Konten dari Pengguna

Sandal Sebagai Ruang Belajar

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
21 Oktober 2025 9:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sandal Sebagai Ruang Belajar
Sandal sebagai ruang belajar dalam kehidupan sehari-hari, seperti sikap sederhana, integrias yang baik dan terbuka kepada siapa pun.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Shopee.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Shopee.co.id
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan sandal di kalangan masyarakat begitu amat berharga. Bayangkan, tanpa sandal sebagai alas kaki, bagaimana kita harus menjaga kebersihan kaki. Dengan sandal, kaki terjaga dari kotoran. Dengan sandal, kaki terjaga dari duri yang menusuk kaki.
Setiap hari: baik di rumah, kantor, masjid, dan di tempat-tempat lainnya, sandal punya peran sangat penting. Sandal dikenakan untuk menjaga keselamatan kaki. Sandal rela diinjak setiap hari untuk menjaga yang memakainya.
Di rumah, pergi ke mana pun sandal selalu setia menemani. Ke masjid memakai sandal, bahkan masjid pun menyediakan sandal wudu bagi jamaah. Posisi sandal dalam kehidupan sehari-hari banyak dicari. Namun, ketika sandal sudah rusak, dirinya rela dibuang jauh-jauh.
Sandal mudah dikenakan oleh siapa pun. Bentuknya yang terbuka dan sederhana banyak mengajarkan sikap inklusif dan kesederhanaan. Sikap inklusif dalam diri manusia adalah modal awal untuk bergaul secara luas dan luwes.
Sandal dengan kondisinya yang terbuka, siap berkolaborasi dengan siapa pun. Sandal tidak sektoral, tapi lintas sektor. Sandal tidak menyapa satu agama, namun menyapa semua agama. Sikapnya bisa bergaul dengan lintas iman.
Baginya bukan kebablasan, namun membuka selebar-lebarnya untuk kemaslahatan banyak orang. Berbuat baik dalam konteks kemanusiaan, tidak hanya seiman, namun bergumul dengan berbagai varians iman. Tentu dengan memegang teguh imannya masing-masing.
Melalui sandal ini, manusia diajarkan olehnya bahwa sikap terbuka kepada semua orang adalah penting. Terbuka dalam konteks pergaulan sosial, bukan masalah keyakinan agama. Keyakinan agama cukup katakan “agamamu adalah agamamu. Agamaku adalah agamaku.”
Jargon itu jika menyangkut masalah keyakinan harus tegas, tidak bisa diganggu gugat. Namun, jika masuk ke ranah sosial, melalui sandal diajarkan untuk terbuka kepada siapa pun. Dirinya siap memberi manfaat kepada semua orang, meskipun harus menahan sakitnya diinjak.
Dirinya siap mengantarkan semua orang, meski di sisi lain harus rela menahan panas terik matahari di aspal jalanan. Keselamatan semua orang siap untuk dijaga. Baik dalam keadaan panas atau pun dingin. Semua kondisi selalu siap untuk memberi manfaat.
Tampilan sederhananya mampu mengantarkan pemakainya ke berbagai tempat. Entah itu ke tempat bersih atau ke tempat yang kotor. Dirinya tidak pernah mengeluh dan mengadu, namun selalu menerima keadaan.
Kesetiaannya tidak usah diragukan. Ke mana pun pergi pemakainya, selalu setia menemani. Kadang masuk ke tempat becek, alhamdulillah. Kadang masuk ke tempat licin, juga alhamdulillah.
Setiap keadaan disyukurinya. Baik dalam keadaan senang atau sedih. Ia dipakai tanpa pamrih, yang penting pemakainya sampai ke tujuan dengan selamat. Tujuan yang dikawal, tidak hanya tujuan jangka pendek, tujuan menengah dan jangka panjang pun selalu dihadapi dengan sikap terbuka.
Sandal selalu siap mengarungi keadaan, karena ia memiliki integritas yang mumpuni. Tidak mau dipasangkan dengan sembarang orang. Ia hanya mau dipasangkan sama orang yang selalu melengkapi kekurangan.
Saat sandal yang kanan di depan, sandal kiri berada di belakang. Begitu juga sebaliknya, saat sandal kiri di depan, sandal kanan ada di belakang. Keduanya pasangan serasi, saling melengkapi, saling menutupi kekurangan, dan tahu diri kapan harus di depan dan kapan harus di belakang.
Sandal tidak mau dipasangkan dengan yang berbeda visi. Dirinya hanya dipasangkan dengan yang satu visi. Haram baginya, sandal kiri bergerak ke Timur. Sementara sandal kanan bergerak ke Barat. Keduanya harus sama-sama bergerak ke arah yang sama, jika ingin sampai tujuan dengan selamat.
Warna kehidupan sandal selalu sama. Jika yang sebelah kanan putih, maka yang sebelah kiri pun harus putih. Jika sebelah kanan hitam, maka yang sebelah kiri pun harus hitam. Tidak boleh sebelah kanan hitam dan sebelah kiri putih. Namun, harus bergerak dengan warna kehidupan yang sama.
Jika dipaksa untuk ketemu antara sebelah kiri putih dan sebelah kanan merah, maka akan terjadi kehilangan keseimbangan. Bisa jadi sebelah kanan besar, dan sebelah kiri kecil. Bisa jadi sebelah kiri nomor sembilan, dan sebelah kanan nomor sepuluh.
Dipakai pun tidak akan memberikan rasa nyaman dan aman, malah bisa dijadi dibuang atau dijadikan bahan untuk mainan anak-anak. Masih bagus dijadikan mainan anak-anak, bagaimana jika dibakar, itu lebih tragis dan lebih menyakitkan. Semoga bermanfaat.
Trending Now