar menjadi bahan bakar di hari yang tidak ada akhirnya. Semoga bermanfaat.
Trending Now