Konten dari Pengguna

Proses Kerja Berbasis Welas Asih

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
8 Agustus 2025 10:44 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Proses Kerja Berbasis Welas Asih
Kerja Welas asih prosesnya dinikmati. Mulai dari malam hari persiapan, pagi senyum merekah, berangkat menyapa alam manusia, kerja dengan kecerdasan emosional dan pulang dengan spritualisme tinggi.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
pinhome.id
zoom-in-whitePerbesar
pinhome.id
Masyarakat perkotaan terkenal dengan kesibukannya bekerja di kantor. Kerja di kota, tidak sama ketika kerja di desa. Kerja di kota membutuhkan berbagai perangkat, seperti; kendaraan, bensin, uang, rumah, teman kerja dan berbagai perangkat lainnya yang mendukung.
Kerja di kota tidak asal kerja. Tapi kerja di kota membutuhkan sikap telaten, ulet, sabar, dan istiqamah dalam menjalani pekerjaan itu. Kerja bentuk ikhtiar manusia untuk memenuhi hajat hidupnya.
Dalam memenuhi hajat hidupnya, manusia bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak asal-asalan kerja, namun dengan sepenuh hati. Kerja sepenuh hati, memang membutuhkan waktu, tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Kerja sepenuh hati membutuhkan penghayatan panjang, tidak setahun dua tahun jadi. Apalagi sebulan dua bulan. Kerja sepenuh hati butuh melibatkan mental emosional dan mental spiritual. Mental emosional tidak serta merta muncul, namun butuh pelatihan yang intens.
Begitu juga mental spiritual, sama-sama membutuhkan pelatihan dan penghayatan yang panjang. Mental emosional dan spiritual akan muncul manakala segala proses kerja di maknai sebagai titah suci untuk membangun kasih sayang kepada anggota keluarga yang murni karena-Nya.
Kerja yang demikian lambat laun akan dihayati bahwa kerja bukan sekedar untuk mengisi kantong-kantong perut, tapi mengisi kekuatan fisik untuk berbakti kepada-Nya. Kerja yang dipenuhi dengan itu bisa berubah menjadi kerja sepenuh hati.
Kerja sepenuh hati prosesnya dinikmati. Sebelum pagi tiba, malamnya sudah mempersiapkan agenda besok. Segala kebutuhan untuk kelancaran kerja disiapkan. Tidak hanya itu, proses menyiapkannya pun dimaknai sebagai tugas mulia untuk mengawal hari esok yang cerah.
Ketika pagi menyapa, semua persiapan sudah aman dan terkendali. Sebelum sarapan pagi, ia membersihkan badan terlebih dahulu. Membersihkan badannya tidak terburu-buru, tapi dihayati dan dinikmat bahwa membersihkan badan dalam rangka menjaga kesehatan fisik.
Karena kesehatan fisik tidak sekedar ritual tanpa makna, namun dibalik itu perintah agama yang buahnya ada pahala yang bisa diraih kelak. Tiba saatnya mengenakan pakaian kerja yang diiringi doa.
Sambil bergumam dalam hati, mengenakan pakaian tidak hanya mengenakan, tapi di situ nilai menutup aurat. Bukan pada bagus atau tidak bagusnya pakaian yang dikenakan, namun terletak pada menutup aurat atau tidak, di samping indah dan nyaman dikenakan oleh pemakainya.
Pendamping hidup tersenyum, dimaknai sebagai hadiah pahala baginya. Sarapan tiba di meja makan yang disajikan dengan welas kasih. Kepala rumah tangga mulai menyantap sajian sarapannya. Ia mengunyah sambil sesekali melihat buah hati menyentuh sarapan.
Semua proses di waktu pagi dihidangkan ke dalam benak jiwa dengan penuh welas asih. Buah hati menjatuhkan piring pun, ayah dan ibu hanya tersenyum, bukan marah.
Ayah dan Ibu hanya bilang, β€œhati-hati, Nak. Kamu tidak apa-apa kan?” Cukup itu saja yang dikeluarkan dari mulut ayah dan ibu.
Biarkan piring pecah yang harganya tidak seberapa itu, asalkan hatinya tidak pecah berkeping-keping.
Selesai sarapan bersama, ayah dan ibu mengambil tas gendong yang isinya seperangkat kerja. Dilihatnya, kendaraan sudah disiapkan dengan baik, lalu pamit kepada anggota keluarga dengan salam, cium dan kecup mesra kepada anggota keluarga.
Saat kendaraan melaju dengan pelan, sesekali tengok kanan kiri ada tetangga sambil melempar senyum dan pamit kepadanya sebagai bentuk welas asih kepada saudara terdekat yang bernama tetangga.
Tidak terasa kendaraan melaju dengan penuh kepastian, melewati gang dan belokan di sekitar rumah. Gang sempit di sekitar rumah berlalu, tiba di jalan raya yang sudah banyak lalu lalang kendaraan dengan berjejal sesak.
