Konten dari Pengguna

PJJ Jilid 2: Peluang, Tantangan dan Solusi (2)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
2 September 2025 1:03 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
PJJ Jilid 2: Peluang, Tantangan dan Solusi (2)
PJJ jilid 2 menimbulkan persoalan psikologis bagi anak dan orang tua. Mulai dari bingung siapa yang mendampingi sampai kepada menyediakan alternatif lain untuk mendampingi belajar, seperti smart TV.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Idmtimes.com
zoom-in-whitePerbesar
Idmtimes.com
Pada tulisan bagian pertama, penulis sudah menjelaskan budaya baru bagi keluarga yang anak-anaknya sedang melaksanakan pembelajaran PJJ di rumah. Pada tulisan yang kedua ini, penulis insya Allah akan menjelaskan posisi psikologi anak dan keluarga dalam menghadapi PJJ jilid 2, khususnya di kabupaten Tangerang.
Seperti yang sudah kita diketahui bersama kabupaten Tangerang adalah salah satu kota yang yang menjadi incaran masyarakat dari berbagai daerah untuk mencari kerja. Karena, di daerah ini banyak industri dan perkantoran yang menawarkan dunia pekerjaan.
Setelah mendapat pekerjaan, tidak sedikit masyarakat yang datang dari berbagai daerah itu menetap di kabupaten Tangerang. Pada akhirnya, ini berimbas pada penyediaan tempat bernaung berupa kontrakan dan rumah tinggal.
Tidak heran kontrakan, kos-kosan dan perumahan muncul di berbagai pelosok kabupaten Tangerang. Gayung bersambut, kebutuhan rumah menjadi penting, para pegawai yang sudah mendapatkan pekerjaan itu membeli rumah dengan cara kredit ataupun cash, meski sebagian ada yang sewa dan kontrak.
Setelah sekian lama punya rumah, dibawalah anak istri ke rumah baru di Tangerang. Membawa anak dan istri ke Tangerang tidak hanya membawa fisik, namun membawa kebutuhan, termasuk kebutuhan pendidikan.
Kebutuhan pendidikan bagi anak-anak di Tangerang, sudah banyak pilihan. Baik sekolah swasta maupun negeri. Ada sekolah elitis dan sekolah biasa pada umumnya. Sekolah elitis membawa dampak perlakuan orang tua yang demikian banyak dinamikanya, termasuk perlakuan sekolah PJJ yang kini sudah masuk hari ke-2.
PJJ haru kedua, lengkap dengan anak memakai seragam di rumah, meski di sekolah lain ada yang tidak memakai seragam, namun menyisakan persoalan psikologis bagi anak-anak dan keluarga.
Persoalan psikologis bagi anak-anak, sudah barang tentu memberikan dampak dan pengaruh yang tidak sedikit. Anak-anak seusia SD, mesti banyak pendampingan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar berbasis PJJ.
Berbeda dengan anak-anak SMP dan SMA, mereka sudah bisa sedikit mandiri, tergantung pada latar belakang keluarganya. Sementara anak-anak SD, harus lebih telaten keluarganya mendampingi belajar di rumah.
Untuk menjadi pendamping anak-anak belajar, siapa yang sanggup mendampingi belajar anak-anak? Apakah pembantunya ?; Kakek dan neneknya; paman dan bibinya; memanggil guru privatnya atau ayah dan ibunya sendiri yang mendampingi anak belajar?
Sendirian anak SD belajar hampir tidak mungkin, apalagi kelas 1-4. Masih mendingan kelas 5 dan 6, bisa sedikit belajar secara mandiri. Inilah PR bersama bagi keluarga. Ini perlu ekstra kerja keras selaku orang tua untuk memilihkan pendamping belajarnya.
Jika punya anggaran berlebih, masih bisa menghadirkan guru. Tapi, jika tidak punya anggaran terpaksa menggunakan SDM yang ada. SDM yang ada itu adalah orang-orang terdekat di keluarga yang tidak semuanya siap untuk mendampingi anak belajar.
Sukur alhamdulillah keluarga terdekat itu punya kemampuan untuk mendampingi belajar. Jika tidak, bagaimana dengan masa depan anak-anak PJJ itu?
Akhirnya, anak-anak didampingi oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya siap. Anak-anak diuji dan didampingi oleh orang yang belum memahami cara anak belajar. Coba-coba sudah pasti. Coba-coba, dampaknya bisa salah dan bisa benar.
Namanya juga coba-coba, kadang banyak salahnya. Ketika banyak salahnya, akhirnya anak-anak menjadi korban dari coba-coba. Dampak jangka pendek, tidak terlalu kelihatan. Lalu, bagaimana dengan jangka panjangnya?
Dampak jangka pendek: anak menjadi bingung, tidak semangat, tidak fokus, serba salah dan entah apa yang mesti dilakukan. Pelariannya, bisa saja penggantinya kotak ajaib yang lebih menarik yaitu smartphone.
Kalau sudah memegang smartphone, jangankan anak-anak, orang tua pun bisa anteng tidak terdengar keluar kata-kata, namun suara batinnya bergemuruh. Kalau sudah anteng dengan smartphonenya, siap-siaplah menerima dampaknya.
Dampak terburuk sekalipun mesti dipersiapkan. Anak-anak bukan malah belajar, namun ketagihan dengan HP-nya. Tidak sedikit curi-curi waktu ke rumah nenek dan kakeknya lantaran ingin bermain HP.
Alih-alih belajar di rumah dengan istilah PJJ, malah yang ada mengotori memori anak-anak dengan bermain games menarik. Tentu, tidak salah jika diberikan batasan waktu yang benar. Jika tidak ada aturan bermain HP, bisa seharian anak bermain HP.
Akibatnya, anak-anak yang terlalu panjang bermain HP, pas diambil HP-nya bisa kecewa dan marah. Timbul dalam hatinya kecewa dan dendam pada orang tuanya. Di sinilah diperlukan pengetahuan yang arif kepada anaknya saat bermain HP.
Orang tua perlu banyak belajar, agar ikannya dapat dan air tidak keruh, bagaimana caranya? Agar anak-anak tidak marah dan bermain HP tidak memakan banyak waktu, tindakan apa yang mesti diberikan kepada anak-anak?
Salah satunya, orang tua bisa mendesain pelajaran berbasis kecerdasan majemuk. Jika anak senang menonton, itu artinya anak-anak banyak belajar dengan kekuatan indra penglihatan dan pendengarannya.
Anak-anak bisa diberikan tontonan melalui smart TV, tentu disesuaikan dengan tema yang ada di dalam buku paket. Sukur alhamdulillah bisa kerja sama dengan gurunya di sekolah. Tapi, jika tidak bisa orang tua harus punya kreativitas mendampingi anak-anak belajar, seperti belajar berbasis film.
Setelah anak-anak belajar melalui film, kemudian anak-anak diminta untuk mengisi kolom-kolom evaluasi yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya. Namun, bagaimana orang tua yang belum punya kreativitas karena keterbatasan?
Ini bisa membuat kelompok belajar di lingkungan terdekat sesuai jenjang dan tentunya sesuai dengan level kelasnya. Dari sini kita berharap bahwa soal pendampingan belajar bisa diselesaikan berbasis kelompok belajar di dalam masyarakat.
Tentu hal ini, tidak bisa lepas peran dari pemangku lingkungan. Baik dari pihak RT, RW, tokoh masyarakat, dan kelurahan sebagai pihak terdekat untuk memberikan sumbangan moril maupun materil terhadap anak-anak yang sedang menjalani PJJ jilid 2 ini. Semoga bermanfaat.
Trending Now