Konten dari Pengguna

Pahlawan Intelektual di Dunia Pendidikan

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

Β·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Timesindonesia.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Timesindonesia.co.id

Setiap tanggal 10 November 1945, bangsa Indonesia diajarkan oleh peristiwa pentingnya membela negara. Negara yang baru berdiri tidak boleh kembali ke tangan penjajah, ia harus tegak dan berdamai di bawah kekuatan para pahlawan.

Para pahlawan pada waktu itu berani mengorbankan jiwa dan raga untuk mempertahankan keutuhan NKRI demi terciptanya negara yang lepas dari penjajah. Hari ini, masyarakat Indonesia menikmati hasil jerih payah para pahlawan dengan cara mengisinya dengan hal-hal yang positif.

Pahlawan hari ini tidak harus terjun bebas ke medan perang, namun ikut hanyut dan mencarikan solusi bagi terciptanya kebaikan masa depan Indonesia. Untuk menciptakan kebaikan Indonesia ke depan, banyak hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang.

Bahkan, setiap orang bisa menjadi pahlawan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Minimal pahlawan untuk diri dan keluarganya. Setiap orang punya kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Dalam konteks kehidupan sosial, ada yang memiliki kemampuan membaca al-Qur’an terbaik, sehingga ia bisa mengharumkan nama negaranya. Ada yang punya kemampuan melayani masyarakat dengan tulus dan ikhlas, sehingga masyarakat banyak mengagumi dan mengenang akan jasa-jasanya.

Dalam dunia pendidikan, ada guru yang rela berkorban di tengah sakit yang dideritanya, namun semangat mencerahkan anak didiknya melebihi orang yang sehat. Begitu juga dalam jenjang pendidikan tinggi, ada dosen yang rela bertaruh waktu, materi dan pikirannya untuk jihad intelektual.

Dosen punya kewajiban untuk melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi. Mulai dari pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengajaran dan pendidikan dilakukan di dalam kampus. Dosen masuk kelas dan berusaha untuk menyampaikan materi kuliah kepada mahasiswa dengan sebaik-baiknya.

Sementara penelitian sang dosen harus mengkaji dan mendalami tentang sesuatu hal yang terkait dengan keilmuan yang dimilikinya. Dan pengabdian kepada masyarakat, yang dikenal dengan PkM berusaha berbaur dan menyatu dengan masyarakat di luar kampus untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat.

Sumbangsih tersebut baik berupa pemikiran, produk, materi dan berbagai hasil cipta karya lainnya untuk kebaikan masyarakat. Menulis penelitian bagi sebagian dosen adalah panggilan jiwa yang hampir melekat pada dirinya.

Dosen harus mengkaji dan mendalami suatu tema, kasus atau fenomena dengan sedikit ilmu yang menjadi kompetensinya. Tidak jarang, sang dosen ketika meneliti harus menelusuri sumber-sumber primer dan sekunder untuk mendalami suatu hal.

Di sisi lain, untuk memperjelas sebuah fenomena dosen harus melakukan observasi dan wawancara di lapangan. Observasi dan wawancara di lapangan kelihatannya mudah, padahal membutuhkan kerja keras intelektual.

Saat sedang observasi dan wawancara tidak sedikit dosen harus banyak berkorban. Segala daya dan upaya dikerahkan agar bisa wawancara dengan para informannya. Mulai dari mengajukan izin wawancara, hari dan waktunya kapan, menentukan tempatnya di mana dan memberi oleh-oleh setelah melakukan wawancara.

Wawancara terlihat gampang, namun sebenarnya perlu trik dan cara yang jitu agar informannya merasa nyaman. Jika informan tidak nyaman dengan tata cara peneliti, maka bisa jadi informan yang ada dalam alam pikirannya tidak akan pernah keluar, karena tertutup oleh rasa tidak nyaman.

Kalau sudah seperti itu, penelitian bisa gagal dan tidak bisa diteruskan. Atau harus mencari informan lain yang benar-benar menguasai informasi tentang sebuah data yang dibutuhkan oleh peneliti. Dari sini peneliti, harus benar-benar serius dan tidak menganggap informan sebelah mata.

Seburuk apapun informan, dialah yang akan mengisi ruang-ruang penelitian. Informan harus benar-benar diperhatikan kondisi batinnya, jangan sampai dia menjadi malas menjelaskan informasi yang dimilikinya.

Jika ketemu dengan informan yang bisa kerja sama, langkah selanjutnya adalah mengkaji data. Data yang sudah ditemukan di lapangan, perlu dipilah-pilah. Tidak semua data yang didapatkan di lapangan dibutuhkan semua. Ada data umum dan ada data khusus.

Data umum adalah data-data primer yang belum masuk ke inti masalah yang sedang dibahas. Sementara data khusus adalah data primer yang secara spesifik bisa menjelaskan tentang masalah yang sedang diteliti. Data umum sebagai pembantu data khusus. Data khusus inilah yang akan diurai secara panjang lebar dalam penulisan.

Dalam penulisan hasil penelitian, peneliti perlu menjelaskan data yang sudah ditemukan di lapangan. Saat menjelaskan hasil penelitian, peneliti tidak lupa mendialogkan data primer dengan data sekunder.

Data primer dan data sekunder inilah saling berdialog dan berdebat data. Ketika peneliti menjelaskan data primer, kemudian didebat oleh data sekunder yang relevan. Terus berputar-putar sampai menemukan kesimpulan.

Di dalam penulisan itu, tidak sedikit peneliti bingung dengan data yang ditemukan. Maka, peneliti harus mencari data lain yang sekiranya bisa memperjelas data itu. Setelah ditemukan data yang bisa memperjelas, penulisan hasil penelitian dianggap selesai.

Sampai di sini peneliti belum bisa bernafas lega. Tahap berikutnya, ia harus mencari jurnal internasional mana yang cocok dengan tema penelitian yang didalaminya. Setelah berselancar mencari berbagai jurnal internasional, barulah mengunduh templatnya.

Di tempelat itu sudah ada kerangka penulisan jurnal yang sesuai dengan aturan pengelola jurnal. Setelah disubmit, menunggu tim redaksi untuk memeriksa kualitas naskah hasil penelitian.

Di sanalah editor dan reviewer jurnal akan bekerja. Setiap jurnal yang masuk akan diedit dan ditinjau ulang oleh para ahli. Sekian minggu atau bulan dikoreksi, muncul hasilnya. Hasilnya ada perbaikan minor dan juga ada perbaikan mayor.

Setelah diperbaiki dan diterima barulah dikeluarkan LoA dari pihak pengelola jurnal. Sekaligus biaya publikasinya diinformasikan. Naskah sudah diterima, giliran berikutnya adalah jihad mencari biaya untuk biaya publikasi. Setelah biaya publikasi sudah ditangan, kemudian ditransfer kepada pihak pengelola.

Barulah tinggal menunggu waktunya publikasi. Setelah itu baru bisa menikmati hasil jerih payahnya untuk menjadi pahlawan intelektual, yang hasil karya bisa dinikmati oleh masyarakat akademik. Semoga bermanfaat.

Trending Now