Konten dari Pengguna
Milad Sebagai Media Pendidikan Tauhid
19 November 2025 10:23 WIB
ยท
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Milad Sebagai Media Pendidikan Tauhid
Milad Muhammadiyah tidak sekedar peranyaan milad. Namun, bagi umat Islam ada pelajaran penting, yaitu sebagai media penddikan teologi.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 18 November 2025, organisasi Muhammadiyah mengulang sejarah hari lahirnya. Di hari lahir itu, pengikut Muhammadiyah berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia. Milad Muhammadiyah bertempat di Universitas Muhammadiyah Bandung.
Di sana turut hadir berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pejabat setingkat menteri sampai masyarakat biasa. Semua hadir dalam rangka muhasabah hari lahir. Organisasi Muhammadiyah lahir jauh sebelum Indonesia merdeka.
Sejak 1912 hingga kini, 2025, organisasi Muhammadiyah sudah lanjut usia. Usia 113 tahun dalam jati diri manusia adalah usia langka. Jika masih ada pun, sudah barang tentu untuk ukuran manusia sudah tua renta dan jompo.
Namun, berbeda dengan usia organisasi. Semakin usia jompo, dalam organisasi semakin matang dan dewasa. Sementara usia manusia dalam hitungan 113 sudah jompo atau kebanyakan sudah ada dalam kubur.
Agama melihat lahir bukan sekadar lahir. Di sana ada pelajaran penting yang patut direnungkan. Saat lahir, manusia dalam keadaan fitrah. Bahkan, sejak di alam rahim pun manusia sudah ditempa oleh yang Maha Kuasa melalui perjanjian primordialnya.
Perjanjian primordial itu ketika Sang Pencipta mengambil persaksian kepada manusia. Sementara manusia pada waktu itu sudah mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya. Ketika lahir, manusia menyandang fitrah. Fitrah yang dimaksud adalah manusia mengakui Allah sebagai Tuhannya.
Ini terekam jelas dalam al-Qurโan surat Al-Aโraf ayat 172. Namun ketika lahir, yang akan mempengaruhi bayi yang sudah mengakui Allah sebagai Tuhannya itu, pada tahap selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan.
Lingkungan pertama yang banyak mempengaruhi bayi adalah orang tuanya sendiri. Orang tualah yang akan mempengaruhi keagamaan sang bayi, seperti dijelaskan dalam hadits terkenal, bahwa โsetiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menyahudikan, menasransikan, dan menjadikannya majusi.โ
Ini memberikan penekanan bahwa lingkungan itu sangat kuat mempengaruhi keagamaan sang anak, termasuk lingkungan pertamanya adalah kedua orang tua. Sukur alhamdulillah, jika bayi lahir di tengah keluarga muslim. Saat lahir akan diperdengarkan suara azan di telinga sebelah kanan dan akan diperdengarkan iqomah di telinga sebelah kiri.
Dari sini saja bayi yang baru lahir beberapa menit itu sudah mendengar kata Allah, karena dilantunkan oleh orang tuanya yang beragama Islam. Meskipun setelah dewasa nanti, tidak tahu bayi itu apakah akan tetap beragama Islam atau justru berbalik arah.
Tapi bagaimana jika bayi itu lahir dari keluarga non muslim, bisa jadi ia menjadi non muslim. Meskipun di kemudian hari kelak setelah dewasa ada peluang menjadi pemeluk Islam setelah bersentuhan lingkungan Islam.
Dari kedua keluarga yang menerima bayi baru lahir itu, memiliki peluang yang sama. Antara bayi yang lahir di tengah keluarga muslim dan bayi yang lahir dari keluarga non muslim, keberagamaan keduanya sangat ditentukan oleh lingkungan dan juga hidayah.
Sejak bayi, anak yang lahir di keluarga muslim sudah diperkenalkan kata Allah dalam berbagai aktivitasnya. Saat bayi makan dibacakan doa oleh Ibunya. Di dalam doa makan, sudah terkandung nama Allah. Saat bayi tidur, dibacakan doa lagi oleh ibunya. Lagi-lagi dalam doa sebelum tidur itu sudah terkandung nama Allah.
