Konten dari Pengguna
Menyalakan Jiwa Pendidik di Ruang Kelas (1)
18 November 2025 9:29 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Menyalakan Jiwa Pendidik di Ruang Kelas (1)
Sebelum mendidik di ruang kelas, pendidik harus mempersiapkan dulu tubuh dan jiwanya dengan bersih.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejatinya, setiap orang adalah pendidik. Minimal pendidik bagi dirinya sendiri. Dirinya dididik oleh dirinya. Pendidik dirinya sudah tahu bagaimana cara mendidiknya. Tubuh dan jiwanya sudah menyatu dalam setiap gerak dan geriknya.
Mendidik diri, mulai dari bangun sampai tidur terekam jelas bagaimana seseorang memperlakukan dirinya. Ketika lelah menyapa, dirinya istirahat. Istirahat sudah cukup beranjak kerja mencari karunia Allah. Istirahat dan mencari karunia Allah adalah dua hal untuk mendidik diri agar tidak menyiksa dan berdaya.
Ketika bangun tidur, diri ini didik untuk bersyukur melalui doa yang dipanjatkan. Doa bangun tidur, tidak semata-mata doa, namun itu adalah harapan dan keinginan untuk memperteguh jiwa pejuang.
Pendidik bagi dirinya selesai, bagi yang berprofesi pendidik dilanjutkan dengan mendidik di ruang kelas. Mendidik di ruang kelas membutuhkan persiapan tubuh dan jiwa yang sehat. Tubuh sehat didukung oleh pikiran, makanan dan olahraga yang teratur.
Sementara jiwa yang sehat perlu mendapatkan banyak sentuhan agama. Sentuhan agama, tidak hanya hadir di ruang masjid, pengajian, yasinan dan majelis dzikir, namun harus hadir di berbagai kesempatan, termasuk kesempatan ketika jiwa ada di ruang kelas.
Sebelum menyehatkan jiwa anak didik, terlebih dahulu pendidik harus menyehatkan dirinya. Pendidik yang sehat jiwanya adalah pendidik yang mengawali aktivitas dengan mengajukan proposal terlebih dahulu kepada Tuhannya.
Bahkan, sebelum tiba waktu pagi, malamnya pendidik sudah mempersiapkan jiwa melalui salat tahajud. Selain salat lima waktu, di momen itulah pendidik mengisi ulang jiwanya agar sehat dan bisa menyalakan cahaya kepada lingkungan sekolah.
Di sepertiga malam itu, pendidik bangun. Wudu dengan sempurna dan diresapi. Di dalam wudu itu, pendidik benar-benar menikmati basuhan demi basuhan. Saat membasuh telapak tangan dan sambil berdoa, ia membayangkan sedang menyalakan tangan anak didiknya.
Tangan anak didik itu sedang operasi penyakitnya. Penyakit itu bisa berupa terlalu sibuk bermain gawai dan dikembalikan kepada fungsi yang sebenarnya. Pendidik wudu dengan rapi. Selangkah demi selangkah, mencuci tangan dengan rapi, lalu beranjak kumur-kumur.
Di saat kumur-kumur, sambil memanjatkan doa, pendidik kembali menerawang segenap anak didiknya. Anak didik diterapi dari jarak jauh melalui membasuh mulutnya. Mulutnya dibasuh dari pembicaraan yang kotor, seperti membasuh mulut anak didiknya dari kalimat yang kotor.
Terus basuhan demi basuhan diarahkan kepada batin anak didiknya. Tiba membasuh muka, pendidik itu kembali menjerit dalam batinnya. Dalam batinnya, muka ini adalah anggota tubuh yang paling banyak bersentuhan dengan masyarakat.
Dirinya malu memberi teladan palsu di ruang kelas, manakala mukanya belum dibasuh dari segala kotoran batin yang menumpuk di mukanya. Muka ingin kembali berseri, seperti berserinya anak didiknya ketika bertemu dengan orang tua kandungnya.
Pendidik malu betul, saat membawa mukanya ke ruang kelas penuh dengan muka kepalsuan. Muka yang palsu adalah muka yang bertopeng. Topeng itu adalah bukan dirinya yang sebenar-benarnya. Sementara muka yang sebenarnya yaitu muka yang tertutup oleh topeng itu.
Topeng itu hadir dalam bentuk: mata memang dengan rendah, mulut melepaskan kata yang berbisa, hidung mencium dan mencari kesalahan murid serta menganggap beban setiap kata yang keluar kepada murid.
Kesempurnaan wudu, bukan hanya kesempurnaan membasuh sejumlah tiga kali, namun mampu menghubungkan perilaku mukanya dengan muka anak didik yang memberi harapan masa depan. Ketika pendidik masuk ruang kelas, muka pendidik mampu menjadi penyejuk anak-anak yang melongo.
Muka pendidik bersinar sambil senyum renyah. Muka itu hasil tirakat dan mengajukan proposal kepada Tuhan sepertiga malam. Di ruang kelas, hasil proposal itu ditaburkan melalui untaian pelajaran yang sudah dibasuh lewat sepertiga malam.
Ruang pikiran masa depan disentuh dan diusap melalui usapan air sejuk yang sampai ke kepala pendidik. Kepalanya diusap agar terbuka inovasi mendidiknya. Di dalam batinnya pendidik, tangan imaginatif mengusap kepala anak didik agar terbuka pikiran suksesnya.
Selesai wudu sampai membaca doa, pendidik menghamparkan sajadah di ruang salat yang bertaburan harapan. Di ruang itu, saat malam sedang hening, ia salat dengan tubuh dan jiwanya. Takbir dimulai, suaranya pun lirih mengucapkan takbir. Sayup-sayup takbir, mampu menggedor pintu jiwa yang sedang kaku.
Gerakkan demi gerakkan. Rukuk demi rukuk. Sujud demi sujud. Semua gerakan itu diberi sentuhan nuansa khidmat. Sampai selesai salam, salat diselesaikan dengan menyatukan gerakkan tubuh dan jiwa untuk menyongsong kesuksesan anak didiknya.
Doanya dipanjatkan, salah satunya untuk anak didiknya. Semua muka dan sikap anak didiknya dibayangkan satu persatu. Batinnya menjerit kembali, menumpahkan segala permohonan kepada Tuhan agar anak didik bisa meraih sukses di masa depan. Semoga bermanfaat.

