Konten dari Pengguna
Metodologi Ber-WA dalam PAI: Dari Komunikasi menjadi Transformasi Pembelajaran 1
20 November 2025 9:44 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Metodologi Ber-WA dalam PAI: Dari Komunikasi menjadi Transformasi Pembelajaran 1
Dalam melakukan komunikasi ada tata cara yang yang diperhatikan. Mulai dari waktu, orangnya sudah kenal apa belum sampai menunggu jawaban dengan sabarr.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Data BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa 2/3 (68,65%) masyarakat Indonesia sudah memiliki ponsel seluler. Sementara pengguna internet sudah menembus angka 72,78%. Itu artinya masyarakat sudah banyak yang memakai ponsel pintar.
Banyaknya masyarakat Indonesia memakai ponsel menjadi tantangan tersendiri dalam tata cara melakukan komunikasi. Komunikasi antar masyarakat melalui WA, tidak dipungkiri dalam banyak hal menimbulkan masalah.
Tidak sedikit juga banyak pihak-pihak yang mengeluhkan mengenai batasan etika ber-WA. Komunikasi via WA, perlu mendapatkan perhatian setiap orang yang memakainya. Komunikasi via WA untuk orang yang pertama kali baru kontak, tidak lupa harus memperkenalkan diri.
Perkenalan itu penting agar orang yang dikontak tidak kaget. Kenalkan diri sejelas-jelasnya. Mulai dari mengucapkan salam, perkenalan diri, mengetahui nomor dari siapa, keperluan untuk apa dan ucapkan terima kasih.
Paling tidak struktur di atas, perlu ditekankan. Tidak boleh langsung lompat menjelaskan keperluan, sebelum identitas diketahui secara jelas. Jika tidak, nanti orang yang dikontak akan kaget dan bingung serta menimbulkan guncangan batin kepada orang yang dikontaknya.
Bagi orang yang mengontak, tidak usah ingin buru-buru langsung dibalas. Biarkan dulu orang yang dikontak itu membuka WA. Jika membukanya lama, lebih baik berbaik sangka saja. Barang kali dia sedang fokus kerja dan sedang membiarkan HP-nya untuk istirahat tidak dipegang dulu.
Harus sabar dan jika ingin telpon langsung, bisa minta izin terlebih dahulu. Kalau tidak dijawab artinya belum mengizinkan. Tunggu saja sampai dia membuka WA-nya. Sebaliknya, orang yang akan menjawab, layani dengan baik, seperti melayani diri sendiri sebaik mungkin.
Buka HP, jawab salam darinya, lalu jawab keperluan orang yang WA itu. Menjawab keperluan orang, penting diutarakan dengan jelas. Kalau perlu via telpon agar lebih jelas. Namun, sebelum telpon, sebaiknya minta izin terlebih dahulu agar betul-betul siap menerima telpon.
Jika tidak dijawab, via WA saja. Dalam menjawab keperluan, jawab sejelas mungkin. Tidak perlu bertele-tele, langsung pada intinya. Jika keperluan meminta bantuan, katakan iya, kalau mampu memberi bantuan.
Kalau belum mampu, carikan alternatif lain atau mencari pihak lain yang bisa membantu. Setelah itu, tinggal menunggu respon berikutnya. Giliran yang merespon, mentalnya harus siap. Jika dikatakan belum bisa memberi bantuan, ucapkan saja βterima kasih sudah menjawabnya.β
Jangan menghardik dan jangan katakan yang tidak-tidak, toh pihak lain yang akan menolong masih banyak. Kalau pun masih belum ada pihak yang bisa menolong, tidak boleh putus asa. Bisa jadi, belum ada yang menolong itu adalah ujian bagi orang yang minta tolong.
Positif thingking saja, hidup ini tidak harus langsung ada pihak yang menolong, sekali-kali harus ada pihak yang belum bisa menolong, agar lebih mawas diri dan tidak cengeng menghadapi kenyataan hidup.
Kondisi orang yang dikontak, apalagi belum tahu betul informasinya secara jelas, sebaiknya jangan menggantung kepadanya. Lepaskan ketergantungan kepadanya dan cari pihak lain. dunia ini luas, tidak sesempit daun singkong.
Ditolak permintaan tolong dari yang satu, melangkah ke belahan Bumi Allah yang lain. Yang penting terus bergerak dan bergerak. Nanti karunia Allah akan datang dalam bentuk malaikat kecil. Malaikat kecil itu adalah orang yang berani mengorban pikirannya, hartanya, bahkan nyawanya pun dikorbankan untuk membantu sesama.
Terkadang belum ada pihak yang bisa membantu itu adalah isyarat harus lebih kerja keras lagi. Setelah kerja keras, lalu Allah akan mengirimkan pihak lain yang betul-betul bisa diajak kerja sama dan komunikatif ketika menggali lebih dalam permintaan seseorang. *Bersambung

