Konten dari Pengguna

Relevansi Rudal dengan Shalat

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
23 Juni 2025 10:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Relevansi Rudal dengan Shalat
Secara kontekstual, terdapat hubungan erat antara rudal dengan shalat. Hubungan tersebut, khusunya terdapat pada takbir yang diucapkan oleh orang yang shalat.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dunia dikagetkan dengan serangan Israel atas Iran. Negeri para Mullah itu mendapat serangan Israel pada 13 Juni 2025. Tentu, sebagai negara yang berdaulat dan negara terhormat, Iran mempunyai kewajiban untuk mempertahankan diri dari segala serangan musuh.
Berbeda dengan jaman dulu, senjata api masih menjadi fokus sebagai alat untuk berperang. Namun, kini berperang banyak menggunakan rudal, termasuk serangan balasan dari Iran ke Israel.
Menurut sumber berita nasional, rudal yang sudah diluncurkan untuk menyerang balik Israel sudah lebih dari 400 rudal.
tribunnews.com
Bahkan, terdapat kisaran 200 rudal yang dikirimkan dalam jumlah rentetan, yang tentunya dapat berakibat hancurnya pihak yang diserang.
Menurut laporan Detik. com serangan Israel terhadap Iran sudah menghilangkan nyawa lebih dari 600 orang dan melukai lebih dari 1300 orang.
Sebaliknya, rudal yang telah diluncurkan oleh Iran kepada Israel telah menewaskan sekitar 25 orang dan ratusan orang lainnya terluka.
Rudal, memang inti senjata dalam peperangan. Rudal fisik terlihat hancurnya target yang meluluh lantahkan objek. Sementara rudal dalam bentuk lain, misalnya; kata-kata sarkas menyakitkan, umpatan tidak manusiawi, membiarkan orang lain menderita akibat tidak peduli, menganggap remeh orang lain, memfitnah, menelikung dalam lipatan persabahatan dan lain lain, itu adalah rudal dalam arus kehidupan yang nyata.
Di sisi lain, ada rudal yang mampu memecah kebekuan hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
Rudal dan Shalat
Jika rudal menghancurkan objek fisik berupa berbagai macam bangunan, sementara rudal dalam shalat menghancurkan sekat-sekat hamba kepada Tuhannya.
Sekat itu berupa dosa-dosa. Sekat hamba kepada Tuhannya ada yang seperti benteng tebal, dinding rumah, kaca tembus pandang dan ada yang seperti kertas tipis.
Untuk membuka sekat tersebut, sudah dapat dipastikan membutuhkan alat yang kuat untuk mendobrak dan menjebolnya. Untuk menjebol sekat hamba dengan Tuhan yang berupa benteng, membutuhkan alat yang kuat dan tajam.
Begitu juga sekat hamba dengan Tuhan yang berupa dinding rumah, kaca tembus pandang, dan kertas tipis juga memerlukan alat untuk menjebolnya.
freepik.es
Jika analogi di atas kita bawa ke dalam bentuk perintah agama berupa shalat, maka takbir menurut Menteri Agama, Nasaruddin Umar, adalah bom untuk menjebol dinding yang berupa benteng tersebut. Takbir di dalam shalat bukan sembarang takbir.
Tetapi takbir dalam shalat adalah daya dorong awal sang hamba agar bisa naik ke atas setelah tentu setelah sekat tebal berupa dosa itu hilang dengan aktivitas shalat.
Takbir yang diucapkan oleh kita setiap kali shalat juga bukan sekadar ritual hampa makna, tetapi syarat dengan banyak makna. Salah satunya adalah sebagai faktor pendorong yang mempunyai arus besar untuk menaikkan seorang hamba ke atas. Itu pun jika berhasil menjebol sekat sekat hamba dengan Tuhannya.
Takbir yang kita ucapkan menurut ahli Matimateka Islam, Fahmi Basya, setidaknya sehari semalam terdapat 94 kali takbir. Itu baru takbir shalat wajib.
Belum lagi takbir dalam shalat yang mengiringi shalat wajib. Jika ditotal takbir dalam shalat wajib dan shalat sunnah terdapat 171 kali takbir.
Takbir di atas, jika direnungkan ke dalam usia kita yang sampai hari ini sudah puluhan tahun hidup di muka bumi. Maka kita yang sudah berusia 20 tahun dipotong masa baligh 10 tahun, itu artinya kita sudah melafalkan takbir 62.415 kali takbir. Kita yang sampai hari ini sudah mencapai usia 30 tahun, berarti paling tidak sudah melafalkan 124.830 kali.
Kita yang sampai hari ini sudah berusia 40 tahun, berarti sudah mengucapkan 186.435 kali takbir. Kita yang sampai hari ini sudah 50 tahun, berarti sudah mengucapkan 248.580 kali takbir.
Kita yang sampai hari ini sudah 60 tahun, berarti sudah mengucapkan 310.725 kali takbir. Dan kita yang sampai hari ini sudah mencapai usia 70 tahun, berarti sudah mengucapkan 372.870 kali takbir.
Dari ratusan ribu kali takbir itu, takbir manakah yang mampu menggetarkan dan mendobrak sekat kita dengan Tuhan? Tentu jawabannya kembali lagi kepada kita semua. Karena shalat yang baik adalah shalat yang mampu mencegah perbuatan keji dan munkar.
Sebagai contoh, Abu Bakar As-Shiddiq yang menjadi kalifah selama dua tahun (632-634 M), saat mengucapkan takbir suara beliau serak dan jiwanya menggigil seperti orang yang sedang ketakutan.
Ketika ditanya oleh para sahabat, “aku khawatir mulut ini mengucapkan takbir; Allah Maha Besar, justru tingkah laku ku merendahkan dan mengecilkan orang lain.”
Jadi takbir yang manakah, yang dapat menjadi rudal untuk mendobrak dinding penghalang kita dengan Allah? semua kembali kepada kita.
Semoga kita dapat memperbaiki wudlu dan shalat kita, agar shalat berdaya guna dan berfungsi untuk kehidupan kita. semoga bermanfaat. Aamiin.
Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Trending Now