Konten dari Pengguna
Sopan di Jalan, Taat di Hati: Urgensi Taqwa di Ruang Sosial
6 Agustus 2025 9:40 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sopan di Jalan, Taat di Hati: Urgensi Taqwa di Ruang Sosial
Takwa tidak hanya di masjid, di tempat pengajian, tempat berdoa bareng dan tempat lainnya. Tapi takwa juga harus menghiasai ruang publik lainya, seperti; pasar, acara nikahan, dan jalan raya. Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hiruk pikuk kehidupan di perkotaan tidaklah seindah yang dibayangkan oleh orang desa. Memang kehidupan di perkotaan menawarkan kehidupan yang indah dan cerah untuk masa depan. Namun di balik itu, banyak hal yang diperlu disikapi dengan pikiran terbuka dan hati yang jernih.
Pikiran terbuka dan hati yang jernih sangat dibutuhkan di perkotaan. Perkotaan tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, namun membutuhkan orang-orang yang cerdas dan mental bersahaja di berbagai kehidupan ruang sosial.
Kehidupan ruang sosial yang sifatnya bisa ketemu langsung tidak hanya bertatap muka antar tetangga, antar bagian dari suatu kantor perusahaan, antar bagian dari suatu keluarga, namun antar para pengendara yang ada di jalan raya.
Seperti yang kita maklum bersama, jalan raya di perkotaan saat hari kerja cukup padat. Kepadatan jalan raya membuat para pengendara harus berhati-hati dalam berkendara. Berkendara tidak asal menyetir, namun memerlukan pikir yang jernih.
Berkendara harus mempertimbangkan keselamatan, baik keselamatan diri maupun keselamatan pengendara lain. maka di sinilah diperlukan manusia yang beriman dan bertakwa.
Takwa tidak boleh hanya ada di masjid, tempat pengajian, tempat doa bareng, tempat bernaung sunyi di rumah, dan tempat-tempat lainnya.
Tapi takwa juga harus masuk ke berbagai ruang sosial, seperti; pasar, tempat kerja, tempat nongkrong di kafe-kafe, tempat adu balapan liar, tempat acara nikah dan tempa ruang sosial lainnya, termasuk takwa di jalan raya.
Hadist Nabi Muhammad SAW mengatakan “Bertakwalah kepada Allah di manapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.”
Hadist di atas menjelaskan bahwa takwa itu harus ada di berbagai tempat, termasuk jalan raya. Takwa di jalan di raya bagi orang bertakwa tidak asal melaju dengan kendaraan kerennya. Tapi orang bertakwa, sebelum berkendara ia mempersiapkan dulu segala-galanya.
Mulai dari kondisi mobil, bahan bakar, berdoa dan berpamitan kepada orang tercinta yang ada di rumah. Setelah siap semua, kemudian memanaskan kendaraan. Memanaskan kendaraan ibaratnya pemanasan sebelum olah raga.
Jika langsung olah raga tanpa pemanasan terlebih dahulu, maka dikhawatirkan akan mengalami cendera fisik. Begitu juga kendaraan, tidak boleh asal melaju sebelum kendaraannya benar-benar siap.
Jangan sampai kendara baru dihidupkan langsung tancap gas, itu namanya tidak berperik kendaraan. Kendaraan pun membutuhkan aba-aba mesinnya, jika langsung tancap boleh jadi mesinnya tidak tahan lama alias cepat rusak.
Setelah mesin kendaraan sudah benar-benar siap, baru kemudian kendaraan melaju dengan penuh perhitungan. Saat ketemu jalan turunan yang curam, utamakan dulu kendaraan yang akan naik. Setelah itu baru kita bergiliran. Tidak asal serobot, jika jalan dalam kondisi sempit.
Di jalan pun tidak boleh asal masuk, mentang-mentang kosong lalu asal masuk. Pas begitu masuk ke jalan itu, tidak sedikit pengendara terjebak dan membuat jalan menjadi macet.
Orang bertakwa harus lebih tertib dalam berlalu lintas. Ibaratnya, orang bertakwa itu adalah orang yang selalu mawas diri dan penuh perhitungan.
Tidak boleh asal mengambil keputusan di tengah jalan raya yang menyempit. Pikiran harus tetap jernih, meski orang yang sedang berkendara secara psikologi cenderung menjadi cepat marah dan tidak sabaran.
Di lampu merah harus berhenti, tidak boleh menerobos. Menerobos dikhawatirkan akan terjadi kecelakaan. Jika ada orang yang menyeberang jalan, berikan lampu hazard sebagai tanda bahwa di depan ada sesuatu yang perlu diwaspadai.
Orang bertakwa jika berkendara tidak terburu-buru. Sudut pandang agama, pekerjaan yang dilakukan secara terburu-buru, hasilnya tidak akan baik. Secara psikologi pun pekerjaan yang terburu-buru, hasilnya tidak akan maksimal.
Namun di sisi lain, terburu-buru ini sudah menjadi ciri khas orang yang hidup di perkotaan. Berkendara secara terburu-buru, kondisi jiwanya tidak akan stabil.
Kadang salah mengambil perhitungan. Berkendara di jalan raya tidak boleh ragu-ragu, hal itu membahayakan pengendara di belakangnya.
Berkendara harus penuh kesadaran. Belok kanan dengan sen kanan, penuh kesadaran. Belok kiri dengan sen kiri, penuh kewarasan. Tidak boleh sen mendadak. Memberi sen harus diberikan jarak aman. Agar pengendara di belakang mengetahui bahwa kita akan berbelok ke arah tertentu.
Orang bertakwa pribadi jiwanya rapih. Sikap jiwa yang rapih ini akan terbawa ke jalan raya. Orang bertakwa itu ibaratnya hidup dalam satu barisan yang rapih. Berkendara tidak zig-zag, tapi berada di jalurnya.
Jika menyenggol kendaraan lain, orang bertakwa akan berani tanggung jawab. Ia akan meminggirkan kendaraannya, lalu menyapa dengan hati yang tulus bahwa ia butuh pertolongan. Bukan malah kabur, mengambil langkah seribu, seperti orang yang dikejar maling.
Jika akan pindah jalur, ia selalu memberikan tanda belok berupa sen. komunikasi di jalan salah satunya adalah sen dan lampu. Sen dan lampu bagi pengendara sudah harus mengetahui fungsinya.
Jangan juga asal menyalakan lampu dan sen, sementara belum tahu arah dan maksud kita akan bergerak ke mana.
Semoga orang bertakwa tetap menyinari semesta, termasuk jalan raya, meski ia sedang berkeluh dalam kehidupannya. Namun, tangan tulusnya dan hatinya yang bening harus tetap memberi warna tertib bagi kehidupan di jalan raya. Semoga bermanfaat.

