Konten dari Pengguna

Ruang Kerja Berbasis Sembilan Kecerdasan

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
7 Agustus 2025 12:34 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ruang Kerja Berbasis Sembilan Kecerdasan
Karyawan memerlukan ruangan kerja yang sesuai dengan sembilan kecerdasan menurut Howard Gardner.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
interiorkantor.id
zoom-in-whitePerbesar
interiorkantor.id
Setiap orang yang kerja punya cara dan gayanya masing-masing. Ada yang senang sambil mendegar music, ada yang juga sambil menyeruput kopi.
Di dalam kehidupan kantor, ada yang senang kerja dengan ruang terbuka dan ada yang juga senang dengan sekat-sekat bilik.
Ruang kerja terbuka dengan menampung banyak orang, memang asik bisa sambil ngobrol dan saling bertegur sapa di tengah keseriusan kerja menatap layar.
Kerja dengan menatap layar atau bentuk kerja lainnya memerlukan tempat khusus. Tempat khusus itu bisa tertutup dengan sekat atau terbuka dengan banyak rekan kerja.
Model ini, lagi-lagi berpulang kepada individunya masing-masing. Sebagai pimpinan, baiknya memberikan keleluasaan kepada para karyawan dengan model kerja di ruang tertutup atau di ruang terbuka.
Dalam kontek lain, setiap karyawan mempunyai gaya kerja masing-masing. Bagi karyawan yang kerjanya dengan tipikal visual-auditori, sebaiknya ada di ruang kerja tertutup dengan sekat privasi.
Jika tipe kerja visual-auditori bekerja di ruang terbuka, maka ia cepat terganggu dengan suara-suara bising. Namun, bagi karyawan yang berjiwa terbuka seperti biasanya ia menginginkan ruang yang bisa bertatap muka secara kolosal.
Dalam variasi kerja yang lain, jika mengacu kepada kecerdasan manusia menurut Howard Gardner paling tidak ada Sembilan kecerdasan. Jika kecerdasan ini kita turunkan ke dalam model dan gaya kerja, bisa jadi membutuhkan banyak ruangan yang beragam.
Mengingat dari kesembilan kecerdasan itu membutuhkan ruangan yang berbeda-beda, maka dibutuhkan ragam dan variasi ruangan.
Jika karyawan dengan kecerdasan linguistic yang bertumpu pada kemampuan untuk menggunakan lisan dan tulisan secara efektif, itu memerlukan rekan kerja yang dibatasi jumlahnya.
Misalnya, rekan kerja bisa berjumlah dua sampai tiga orang untuk memudahkan atau memberi motivasi dan inspirasi lewat rekan kerjanya satu ruangan.
Biar bagamana pun kerja itu membutuhkan teman untuk saling bertukar motivasi dan inspirasi. Belum lagi model dan tipe karyawan yang punya kecerdasan natural.
Kecerdasan ini memerlukan ruang kerja lebih natural. Di dalam ruang kerja ada flora, fauna dan fenomena alam lainnya. Dengan menghadirkan unsur alam ke dalam ruang kerja bagi yang bertipe natural ia akan semangat dan bergairah dalam kerjanya.
Dari kasus di atas, yang diperlukan oleh pimpinan kantor adalah bagaimana ia bisa memetakan situasi dan kondisi kejiwaan semua karyawan agar bekerja dengan efektif.
Langkah awal, saat karyawan sudah diterima di perusahaan atau lembaga lain, baiknya dipetakan psikologinya. Tentu ini harus kerja sama dengan para psikolog untuk memetakan keadaan psikologi semua karyawan.
Jika sudah dipetakan semua karyawan, selanjutnya bisa langsung diturunkan ke dalam kebijakan model ruangan. Bisa jadi nanti ada ruangan yang berisi dua sampai tiga orang, ada ruangan berbasis otak kiri, ada ruang yang penuh dengan gambar, ada ruang yang banyak tipe music, ada ruang tanpa kehidupan karyaawan, ada ruang yang hanya sendiri, ada ruang yang menampung ruang banyak karyawan, ada yang ruang bisa seperti alam, dan ruang yang bisa memberikan dorongan untuk bertanya tentang eksistensi manusia dan alam.
Maka, dalam aplikasi di lapangan tidak semua ruang sama rata, namun ada variasi ruang dan jumlah penghuni ruang. Bisa jadi ada ruang yang sering ditinggalkan oleh penghuninya karena lebih senang kerja di ruang-ruang yang tidak hanya itu-itu saja.
Tapi sekali lagi, itu bergantung kepada kebijakan pimpinan di sebuah kantor. Jika pimpinannya tidak kritis terhadap para karyawan, maka ruang dengan banyak ragamnya itu tidak akan terjadi dan hadir di tengah kebutuhan karyawan secara psikologis. Semoga bermanfaat.
Trending Now