Melaju dengan tenang, dilihat spion kiri dan kanan ada kendaraan yang meminta jalan, dengan welas asih memberi tanpa berharap. Kendaraan dibalik spion itu melewati kita sambil melempar klakson sebagai tanda terima kasih.
Tidak terasa perjalanan yang berjejal sesak itu dilalui dengan jiwa yang lapang, tidak garasa gerusu. Tapi proses di perjalanannya dinikmati sebagai tanda syukur punya kendaraan sendiri, tanpa menumpang kendaraan orang lain.
Tibalah di kantor dengan mencari parkir yang nyaman untuk kendaraannya. Kendaraan tidak diparkir sembarang tempat. Tapi mencari tempat parkir yang aman dan nyaman agar kendaraan tidak cepat rusak.
Parkir pun tidak terlalu dekat dengan kantor. Bukan tidak sayang kepada kaki, justru dibalik itu ada pendidikan kepada kaki agar selalu bergerak untuk mengolah fisik agar tetap sehat. Keluar kendaraan sambil berucap alhamdulillah sudah sampai di tempat kerja.
Kaki melangkah, mengetuk pintu sambil mengucapkan salam dan bertanya kabar kepada rekan kerja yang di kantor. Tidak memilih apakah itu dinas kebersihan kantor, staf, rekan, atau pimpinan, salam tetap diberikan kepada orang yang ada di kantor.
Tiba di ruang kerja menyimpan tas di tempat yang bersih dan aman. Kerja di mulai dengan melapor terlebih kepada Tuhannya melalui duha dua sampai empat rakaat. Di situ ia mengajukan proposal sucinya kepada Sang Pemberi Rezeki.
Selesai lapor, beranjak ke ruangan untuk mulai kerja. Mulai kerja dari pekerjaan yang ringan sampai belum ringan. Sebelum mulai kerja, bibir dibasahi terlebih dahulu dengan ucapan basmallah.
Setelah dua jam kerja, sesekali keluar ruangan untuk menyapa rekan kerja. Atau menyapa tubuh yang sudah meminta haknya untuk mencari udara hening.
Tengok dinding, jam sudah menunjukkan hampir mendekati salat dzuhur. Laptop ditutup dan pekerjaan ditinggalkan, saatnya mempersiapkan kewajiban yang akan melahirkan kesuksesan dan kebahagian.
Setelah itu, memberikan hak tubuh untuk mengisi tenaga melalui makanan sehat dan tidak memberatkan kerja lambung. Sebelum menyantap makanan, bibir sudah mengucapkan doa makan. Selesai makan, bayar ke kasir sambil melempar senyum. Proses pembayarannya pun diselimuti welas asih.
Jika ada yang minta duluan bayar, sikap hati memberi untuk mendahulukan agar orang lain bisa beranjak lebih cepat kembali ke tempat kerjanya. Inilah proses welas asih yang menimbulkan berkah. Kembali kerja, menuntaskan pekerjaan yang terjeda oleh kewajiban dan hak.
Agar tetap konsen dan fokus, kerja sesekali diiringi oleh instrument lembut dan secangkir kopi, teh atau snanck ringan untuk memanusiakan fisik yang sedang menuntaskan pekerjaan. Tibalah waktu untuk mengakhiri pekerjaan, bibir tidak lupa membasahi dengan alhamdulillah.
Setelah itu jika tidak ada janji di luar dan tidak ada pekerjaan lain, kendaraan melaju ke rumah untuk menengok kembali kewajiban yang ada di rumah. Menyapa orang rumah dengan senyum dan tatapan welas asih. Sebelum shalat maghrib tiba, anggota keluarga bergegas membersihkan badan untuk menyambut kewajiban.
Selesai melaksanakan kewajiban, anggota keluarga membuka kitab suci al-Qur’an untuk memenuhi kebutuhan jiwa yang sedang haus. Lapar jiwa terpenuhi, baru kemudian lapar fisik segera dipenuhi.
Tidak lama kemudian waktu isya berkumandang, bergegas kembali menunaikan kewajiban sambil mengajak anak untuk shalat. Tangan anak tidak boleh dibiarkan sunyi dari sentuhan ayahnya. Sambil jalan ke masjid, mulut melempar tanya kepada anak mengenai aktivitas tadi siang.
Sampai di masjid anak didudukkan di sebelah kita, shalat isya pun ditunaikan dengan rasa tenang dan tidak terburu-buru. Bergerak tubuh selesai, fisik beranjak kembali ke rumah untuk melanjutkan episode hidup selanjutnya.
Shalat isya berlalu, tiba bergiliran waktu untuk saling menyapa anggota keluarga dengan ciri khasnya masing-masing. Tidak lupa di situ ada waktu untuk mengevaluasi pekerjaan yang sudah dilakukan siang tadi. Hasil kerja semua diserahkan kepada Sang Kuasa, yang jelas manusia sudah berusaha dengan baik.
Dengan segala pekerjaan di siang hari yang penuh dengan tantangan dan ujian, pada akhirnya akan ditutup dengan waktu istirahat untuk mengembalikan fisik yang sudah hilang keseimbangannya. Semoga bermanfaat.
Trending Now