Konten dari Pengguna
Menyalakan Jiwa Pendidik di Ruang Kelas (3)
19 November 2025 10:12 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Menyalakan Jiwa Pendidik di Ruang Kelas (3)
Pendidik perlu mempersiapkan mental. Mulai dari salat tahajud, duha sampai salat membaca al-Qur'an.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai pendidik saat ada di jalan raya, seharusnya ada perbedaan dengan orang yang bukan pendidik. Di jalan raya pendidik harus lebih teratur, tidak sembarangan berbelok dan berhenti di jalan. Apalagi berhenti di pinggir jalan lalu lintas yang padat, itu bisa mengganggu kendaraan lain.
Sukur alhamdulillah kendaraan lain tidak terganggu, jika terganggu dan menimbulkan kecelakaan karena mobil parkir sembarangan, bisa menimbulkan kerugian orang lain. Ini tentu sudah merupakan dosa dan itu membuat hidup menjadi tidak berkah, bahkan sulit.
Sampai di lokasi lembaga pendidikan, pendidik tidak langsung ke kelas, namun terlebih dahulu istirahat. Nafas sudah berdamai dengan fisik, kaki melangkah ke masjid. Di masjid menunaikan salat duha dua rakaat atau empat rakaat.
Mengadu dan memohon kepada Allah agar proses mendidik di kelas mendapatkan ridho-Nya. Semesta dan semua isinya, termasuk anak didik ada dalam genggaman-Nya. Maka, mintalah kepada Dia agar hati dan pikiran anak didik dibukakan hatinyanya oleh Allah.
Sajadah dilipat, lalu beranjak ke kelas menemui anak didik. Masih dalam keadaan punya wudu, pendidik masuk kelas. Aura setelah salat dan tentunya masih punya wudu, bersatu dengan anak didik yang sama-sama sudah menunaikan salat duha.
Aura tenang pendidik akan bertemu dengan aura tenang anak didik. Cahaya pendidik setelah salat akan ketemu dengan cahaya anak didik setelah salat. Pada akhirnya, kelas diselimuti rasa tenang dan cahaya setelah salat. Kelas menjadi adem dan sikap anak didik serta pendidik sama-sama merasakan kelas yang sejuk.
Tubuh dan jiwa pendidik sudah ada di kelas. Di lain waktu, bisa jadi tubuh pendidik sudah hadir di dalam kelas, namun jiwa pendidik masih bergentayangan di mana-mana. Kadang jiwa pendidik melayang ingat hutang yang belum lunas. Kadang melayang ke tempat sekolah anak yang belum membayar SPP. Kadang melayang ke rumah di mana cicilan rumah belum lunas.
Pikiran demikian, sedari awal seharusnya diselesaikan dulu di rumah. Pikiran saat ada di sekolah fokus, tidak melayang ke mana-mana. Perlu cara khusus memberikan pelatihan kepada pendidik yang pikirannya saat di sekolah melayang ke mana-mana.
Untuk menghadirkan jiwa pendidik di kelas, jika perlu setelah salat duha disisakan waktu untuk membaca al-Qurβan terlebih dahulu. Ini semata-mata untuk mengondisikan dan juga untuk mengobati berbagai penyakit yang ditimbulkan dari dalam jiwa.
Jiwa pendidik sudah tenang, baru masuk kelas. Saat masuk kelas, perlihatkan tubuh pendidik kepada anak didik dengan penuh semangat. Jika pendidik masuk kelas dengan tubuh lemas, aura negatif dan tidak semangat pun akan menular kepada anak didik.
Jangan berharap anak didik akan semangat, sementara pendidik dalam kondisi murung dan lemes. Kondisi pendidik demikian harus segera diselesaikan masalahnya dengan cara dikelola oleh sekolah jika pendidik tidak mampu menanganinya.
Tubuh dan jiwa sudah semangat, keluarkan aura positif dengan tersenyum kepada anak didik. Bertanya kabar kepada anak didik sambil melempar pantun untuk mencairkan suasana kelas. Pendidik harus banyak koleksi ice breaking dan berbagai games edukatif agar di kelas anak didik tidak bosan.
Pendidik di kelas tidak langsung mengajar, namun mengondisikan jiwa anak didik terlebih dahulu. Untuk mengondisikannya: bisa melalui ice breaking, membaca al-Qurβan, mini outbond, games edukatif, cerita motivasi, menyanyi bersama, dan lain sebagainya.
Ini artinya, pendidik sudah harus mempersiapkan segalanya. Bahkan, dari malam hari sudah mempersiapkan untuk rancangan pembelajaran hari esok, termasuk ice breaking apa yang akan digunakan oleh pendidik untuk mencairkan suasana.
Tentu, persiapan itu sudah diimbangi oleh hasil identifikasi pendidik mengenai karakter dan kecerdasan apa yang terdapat di dalam kelas yang akan dididiknya itu. Ini penting, mengingat keberhasilan mendidik tidak akan bisa lepas dari melihat situasi dan kondisi psikologi anak didik di kelas.
Anak didik sudah terkondisi, materi pelajaran disajikan secara perlahan. Mengawali belajar, pendidik mengaitkan dulu dengan pelajaran pekan kemarin. Setelah terhubung baru secara perlahan ke materi yang diajarkan hari itu.
Saat pelajaran berlangsung, kondisi ruang kelas di tata serapi mungkin. Berikan sentuhan instrumen semangat, video edukatif dan metode lain yang sesuai dengan kecerdasan anak didik. Atau dengan kata lain, berikan sentuhan teori edutaiment, suatu teori di mana antara hiburan dan pendidikan digabung menjadi satu.
Sehingga, anak didik merasakan bahwa belajar itu asyik. Saking asyiknya, belajar seperti tidak sedang belajar. Mulai dari awal sampai akhir pembelajaran, seperti sedang menonton drama kolosal yang memberikan daya dorong untuk maju kepada anak didik.
Selesai pembelajaran, pendidik memberikan penguatan atas materi dan closing statement yang sudah dipelajari bersama. Penguatan materi dan closing statement itu, bisa dibuatkan dalam bentuk pernyataan singkat, namun penuh makna.
Akhir pelajaran ditutup dengan doa, dipimpin oleh anak didik yang mandiri dan dilain waktu oleh pendidiknya. Berdoa dipimpin anak didik, agar anak didik terdorong menjadi anak yang berani mengelola mentalnya melalui momen memimpin doa.
Selesai doa, anak didik salaman kepada pendidiknya. Salaman untuk membimbing anak didik melalui sentuhan emosi batin yang bisa menghubungkan gelombang rasa nyaman dan percaya antara pendidik dan anak didik. Semoga bermanfaat.

