Konten dari Pengguna

Pro Kontra Sebagai Bahan Ajar

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
17 November 2025 9:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pro Kontra Sebagai Bahan Ajar
Pro kontra berfungsi untuk menyalakan sikap kritis masyarakat.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Stock. Adobe.com
zoom-in-whitePerbesar
Stock. Adobe.com
Satu pekan yang lalu masyarakat Indonesia dikagetkan dengan adanya keputusan bahwa mantan Presiden kedua RI, Soeharto, mendapatkan gelar pahlawan. Menurut Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, usulan Soeharto yang dicalonkan menjadi pahlawan sudah melalui proses pengkajian mendalam oleh para ahli.
Mulai dari tingkat kota, provinsi sampai tingkat pusat. Semua sudah melalui kajian serius. Meski demikian, keputusan Presiden Prabowo Subianto menanda tangan Pak Harto sebagai pahlawan, ternyata menimbulkan reaksi dari berbagai lapisan masyarakat.
Reaksi pro kontra itu cukup wajar, mengingat Pak Harto saat menjabat sebagai presiden banyak jasa-jasanya dan juga banyak kejadian pilu di bawah kekuasaannya. Terlepas pro dan kontra, bagi pendidikan ini adalah ruang belajar mengharga perbedaan pendapat.
Ada pihak yang menyoroti dari segi jasa-jasanya, keputusan pikiran pun mengaminkan setuju. Ada pihak yang menyoroti dari kejadian-kejadian kelam di tangannya, pikiran pun memutuskan menolaknya.
Kehidupan dalam dunia sosial itu, penuh dengan pro kontra. Tidak ada ceritanya, tokoh sehebat apa pun hampir selalu menyisakan ruang pro kontra. Ia bukan malaikat dan juga bukan setan.
Kebijakan sehebat apa pun, tidak bisa memuaskan semua pihak. Di dalamnya selalu memunculkan pihak-pihak yang tidak puas. Maka satu-satu cara adalah menerima bahwa Pak Harto sudah diputuskan menjadi pahlawan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
Toh itu kebijakan politik, kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah dengan berbagai pertimbangan. Masalah ada pihak yang tidak setuju, nanti akan terjawab sendiri oleh sejarah di kemudian hari.
Masalah anak didik dicekoki pahlawan yang tidak berintegritas, itu juga nanti akan terjawab dengan sendirinya di kemudian hari. Yang jelas, perbedaan itu adalah upaya untuk membelajarkan masyarakat dari kedewasaan akademik.
Tidak akan ada ujungnya terus berdebat antara yang pro dan kontra. Yang bisa diusahakan adalah terus mencari ruang-ruang untuk belajar dari berbagai pro kontra itu. Selain itu, bukankah pro kontra itu menjadikan pikiran ini lebih kritis, tidak beku?
Pikiran kritis dalam meniti ruang belajar di masyarakat penting dikedepankan untuk mencari celah-celah yang bisa ditiru dan juga mencari celah-celah yang tidak patut dijadikan contoh. Kritis perlu, namun kekeritisan jangan sampai memadamkan celah-celah positif.
Celah negatif perlu diterima, namun tidak usah dibesar-besarkan. Serahkan saja kepada pemerintah, biarkan pihak berwajib yang akan memprosesnya. Jika belum tuntas karena terkendala dengan berbagai kondisi, cukup ampuni saja. Luka sejarah memang ada, tapi jangan sampai luka sejarah itu tidak bisa mengukir masa depan bangsa.
Mengampuni dan memaafkan memang gampang-gampang susah. Susah bagi pihak yang tidak lapang. Dan gampang bagi pihak yang lapang. Keduanya butuh proses untuk mengambil sikap. Proses itu sudah barang tentu terdapat pergolakan pemikiran dalam benak-benak berbagai pihak.
Dalam kajian Filsafat Ilmu, pergolakan pemikiran kedua kutub antara yang pro dan kontra adalah bagian dari menghidupkan epistimologi keilmuan. Jika tidak ada pergolakan pemikiran, niscaya perkembangan keilmuan itu sepi dan tidak ada daya tariknya.
Bukankah pergolakan pemikiran itu hidup menjadi dinamis?, tidak kaku dan hanya berdiam di tempat saja. Pergolakan pemikiran secara ekonomi memberi ruang kepada dunia pemberitaan untuk terus memproduksi berita-berita yang menampilkan gemuruh pro kontra.
Dengan pergolakan juga pertanda roh pemikiran masyarakat masih hidup, tidak mati. Berbeda ketika ada pergolakan, pemikiran masyarakat adem-adem saja. Tentu hal ini patut dipertanyakan. Apakah masyarakat benar-benar masih waras atau tidak? Atau diam itu sebagai pertanda perlawanan yang masih menabung kalimat? Atau apa?
Di sanalah ruang belajar untuk saling menghargai harus terus digelorakan. Perbedaan pendapat itu biasa. Yang perlu dibiasakan adalah menjadikan pro kontra sebagai fakta untuk mengedepankan aspek pendidikan multikultural.
Berbeda pendapat tidak mengapa, namun di tengah berbeda itu masih bisa minum kopi bareng. Semua pro kontra harus diselesaikan dengan tawa dan tangis. Tawa untuk memberi energi kepada jiwa agar bangun dari tangisnya. Sementara tangis untuk rambu-rambu pergaulan sosial yang tidak melupakan empati.
Trending Now