Konten dari Pengguna

Menyalakan Jiwa Pendidik di Ruang Kelas (2)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
18 November 2025 13:35 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menyalakan Jiwa Pendidik di Ruang Kelas (2)
Menyalakan jiwa pendidikan tahap kedua, mulai dari salat subuh berjamaah di masjid sambil membawa anak.Setelah itu ngaji, sarapan bersama, pamit cium pipi dan kening istri dan anak, di jalan santai.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pribadi.
Jeritan doa yang disampaikan dengan penuh ikhlas dan tawadu, memberi semangat untuk mengubah diri pendidik menjadi jiwa yang menyala. Agar diri menyala, tidak lupa dalam doa itu dipanjatkan dengan penuh harap terkabul.
Tidak lama setelah salat tahajud selesai, tahrim dari sebelah masjid sudah terdengar, pertanda azan subuh akan segera berkumandang. Tubuh masih dalam keadaan berbaring, segera beranjak memperbaharui wudu.
Wudu sudah sempurna ditunaikan, anak dan istri segera dibangunkan. Membangunkan mereka, tidak hanya membangunkan fisiknya, namun dibangunkan juga semangat kebiasaan bangun subuhnya. Keluarga yang bangun pagi, pertanda keluarga yang membuka rahmat Allah.
Sebaliknya, keluarga yang paginya belum ada kehidupan, pertanda keberkahan dan rahmat Allah harus diusahakan. Untuk mengusahakannya, tidur tidak terlalu malam dan bertekad untuk menjemput pagi yang berkah.
Setelah bangun, anak laki-laki dibawa untuk salat subuh di masjid. Sambil ke masjid, di tengah jalan tidak lupa menyapa anak lewat bincang ringan. Lengan anak jangan dibiarkan menganggur tanpa sentuhan tangan ayah. Di situlah momen untuk merapatkan kehangatan emosi ayah dengan anak.
Tiba di masjid, anak dudukkan di samping ayahnya. Anak biologis terus dikawal pendidikannya, seperti mengawal pendidik anak didik di kelas. Iqomah berkumandang, anak tetap ada di samping ayahnya. Salat selesai berdzikir, meski anak belum paham lanjut saja.
Biarkan anak merekam lantunan dzikir jamaah masjid. Di sana ada nilai pembelajaran dzikir, meski anak tidak berucap. Salat dan dzikir selesai, menyapa jamaah lain. Anggap menyapa anak didik di kelas, agar nilai pendidik semakin menyala di dalam jiwa. Ini itung-itung mengondisikan jiwa sebelum benar-benar di ruang kelas.
Anak, istri dan jamaah masjid jadikan pantulan proses pendidikan sebelum betul-betul ada di ruang kelas. Anggap saja itu ruang kelas tidak terbatas. Di sana ada mata pelajaran. Dan di sana juga ada guru yang mendidik. Guru yang mendidik itu, seperti: tokoh ulama, masyarakat dan tokoh pemerintahan terkecil di masyarakat.
Tiba di rumah sesaat setelah subuh, tidak lupa mempersiapkan jiwa yang ketiga melalui membaca al-Qur’an. Setiap huruf dan baris al-Qur’an yang dibaca, itu adalah obat penenang jiwa. Maka, jiwa yang ingin tenang jangan lupa untuk selalu berinteraksi dengan al-Qur’an.
Sesibuk apapun dan selelah apapun, jadikan al-Qur’an sebagai sabahat setia yang selalu hadir dalam setiap sedih dan bahagia. Selesai membaca al-Qur’an, berdoalah kepada Allah. Doakan anak didik dan bayangkan setiap wajah-wajahnya.
Wajah-wajah mereka adalah wajah penuh harap kepada pendidik. Maka sertakan mereka dalam doa pendidik, agar jiwanya siap menerima cahaya pelajaran dari mulut pendidik yang sudah dibasahi oleh bacaan al-Qur’an.
Selesai membaca al-Qur’an, rapi-rapi sekitar rumah. Merapikan rumah, anggap saja miniatur merapikan mental-mental anak didik di kelas. Tidak jauh beda, merapikan rumah adalah merapikan jiwa-jiwa yang ada di rumah.
Kerapian mental dan jiwa yang sudah terkondisi dari rumah, pada ujungnya bisa terbawa ke ruang kelas. Oleh karena itu, sebaiknya segala masalah yang belum rapi di rumah, secepatnya dirapikan agar tidak terbawa ke sekolah.
Pendidik yang membawa masalah rumah ke sekolah, hampir tidak mungkin akan bisa mentransfer energi positif, jika jiwa pendidik dipenuhi dengan masalah. Sekitar rumah sudah rapi, beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuh.
Setelah itu sarapan bersama dengan anak dan istri. Sarapannya jangan terlalu kenyang, untuk menjaga agar bisa gerak cepat. Sarapan sudah habis, cuci piring. Piring bersih sebagai persiapan membersihkan anak didik dari mental yang tidak baik.
Sebelum keluar rumah untuk mendidik, tidak lupa pamit kepada anak dan istri. Pamit dengan cium pipi dan kening untuk memberikan rasa kehangatan dan kebahagiaan kepadanya. Kendaraan sudah siap, gas siap ditekan. Melajulah kendaraan dengan pelan dan penuh kepastian.
Di tengah jalan, pendidik sejati tidak serobot kanan kiri. Tunjukkan sebagai pendidiknya ketika ada di jalan raya. Jiwa pendidik harus ada di mana-mana agar dirinya teratur dan tidak berantakan di jalan. Bagaimana bisa mengatur orang lain, mengatur diri saja di jalan tidak jelas arahnya.
Trending Now