Konten dari Pengguna
Sabun Sebagai Pendidikan Iman
6 November 2025 14:44 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sabun Sebagai Pendidikan Iman
Sabun sebagai media untuk fisik dan dalam perkembangannya membantu menyiapkan alat yang bersih untuk menunaikan perintah kepada orang-orang berimana, seperti salat.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak kenal dengan sabun? Semua orang hampir kenal dengan sabun. Dalam kehidupan sehari-hari sabun banyak digunakan untuk membersihkan pakaian, tangan, piring dan lain sebagainya. Sabun, di tengah masyarakat hadir beragam merek. Meski banyak merek dan jenisnya, yang jelas sabun itu karakternya sebagai alat pembersih.
Baju kotor dicuci menggunakan sabun. Cuci tangan dibersihkan dengan sabun. Dan mandi pun memakai sabun. Persis, sabun masuk ke segala kebutuhan manusia. Ibaratnya, di mana ada manusia, di sanalah ada sabun. Sabun sebagai sahabat kehidupan dalam lingkup keseharian.
Sabun hadir ke tangan manusia sebagai mitra untuk memudahkan dan membantu kebersihan pakaian, tangan, badan dan lain sebagai. Sebagai sabun, ia netral bisa masuk ke mana pun. Mau beragama Islam atau non Islam. Mau orang baik atau tidak baik. Ia hadir tidak pandang bulu.
Sabun dalam kacamata agama punya sikap mulia, untuk mendidik manusia menjadi pribadi yang bersih. Bersihnya tidak hanya untuk penampilan diri, namun untuk lingkungan manusia. Sampai sini semua orang diajak untuk menjadi pribadi yang suka akan kebersihan.
Suka tidak suka. Mengakui atau tidak mengakui, dengan sendiri manusia dipaksa untuk punya jiwa bersih. Mau berangkat kerja, mandi menggunakan sabun. Setelah makan memakai piring, dicucinya memakai sabun. Melihat baju menumpuk kotor, dicuci memakai sabun.
Sabun memaksa manusia dalam setiap saat untuk punya sikap bersih. Bersih tidak saja disukai banyak orang, agama pun menyukai kebersihan. Agama Islam memberikan arah bahwa kebersihan itu sebagian dari iman.
Salat lima waktu dalam sehari semalam, tidak lepas dari peran sabun. Sabun memberi semangat untuk hidup damai dan tenteram, termasuk tenteram dan nyaman ketika melaksanakan ibadah salat.
Sedangkan salat adalah sebuah perintah yang ditujukan kepada orang beriman. Orang beriman setelah mengucapkan syadahat wajib mendirikan salat. Dan mendirikan salat, setiap orang diwajibkan untuk berwudu. Sementara wudu fungsinya tidak lepas untuk menjaga kebersihan. Baik bersih fisiknya maupun bersih batinnya.
Dalam kehidupan sosial, ada yang orang yang berperan untuk membersihkan lingkungan. Office Boy di kantor, tugasnya setiap hari membersihkan lantai dan lingkungan kantor lainnya. Ketika Office Boy pulang kerja, sampai di rumah tidak lepas dari menjaga kebersihan.
Bahkan bagi sebagian orang, ketika sampai rumah tidak betah duduk berlama-lama ketika lantainya kotor. Melihat kamar tidak betah dan bisa pusing karena berantakan dan kotor. Masuk ke dapur melihat piring kotor dan berantakan, kepalanya langsung pusing.
Keadaan demikian memaksa seseorang untuk membersihkan benda dan lingkungan rumah. Secara tidak sadar, di dalamnya ada penggunaan sabun. Artinya, dalam kehidupan sosial menjadi orang yang banyak dicari.
Entah itu dicari karena ringan tangan atau pun karena kehangatan sikapnya. Tidak adanya dicari-cari. Ketika hadirnya dielu-elukan. Bahkan, kebersamaannya yang berjam-jam dan berhari-hari terasa begitu singkat. Semua orang rasanya ingin selalu ada di sisinya. Tidak mau ditinggal sehari pun, apalagi ditinggal selamanya.
Pembelajaran sabun dan hikmah setelah penggunaannya, benar-benar memberi kesan dan pesan mendalam. Pesan dan kesan itu memaksa setiap orang untuk punya sikap bersih. Baik dirinya yang bersih atau lingkungannya yang bersih. Salah satu hikmahnya akan terhindar dari penyakit.
Dengan sikap bersih juga, pada sebagian profesi mensyaratkan untuk bersih. Meskipun tidak menjadi syarat bersih, namun paling tidak baju dan tampilannya bersih. Bahkan dalam ibadah salat, baju dan tempatnya harus bersih. Jika tidak bersih, maka salatnya tidak akan syah.
Profesi lain, seperti loundry, pelanggan akan kembali lagi mencuci pakaiannya jika hasilnya bersih dan rapi. Jangan coba-coba menjadi tukang loundry yang tidak komitmen dengan kebersihannya. Baju yang diloundry harus benar-benar bersih. Jika tidak bersih, pelanggan bisa saja kabur dan mencari tempat lain yang betul-betul menjaga komitmen bersih.
Ketika membeli air isi ulang, semua orang akan respek kepada penjual air isi ulang. Apalagi pelayanannya bersih dari sikap mengecewakan, pasti pelanggan akan betah dan setia menunggu meskipun belum waktunya buka.
Pelanggan akan senang kepada penjual air isi ulang ketika tempat jualannya terjaga dari kotoran. Terlihat sedikit saja kotor tempat bilas dan isi galonnya, masyarakat akan mempertanyakan. Terlebih membeli air untuk konsumsi, bukan untuk mandi.
Tempat isi ulang air harus benar-benar bersih. Begitu juga airnya, harus betul-betul dijamin bersih dan tidak bau. Agar masyarakat percaya, penjual tidak boleh sembarangan menggunakan air isi ulang selain untuk konsumsi.
Di lapangan ada kasus penjual isi air ulang menggunakan airnya untuk mencuci tangan dan kaki. Jika seperti itu, pembeli akan bertanya-tanya. Jangan-jangan air isi ulangnya tidak memenuhi standar air untuk diminum, buktinya air isi ulang dipakai untuk mencuci tangan dan kaki. Apalagi untuk membersihkan lantai dan motor, ini akan lebih tidak percaya lagi.
Kondisi demikian akan melunturkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penjual air isi ulang. Akibat yang tidak diinginkan, pelanggan akan kabur dan akan menyebarluaskan kepada masyarakat lain jika di tempat air isi ulang sana kebersihannya sangat mengkhawatirkan. Semoga bermanfaat.

