Konten dari Pengguna
Metodologi Ber-WA dalam PAI: Dari Komunikasi menjadi Transformasi Pembelajaran 2
21 November 2025 8:21 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Metodologi Ber-WA dalam PAI: Dari Komunikasi menjadi Transformasi Pembelajaran 2
Komunikasi via Wa, perlu memperhatikan aspek waktu dan siapa yang akan di Wa. Ini penting, agar tidak terjadi konflik.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi via Wa juga perlu memperhatikan aspek waktu. Waktu ber-Wa harus diperhatikan. Waktu ber-Wa ini bergantung kepada orang yang akan di Wa. Jika orang yang akan di Wa itu pekerja, maka pilih waktu yang tepat agar tidak mengganggu.
Jika terpaksa Wa di waktu kerja, terlebih dahulu ucapkan permohonan maaf telah mengganggu waktunya. Ini aspek etis yang diperlu diperhatikan. Maka, tidak salah aspek waktu penting diperhatikan, kecuali orang yang belum kerja. Barangkali waktunya banyak luang.
Waktu ber-Wa tidak sembarang memilih waktu. Waktu subuh, misalnya, belum semua orang siap melayani balas Wa. Jam-jam segitu, banyak orang yang mengerjakan kepentingan pribadi. Mulai dari salat subuh, dzikir, membaca al-Qurβan, buang air besar, rapi-rapi rumah, membuat sarapan, membaca buku, persiapan kerja dan lain sebagainya.
Etisnya, Wa kepada seseorang mulai dari masuk kerja sampai malam hari. Pada perkembangannya, dalam konteks akademik Wa pagi sampai sore banyak dilakukan oleh mahasiswa yang dikuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), di mana dosen-dosennya masuk kerja dari Senin sampai Jumβat.
Jam Wa-nya, banyak memakai waktu pagi sampai sore. Pagi jam 8 dan sore maksimal sebelum maghrib. Jika Wa setelah maghrib, meski dosen belum tidur, rasanya aspek etis dipertanyakan. Jam malam bagi semua orang, banyak dipergunakan untuk istirahat, termasuk dosen PTN.
Meski jam malam banyak juga yang komunikasi via Wa, namun Wa di malah hari, dalam konteks tertentu banyak diperuntukkan bagi pihak tertentu yang sudah terjalin sekian lama, seperti: teman dekat, sahabat, orang tua, rekan bisnis atau emergency.
Namun, jika pelajar atau mahasiswa kontak dosen negeri di malam hari, perlu mendapat perhatian lebih agar tidak terjadi masalah. Berbeda dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang menyediakan perkuliahan kelas malam dan akhir pekan, waktu ber-Wa-nya cukup fleksibel.
Meski demikian bagi dosen PTS waktu komunikasinya fleksibel, namun tidak boleh mengesampingkan aspek etika. Wa di atas jam sepuluh malam, misalnya, sudah melanggar etika. Apalagi Wa-nya di atas jam 12 malam, itu sudah kebangetan.
Secara umum waktu tidur masyarakat Indonesia di perkotaan, berkisar antar jam 21.00 sampai jam 22.00. Sebagian kecil, jam 20.00 sudah ada yang mulai tidur. Wa kepada dosen PTS, baiknya mulai dari 7.30 sampai jam 21.00 atau 22.00. Meski jam segitu sudah warning untuk melakukan komunikasi via Wa.
Sementara hari ber-Wa, pada kasus-kasus tertentu tidak mengenal waktu. Ini karena PTS banyak yang menyelenggarakan perkuliahan di week end. Pada kasus ini, mahasiswa S1, S2 maupun S3, harus memperhatikan berbagai momen week end.
Kalau perlu lihat tanggal, jika mau komunikasi kepada dosennya. Kalau ternyata Wa di week end itu adalah liburan panjang, alangkah baiknya diurungkan niatnya. Cari waktu lain yang tepat, agar tidak mengganggu dosennya.
Kalau dipaksa untuk Wa kepada dosen, harus siap menerima akibatnya. Salah satunya bisa memicu konflik. Dalam skala kecil, hubungan mahasiswa dan dosen tidak nyaman. Situasi tidak nyaman pada gilirannya bisa menurunkan tingkat motivasi belajar. Baik dosennya maupun mahasiswanya.
Kalau sudah demikian, jangan salahkan dosennya, ketika keluar kelas ilmunya hilang tanpa bekas. Antara yang kuliah dengan yang tidak kuliah, sama saja. Harusnya berbeda dan lebih memahami.
Di sisi lain, jika mahasiswa terpaksa Wa di week end yang kebetulan momen liburan panjang, gunakan bahasa yang santun, bijak, tidak menggurui dan tidak memperlihatkan kesibukan dirinya. Jika memperlihatkan kesibukan dirinya, apalagi egois, respon dosen terkadang acuh dan malas. Pada akhirnya hubungan dosen dan mahasiswa terganggu, gara-gara situasi demikian.
Bagi dosen yang akan menjawab Wa mahasiswa, entah itu dosen PTN atau PTS, layani dengan baik, meski mahasiswanya kurang menampilkan etika dengan baik. Kalau menampilkan Wa yang kurang baik, dosen sebagai pendidik berhak memberi arahan dan pelajaran membangun kepada mahasiswanya.
Bisa jadi, saat memberi pelajaran, ada dosen yang sabar dan ada dosen yang tidak sabar. Dosen yang sabar, tidak cepat marah. Sementara dosen yang tidak sabar, bisa marah dan mungkin bisa ditinggalkan alias tidak dibalas.
Intinya layani saja Wa mahasiswa itu, sesuai caranya masing-masing. Jangan lupa: jawab salamnya, berikan penjelasan yang memadai, menjawabnya tidak terlalu singkat, jika jawabnya terlalu lama berikan kata maaf, humanis dan anggap semua mahasiswa yang Wa ke dosen punya kepentingan yang perlu dibantu dengan segera.*Bersambung

