Konten dari Pengguna

Perkotaan dan Tradisi Tergesa-Gesa

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
10 September 2025 9:31 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perkotaan dan Tradisi Tergesa-Gesa
Tergesa-gesa membawa dampak yang luas terhadap pengendara. Baik kecelakaan, keributan sampai korban jiwa.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Wordpress.com
zoom-in-whitePerbesar
Wordpress.com
Masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang dinamis. Hiruk pikuk masalah perkotaan banyak ragamnya. Mulai dari masalah kemiskinan, perekonomian, politik, kemacetan, tindak kriminal, pemukiman yang tidak memadai, termasuk masalah kepadatan penduduk di perkotaan.
Kepadatan penduduk di perkotaan lebih banyak dari pada kepadatan penduduk di pedesaan. Menurut Ketua MPR, Bambang Soesatyo, masyarakat yang tinggal di perkotaan sekitar 52%. Artinya, 48% tinggal di pedesaan.
Prediksi Badan Pusat Statistik pada tahun 2035 penduduk yang tinggal di perkotaan bisa mencapai 66,6%. Sementara menurut Bang Dunia, orang yang hidup di perkotaan pada tahun 2045 bisa mencapai 70%.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota memberikan gambaran bahwa masyarakat desa ingin mengubah nasib dirinya dengan cara merantau ke perkotaan yang menjanjikan kesuksesan dan perubahan nasib.
Tidak sedikit yang berangkat ke kota hanya berbekal kemampuan seadanya. Pendidikan minim, kompetensi minim, jaringan kerja tidak kuat dan tempat tinggal hanya menumpang di sanak keluarga yang lebih dulu tinggal di kota.
Akhirnya, dampak dari pesatnya perkembangan penduduk yang tinggal di perkotaan menyebabkan hunian rumah menjadi padat, volume kendaraan setiap tahun meningkat, dan kemacetan tidak dihindari.
Kemacetan di perkotaan sekitar Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi menjadi tidak dapat dihindarkan. Misalnya, di Tangerang dari arah Gading Serpong menuju Kota Tangerang melewati jembatan yang menyempit depan masjid Sirathol Mutaqiem, setiap hari mengalami kemacetan.
Kecuali Sabtu dan Minggu melewati jalan itu cukup lenggang. Selebihnya hari kerja Senin sampai Jum’at, jalan tersebut padat merayap. Jika tertib lalu lintas, alhamdulillah, namun kalau satu sama lain saling menyerobot, bisa berakibat pada kecelakaan lalu lintas.
Ini diperparah lagi oleh tradisi masyarakat di waktu pagi membawa kendaraan dengan tergesa-gesa. Kondisi tergesa-gesa secara otomatis psikologi pengendara menjadi tidak fokus dan cenderung tidak waspada terhadap keadaan sekitar.
Akibatnya, tidak sedikit kecelakaan lalu lintas banyak terjadi di waktu pagi hari. Menurut Edo Rusyanto, Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan, berdasarkan data tahun 2016 sebanyak 33,63 % kecelakaan banyak terjadi pukul 06.00 hingga 12.00.
Berdasarkan pemantauan penulis, ketika setiap hari berangkat kerja dari rumah yang ada di Bojong Nangka Tangerang ke kota Tangerang, jarang melihat pengendara yang memacu kendaraannya dengan santai.
Kecenderungannya banyak yang memacu kendaraannya dengan tergesa-gesa. Padahal kalau sudah terjadi kecelakaan yang rugi tentu bukan siapa-siapa, tapi kita sendiri dan keluarganya. Jauh-jauh hari agama mengingatkan bahwa tergesa-gesa itu bersumber dari syaitan.
Tergesa-gesa dapat dikatakan dari syaitan dapat dipahami bahwa terburu-buru menimbulkan gejolak jiwa yang tidak stabil. Dengan terburu-buru nafas menjadi tidak teratur dan kontrol kewaspadaan dalam jiwa menjadi lemah.
Tidak sedikit terburu-buru membawa malapetaka. Entah itu kecelakaan atau keributan gara-gara hal saling serobot. Di sinilah perlu membawa kendaraan dengan penuh bahagia. Kalau bisa membawa kendaraannya dinikmati, tidak ugal-ugalan.
Setiap hari agama menyeru kepada umat Islam melaksanakan salat, agar manusia beriman bahagia dalam kehidupannya, termasuk bahagia ketika sedang berkendara. Untuk menjadi bahagia, memang banyak variabel yang perlu diperhatikan.
Mulai dari keluarga yang tenteram, kondisi ekonomi keluarga yang stabil, tetangga membawa kedamaian, kesehatan orang tua terjaga sampai menjaga wudu untuk menekan emosi jiwa ketika sedang di jalan.
Wudu dan salat inilah bisa dijadikan sandaran agar jiwa manusia beriman tetap stabil emosinya. Dari jiwa yang stabil ini mendorong memacu kendaraan dengan penuh bahagia dan waspada. Berkendaranya tidak asal-asalan, tapi penuh kesadaran.
Jiwa yang sadar ini dapat dibangun dari jiwa yang damai. Jiwa yang damai itu bisa dibangun dari sumber yang Maha Pemberi kedamaian hidup melalui wudu dan salat.
Oleh karena itu, tidak ada ruginya sebelum berangkat kerja berbagai usaha dihadirkan, termasuk melalui wudu yang bisa mengeluarkan sifat ketenangan dan kedamaian. Semoga bermanfaat.
Trending Now