Konten dari Pengguna
Merdeka dalam Ingatan Karyawan
11 Agustus 2025 10:43 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Merdeka dalam Ingatan Karyawan
Merdeka dalam benak karyawan adalah kerja tidak dalam tekanan dan bebas menurut kemanuannya sendiri.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak lebih satu pekan ke depan (11/08/2025) masyarakat Indonesia akan mengenang kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan 17 Agustus 1945. Peringatan kemerdekaan di tahun 2025 ini sudah memasuki usia yang ke-80.
Suatu usia yang boleh dikatakan sudah senja, penuh dengan pengalaman berharga atau dengan kata lain hanya tinggal menikmati kemerdekaan. Dalam bahasa agama ada tiga istilah kemerdekaan, yaitu; Hurrun, Itqun dan Istiqlal.
Kata βhurrunβ digunakan dalam al-Qurβan memiliki dua makna. Pertama, lawan dari perbudakan dan bebas dari kekurangan. Kedua, lawan dari dingin yakni panas.
Menurut Ibnu Asyur (1879-1973 M) bahwa al-Hurriyah memiliki dua makna yaitu, pertama, kemerdekaan bermakna lawan kata dari perbudakan. Kedua, makna metaforis dari makna pertama, yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dan urusannya sesuka hati tanpa ada tekanan.
Merdeka mudah diucapkan, susah diterapkan. Dalam kehidupan karyawan merdeka tidak banyak digembar-gemborkan. Yang tahu merdeka dalam ingatannya, ia bisa kerja dengan gaji yang mencukupi. Gajian tepat waktu. Jika akhir tahun dapat bonus liburan. Lebaran mendapat THR. Cuti kerja cukup jelas dan jenjang karier terbuka bagi siapa pun.
Normalnya demikian. Namun, bagaimana jadinya jika ada karyawan yang sudah kerja, tapi gajinya tidak jelas, bahkan tidak ada kepastian gaji. Jangankan kepastian gaji, sekadar gajian tepat waktu pun sulit. Apalagi harus menuntut bonus tahunan, rasanya jauh.
Yang lebih aneh lagi, keterlambatan gajian seperti tidak ada yang salah. Gaji lambat, seolah-olah tidak lambat. Berbulan-bulan gaji pokok belum ada kabar kepastian.
Apakah ini yang namanya perbudakan era modern. Kerja setiap hari, pas waktu gajian tidak mendapatkan kejelasan.
Di sisi lain, acara-acara yang bersifat tidak terlalu penting diadakan. Mengadakan acara tentu memerlukan dana tidak sedikit.
Dari pada mengadakan acara yang menguras anggaran mendingan di saving untuk membayar kewajiban pokok. Bukan malah gengsi dikedepankan, lalu kesohor ke luar, namun pailit ke dalam. Ini ironis dan tragis.
Merdeka bagi karyawan saat berangkat punya kendaraan yang baik untuk sampai ke tempat kerja. Bahan bakar di motor penuh. Setiap tiba waktunya servis ada uang untuk bayar servis. Saat jalan di akhir pekan bisa pergi liburan tipis-tipis, meski harus berhemat.
Akhir bulan saat yang punya kontrakan menagih dengan lancar bisa langsung bayar.
Atau bagi pihak lain yang punya cicilan rumah, bisa membayar dengan penuh kepastian. Jangan sampai mau bayar cicilan harus menunggu gajian, sementara gajian tidak ada kepastian kapan turunnya.
Di samping itu, setiap tahun selesai menjalankan puasa Ramadan karyawan bisa pulang kampung dengan tenang. Rumah yang masih dalam tahap cicilan aman ditinggal. Ketika sudah sampai kampung, tidak lupa bisa memberi dan berbagi di antara sanak famili.
Di kampung ia bisa bersilaturahmi dengan keluarga dengan cukup waktu dan aman dari gangguan yang mempercepat ia harus pulang segera ke kota. Di kampung ia benar-benar bisa menikmati persentuhannya dengan tempat lahir.
Dirinya seperti menerawang ke masa lampau saat waktu kecil. Waktu kecil bisa bermain dengan teman-temannya di sungai yang airnya masih bening. Bermain di sawah sambil membajak sawah dengan kerbau. Setelah itu makan ramai di pinggir sawah.
Rasanya tidak bisa tergantikan waktu itu. Mengulang sejarah pun sulit diulang kembali, karena waktunya sudah berubah.
Selesai bersapa dengan kehidupan warga di kampung, kembali lagi ke kota dengan santai dan tidak ada pihak lain untuk mengatakan segera pulang ke kota. Dari kampung bisa membawa oleh-oleh untuk sekadar menyapa tetangga dengan segenggam perhatian kantong keresek.
Di perjalanan menuju tempat mencari kehidupan, ia bisa mampir sejenak untuk melepas lelah sambil berusaha menghapus ingatan bahwa di desa itu hidup begitu menenteramkan. Setelah lelah berangsur pulih, kendaraan siap dipacu kembali agar sampai ke kota dengan segera.
Sesampai di kota, rumah segera dirapihkan agar kondisi rumah nyaman untuk bernaung saat lelah menyapa.
Tidak lupa oleh-oleh yang sudah disiapkan dari kampung dibagikan kepada tetangga. Tetangga memang bukan siapa-siapa, tapi dialah yang pertama kali akan diminta bantuan apa yang kita dibutuhkan.
Setelah sekian hari ada di kota, tibalah masuk kerja dengan segenggam oleh-oleh yang sudah disiapkan dari kampung. Saat tiba di tempat kerja, hati bisa tersenyum kembali.
Bahagia pun menyapa diri, karena hari itu akan memulai kembali mencari sesuap nasi untuk masa depan keluarga yang lebih cerah. Semoga bermanfaat.