Belum lagi ketika bayi sedang tidur, orang tua yang menginginkan bayinya menjadi anak yang saleh dan pencinta al-Qurโan, di tengah tidur lelap bayi diberikan lantunan suara tilawah al-Qurโan melalaui video murottal.
Berbagai aktivitas yang di dalamnya terdengar nama Allah itu terus menerus dilakukan oleh kedua orang tuanya. Bahkan, sampai anak sebelum masuk TK pun masih terus diperdengarkan nama Allah.
Di lapangan, tidak sedikit sang ayah membawa anak usia tiga tahun sudah membawanya ke masjid. Meski belum mengerti, anak itu tetap memberikan respon dan merekam apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar dari orang dewasa yang ada di masjid itu.
Paling tidak, anak kecil usia di bawah usia TK sudah bisa mengucapkan โAllah akbarโ, yang dia dengar ketika di masjid. Kalimat takbir itu, disimpan dalam otaknya. Bahkan, sering terbawa ucap ketika sedang main di rumah. Ketika anak jatuh, ada anak yang mengucapkan astagfirullah. Kata astagfirullah sudah pasti ia dapatkan dari lingkungannya.
Semakin banyak bergaul dengan lingkungan, perbendaharaan kata dalam benak anak, akan semakin banyak. Alhamdulillah, jika perbendaharaan kata yang terekam oleh anak itu kata-kata yang baik. Tapi, bagaimana jika kata yang tidak baik itu bersarang di dalam kepala anak.
Tentu orang tua harus berusaha meluruskan, mumpung masih kecil, kalau sudah remaja atau dewasa cukup susah. Apalagi di usia remaja dan dewasa, sudah punya lingkungannya sendiri. tidak dipungkiri di era digitial, banyak usia balita yang sudah memegang HP.
Ini harus diatur oleh kedua orang tuanya. Anak bukan tidak boleh bermain HP, namun dibatasi dan dialihkan ke dalam aktivitas lain yang lebih happy dari pada pegang HP. Kalimat dan gambar yang ada dalam HP akan terekam jelas dalam pikiran anak. Maka, penting bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan yang bisa menjaga fitrah anak.
Lingkungan untuk menjaga fitrah anak, bisa diusahakan. Namun, tantangannya bagi kedua orang tua yang kerja berangkat pagi pulang sore atau malam, akan cukup kerepotan. Orang tua harus mencari lingkungan penitipan anak yang bisa menjaga fitrah keber-Tuhanan anak.
Bagi nenek dan kakeknya yang ikhlas mengasuh cucu, alhamdulillah. Namun, perlu menyamakan persepsi antara kedua orang tuanya dan nenek kakeknya. Jangan sampai arah pendidikan antara orang tuanya dan nenek kakeknya berbeda.
Tapi, jika nenek dan kakeknya ada di kampung jauh di sana, diskusikan di antara kedua orang tuanya. Apakah ada peluang sang istri untuk di rumah dulu sampai kemudian anak besar menjelang masuk TK? Atau apakah ada alternatif lain? ini perlu diskusi terbuka antara ayah dan ibunya.
Boleh ajdi Sang Ayah menekankan kepada istrinya agar berhenti dulu kerja untuk menjaga fitrah sang anak. Anak diserahkan kepada orang lain, yang tidak tahu persis situasi anaknya, sudah pasti akan penuh dengan risiko.
Risiko ringan mental anaknya berubah dan risiko terbesar ucapan, sikapnya, tubuhnya tidak terawat dan nama Allah dalam benaknnya tercemar. Akhirnya, ketika ada di rumah, anak jadi aneh sikapnya, ucapan dan kalimat tayyibah menjadi luntur. Saat itulah, kedua keluarga akan menyesal. Namun, tidak ada kata terlambat. Ayah harus segera mengambil sikap. Di antaranya meminta istri untuk tidak bekerja dulu agar bisa mengasuh dan merawat anaknya.
Lebih baik anaknya diasuh dan dirawat langsung oleh ibunya, dari pada sama orang lain yang justru merusak mental dan sikap sang anak. Insya Allah soal rezeki akan berjalan dengan lancar. Rezeki istri yang didapat melalui kerja, akan diberikan oleh Allah kepada suami. Akhirnya penghasilan keluarga akan tetap sama, ketika suami dan istri sama-sama kerja. Semoga bermanfaat.

