Konten dari Pengguna
Merdeka Berbasis Shalat
16 Agustus 2025 11:16 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Merdeka Berbasis Shalat
Terdapat relevansi merdeka dengan shalat, salah satunya terletak pada takbir.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dalam waktu hitungan jam ke depan akan berulang tahun yang ke-80. Merdeka pada waktu itu adalah merdeka dalam arti lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Bebas dalam segala bentuk penindasan dan pengerukan kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah.
Bangsa penjajah datang tidak saja untuk mencari kekuasaan dan mengeruk kekayaan alam, tetapi untuk menyebarkan agama. Penyebaran agama oleh bangsa penjajah, tidak lain menyebarkan agama Kristen. Menyebarkan keyakinan kepada masyarakat yang sudah punya agama memang tidak relevan.
Tetapi, itulah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah oleh argumentasi. Meski demikian adanya, fakta ini menjadi pembelajaran penting ketika dikaitkan dengan perintah agama. Salah satu perintah agama Islam adalah beribadah dalam bentuk shalat.
Shalat didalam agama Islam adalah kewajiban setiap individu seorang muslim. Semua dalil tentang shalat bersifat jelas, tidak perlu dipertanyakan lagi. Baik al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad SAW sudah jelas dan gamblang.
Begitu pentingnya shalat sampai Rasullah SAW harus menghadap kepada Allah melalui peristiwa isra mikraj. Shalat diterima oleh Nabi Muhammad SAW langsung di sidratil muntaha. Di sana Rasullah bertemu dengan Allah untuk menerima perintah shalat.
Perintah agama yang berupa shalat adalah satu-satunya perintah agama yang Rasullah SAW sendiri harus bertemu langsung dengan Allah. Ini ,menunjukkan bahwa shalat adalah kebutuhan pokok ruhani manusia yang begitu penting.
Pertanyaannya, kenapa kita sebagai umat Islam harus shalat. Setiap keadaan apa pun, baik dalam kondisi sehat, sakit, sedang sibuk kerja, sedang di perjalanan dan kondisi lainnya harus shalat. Saking penting shalat, berarti di dalam shalat itu ada pelajaran, hikmah, rahasia dan fungsi shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 6 salah satu dalil perintah shalat dimulai dengan panggilan “wahai orang-orang yang beriman.” Menurut Ibnu Abbas, jika di dalam al-Qur’an ada perintah atau larangan yang dimulai dengan “wahai orang-orang yang beriman”, maka dibalik perintah atau larangan itu akan ada hikmah.
Lalu, bagaimana hikmah di dalam shalat itu jika dikaitkan dengan kemerdekaan setiap individu yang mengaku berimana kepada Allah? Untuk menjawab ini tidak mungkin harus menjawab semua. Karena, hikmah shalat untuk kehidupan kita begitu banyak.
Pada tulisan yang singkat ini insya Allah akan diungkap sedikit melalui ucapan takbir. Ucapan kalimat takbir di dalam shalat tidak sekadar mengucapkan takbir. Takbir di dalam shalat ada maksud dan tujuan yang hendak diajarkan oleh Allah kepada umat Islam.
Orang yang mengerjakan shalat setiap hari paling tidak mengucapkan kalimat takbir sebanyak 94 kali. Itu baru takbir yang diucapkan pada saat shalat wajib. Jika dihitung dengan shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib, maka terdapat 171 kali takbir.
Saat takbir, kita mengucapkan takbir. Ucapan takbir sejatinya harus dihayati dan dirasakan oleh hati yang paling dalam. Hati kita ada empat lapisan, mulai dari sadr, fu’ad, hati nurani dan lub.
Setiap mengucapkan takbir, setiap itu pula kalimat takbir itu akan direkam oleh hati kita. Jika dihitung oleh kita semua sudah berapa kali ucapan takbir kita kumandangkan dalam shalat? Apakah ada dampak positifnya kepada jiwa kita?
Di dalam ucapan takbir itu kita sudah berjanji bahwa Allah lah yang Maha Besar, bukan tuhan yang lain. Sahabat mulia Abu Bakar As-Shiddiq, saat mengucapkan takbir, fisik dan suaranya gemetar.
Ketika ditanya oleh sahabatnya oleh sahabat, Abu Bakar berkata “aku takut lisan ini mengucapkan Allah Maha Besar, tetapi justru lisan ini merendahkan orang lain. Mengucapkan Allah Maha Besar, tetapi aku merasa tinggi dari pada orang lain.”
Berkaca dari kualitas shalat sahabat mulia di atas, takbir memberikan dorongan spiritual kepada orang beriman bahwa shalat memerdekaan hamba-Nya dari tuhan-tuhan yang lain. Saat dalam kehidupan sehari-hari, hatinya teguh tidak takut dengan oleh kondisi apa pun.
Orang shalat yang berhasil menyimpan nama Allah di dalam hatinya, tidak akan terjebak oleh ketakutan apapun. Jabatan tidak perlu ditakuti jika diambil, karena itu hanya titipan dari-Nya. Harta yang melimpah ruah di sana-sini tidak usah takut hilang, karena itu hanya sekadar titipan.
Anak yang menawan dan lincah tidak usah gundah saat kehilangan, karena itu hanya titipan sementara. Semua titipan. Bahkan usia ini pun titipan, tidak usah disia-siakan, tapi dimanfaatkan untuk kemaslahatan dunia akherat.
Yang namanya titipan ketika diambil tidak usah marah, apalagi mempertahankan dengan membabi buta. Saat diambil dipersilahkan. Saat dikasih, dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya.
Alhasil, shalat yang baik adalah shalat yang berhasil memerdekaan egosentris dan nafsu memiliki dalam dunia yang fana ini. Semoga bermanfaat.

