Konten dari Pengguna

Santri Kontekstual

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
22 Oktober 2025 10:25 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Santri Kontekstual
Santri kontekstual adalah santri yang karakternya sesuai dengan santri yang pernah mendalami ilmu agam di pondok.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Detik.com
zoom-in-whitePerbesar
Detik.com
Santri adalah siswa yang menuntut ilmu agama di pondok pesantren. Di mana ada santri, di situlah ada pondok pesantren. Di dalam pesantren ada Kyai sebagai pengasuh keilmuan santri. Santri mendapatkan ilmu agama dari Kyai. Saat santri diminta bantuan oleh Kyai, santri manut dan taat.
Dalam konteks sejarah perjuangan bangsa Indonesia, santri dan Kyai punya peran yang signifikan. Tidak berlebihan rasanya jika pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Joko Widodo, Nomor 22 Tahun 2015, menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri dalam rangka menghormati peran santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Di tanggal 22 Oktober tahun 1945 tersebut, tokoh besar KH. Hasyim Asy’ari mencetuskan resolusi jihad untuk melawan bangsa penjajah. Kini, setelah sepuluh tahun dari tanggal penetapan, geliat santri dalam mengisi kemerdekaan semakin nyata.
Mengisi kemerdekaan ala santri adalah belajar ilmu agama kepada kyai dengan betul-betul belajar. Belajar dari sebelum subuh sampai larut malam terus mengisi dengan ilmu-ilmu agama. Lulus dari pesantren, ilmu yang sudah dipelajari diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di pesantren, santri belajar tentang al-Qur’an, ilmu tauhid, fiqih, bahasa arab, ilmu nahwu, ilmu tafsir, usul fiqh, ilmu qiroat, tasawuf dan lain sebagainya. Namun, setelah menguasai ilmu tersebut, santri belajar mengamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Di masyarakat santri punya peran yang penting. Tidak sedikit santri menjadi imam dan pemberi ceramah di berbagai masjid. Bahkan, peran strategis santri tidak hanya di tingkat lokal, di tingkat nasional pun banyak ditemukan.
Sebut saja misalnya; Din Syamsudin, Mahfud MD, Nasaruddin Umar, Hidayat Nurwahid, KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Agil Siraj, KH. Said Agil Husen Al-Munawar dan berbagai tokoh lainya.
Para tokoh di atas saling berdialektika dengan konteks jamannya. Saling pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Pengaruh tokoh tidak hanya di wilayah lokal masyarakat, di tingkat nasional pun ikut andil mempengaruhi.
Pengaruh di tingkat lokal dengan perilaku dan akhlaknya. Sementara di tingkat nasional, dengan pandangan dan usulannya kepada pemerintah pusat. Pengaruh pada tingkat lokal, masyarakat banyak yang meniru dan mencontoh dalam masalah akhlak.
Pentingnya akhlak dalam bermasyarakat bisa menjadi mesin untuk mengembangkan berbagai instansi. Baik instansi pemerintah maupun swasta. Di sinilah pentingnya santri yang lulus dari pesantren itu menjadi teladan di lingkungan kerja.
Santri masuk ke lingkungan kerja, masuk dengan membawa teladan nyata. Ia disiplin, amanah, punya integritas, jujur, peduli, punya empati, loyal terhadap perintah ilahi, dan bisa membaktikan dirinya untuk masyarakat luas.
Pada gilirannya sikap itu, akan dicontoh oleh lingkungan kerja. Sikapnya akan dilihat oleh rekan kerja, atasan, lingkungan kantor, dan lingkungan masyarakat. Santri yang pernah belajar ilmu agama itu, akan menyantrikan lingkungannya di mana ia berada.
Dari sini timbullah kesalehan sosial santri masuk dan merembes ke berbagai ruang masyarakat. Pengaruh mempengaruhi tidak dapat dihindarkan antara santri dengan lingkungan kerjanya. Pada akhirnya, akan memberi pengaruh yang kuat kepada lingkungan kerja.
Santri yang dipondoknya salat tepat waktu , saat kerja ia akan tepat waktu. Sikap ini dicontoh oleh semua orang yang ada di kantor. Orang yang tidak mondok, meniru sikap santri dengan cara salat tepat waktu dan berjamaah.
Jadilah pengaruh santri menjalar ke berbagai rekan kerja. Tidak sedikit lingkungan kerja punya pesan kuat dari pengaruh sang santri. Jujur, amanah, adil, disiplin, bisa kerja sama dan lain sebagainya adalah karakter santri yang sudah biasa diasah di pondok.
Meskipun tidak dipungkiri, di luar santri ada rekan kerja yang seperti santri. Sikapnya santri dan perilakunya menunjukkan santri. Keteladanan, kejujuran dan karakter baiknya bahkan melebihi santri. Jadilah santri kontekstual.
Santri kontekstual, meski tidak pernah mondok, namun perilakunya seperti yang sudah khatam di pondok. Kejujuran dan integritasnya tidak diragukan lagi dalam mengawal pekerjaan di kantor.
Bagi santri kontekstual, kerja tidak sembarang kerja. Tapi kerja adalah wujud eksistensi nyata dari penjabaran sikap amanah, seperti amanahnya santri yang pernah mondok. Sikap dan karakter baiknya, bisa ditemukan di berbagai ruang publik.
Saat satpam bank menemukan sekantong uang, lalu uang itu dikembalikan kepada teller. Itu pun substansinya sudah menjadi santri. Saat pengemudi memberi jalan kepada pengendara lain, yang lebih membutuhkan, itu pun sudah menjadi santri.
Saat karyawan bekerja dengan penuh kesungguhan, sebagai bukti menjalankan amanah, itu pun sudah menjadi santri. Saat ada tetangga kelaparan, lalu diberi oleh tetangganya sebelahnya, itu pun sudah menjadi santri.
Santri lulusan pondok asli punya ikatan kuat dengan santri yang diterjemahkan dari bahasa Inggris, yaitu; Sun (matahari) dan three (tiga), yang merujuk pada tiga keharusan santri: iman, Islam dan ihsan. Pada poin ketiganya inilah, ihsan, diterjemahkan ke dalam kehidupan sosial yang berupa kesalehan sosial oleh santri kontekstual. Semoga bermanfaat.
Trending Now