Konten dari Pengguna

Sampah di Jalan dan Sampah di Pikiran

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
14 Januari 2026 10:19 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sampah di Jalan dan Sampah di Pikiran
Sampak plastik di jalan, menimbulkan bau dan tidak sehat secara fisik. Sedangkan sampah pikiran menimbulkan kegelapan dalam menata kehidupan di dunia.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suara.com
zoom-in-whitePerbesar
Suara.com
Sejak Desember 2025, Kota Tangerang Selatan menghadapi masalah sampah. Sampah tersebut dihasilkan dari sisa pembuangan rumah tangga, pasar, industri dan lain sebagainya. Hingga kini, 14/1/2026, meski suda ditangani secara intens oleh pihak Pemkot, keberadaan sampah masih terlihat di berbagai sudut kota.
Di jalan, trotoar, pinggir pasar, di bawah kolong jembatan dan lain sebagainya masih terlihat menggunung dan menimbulkan bau tidak sedap bagi masyarakat sekitar. Sampah itu memang mengotori keindahan tata kota, memberi oksigen yang tidak sehat, dan pemandangan pikiran yang bisa menutup ruang inspirasi.
Kondisi demikian, membuat banyak pihak menyesalkan keberadaan sampah tersebut. Kritik tajam dari sana-sini berdatangan. Baik dari para tokoh masyarakat, unsur mahasiswa maupun dari kalangan pemerintah lokal sendiri.
Keberadaan sampah telah berhasil mengundang banyak pihak untuk mengkritisi, namun lain hal dengan keberadaan sampah pikiran. Sampah pikiran yang berbentuk kata-kata, lisan, sikap dan produk manusia hampir tidak banyak yang memperhatikan sampah pikiran tersebut.
Mungkin karena pasarnya tidak menjanjikan dan cenderung dianggap tidak punya prospek ekonomi, politik, budaya dan value yang mampu memberi modal sosial, sehingga tidak banyak yang melirik. Bahkan, cenderung acuh dan tidak dianggap bagian dari program yang harus ditangani serius. Meskipun sudah lama muncul UU IT, namun keberadaannya belum banyak menyentuh akar rumput.
Kondisi ini, pada gilirannya menjadi PR besar bagi dunia pendidikan. Baik pendidikan formal, non formal maupun informal. Bagi pendidikan formal, sampah pikiran yang berupa tulisan misalnya, setiap hari kebanjiran sampah pikiran. Sesekali kita dalami dan cermati berbagai informasi yang masuk ke dalam group WA.
Tidak sedikit informasi yang masuk itu adalah informasi yang tidak bergizi untuk perkembangan pemikiran masyarakat. Bagaimana akan berkembang pemikiran masyarakat, informasi palsu berseliweran dalam group WA. Belum lagi telpon tidak jelas, penipuan online, proposal fiktif, pencurian hak cipta, pencemaran nama baik, saling hujat dan fitnah dan berbagai atraksi sampah pikiran lainnya dalam wujud skenario buruk menghancurkan lawan.
Sungguh, ini kerja berat untuk dunia pendidikan sekarang. Dunia pendidikan harus bahu membahu, tidak boleh memperhatikan dirinya untuk berlibur meskipun anak didiknya liburan sekolah. Dunia pendidikan dihadapkan pada situasi yang terus berubah, sementara pendidik sebagai garda terdepan masih sibuk mengurusi administrasi pendidikan.
Tidak salah memang, namun sejatinya pendidik bukan robot yang bisa menangani berbagai pekerjaan pendidik. Belum beres masalah administrasi, masalah anak didik mengalami disorientasi. Kata-kata dan jejak digitalnya banyak memadati media sosial. Sementara perpustakaan sepi pengunjung, toko buku jarang yang beli dan rak-rak buku yang ada di sekolah dan kampus masih sebatas pelengkap.
Kondisi demikian, mengharuskan kerja bersama, tidak hanya terpusat sektor pendidikan saja. Namun, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga dan masyarakat harus saling bersinergi untuk mengatasi masalah sampah pikiran.
Pemerintah sudah mulai dengan UU IT. Namun, UU IT itu harus dikawal oleh berbagai elemen. Meski ada pihak di luar pemerintah yang bisa melakukan patroli sampah pikiran di berbagai media sosial, perlu juga terus dikembangkan secara luas. Sementara di lembaga pendidikan, sekolah maupun perguruan tinggi, fokus memberi pencerahan pikiran.
Keluarga pun mesti punya rasa tanggung jawab penuh, tidak hanya fokus urusan mencari rezeki, namun berbagai waktu juga dengan anggota keluarganya. Anggota keluarga perlu dikendalikan waktunya, sikap dan produk dari aktivitasnya.
Masyarakat; yang di dalamnya ada tokoh agama, artis, pelaku ekonomi, pelaku politik dan kekuatan lain tidak boleh sembarangan menampilkan buah pikiran yang merusak isi kepala, namun harus disaring terlebih dahulu agar layak dikonsumsi oleh kalangan masyarakat umum. Semoga bermanfaat.
Trending Now